VISI.NEWS | BANDUNG – Menunaikan ibadah umrah di bulan Ramadan menjadi pengalaman yang sangat istimewa bagi umat Muslim. Selain diyakini memiliki keutamaan pahala yang besar, suasana spiritual di Tanah Suci pada bulan suci ini terasa jauh lebih kuat dibandingkan bulan-bulan lainnya. Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah dipadati jamaah dari berbagai penjuru dunia, menciptakan atmosfer ibadah yang hidup hampir sepanjang waktu.
Ahmad (45), jamaah asal Jakarta, yang berangkat umrah pada Ramadan 1443 Hijriah mengaku umrah Ramadan memberikan kesan mendalam yang sulit dilupakan. “Dari subuh sampai malam, masjid tidak pernah sepi. Walaupun sangat sesak, rasanya hati justru lebih tenang,” ujarnya. Menurutnya, kepadatan jamaah menjadi simbol kuatnya persaudaraan umat Islam.
Suasana di sekitar Masjidil Haram selama Ramadan memang luar biasa padat, terutama menjelang waktu berbuka puasa dan shalat tarawih. Jamaah memenuhi pelataran masjid hingga ke jalan-jalan di sekitarnya. Arus manusia bergerak perlahan, namun tetap tertib. “Kadang untuk masuk area tawaf perlu kesabaran ekstra, tapi semua dijalani dengan ikhlas,” kata Siti (32), jamaah asal Bandung, yang berangkat pada Ramadan tahun lalu.
Salah satu hal yang paling dirasakan jamaah adalah berlimpahnya makanan gratis untuk berbuka puasa. Setiap sore, relawan membagikan kurma, roti, nasi, buah, yoghurt, hingga air zamzam dalam jumlah besar. “Makanannya gratis dan sangat melimpah. Tinggal duduk, nanti ada yang mengantar,” ujar Rahman, jamaah asal Makassar.
Momen berbuka puasa di Masjidil Haram menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Jamaah dari berbagai bangsa duduk berjejer, menikmati hidangan sederhana namun penuh keberkahan. “Sederhana, tapi rasanya luar biasa karena dimakan bersama ribuan orang dalam suasana ibadah,” tutur Lina (28) dari Aceh yang mengikuti program umrah Ramadan 1445 Hijriah.
Usai berbuka, jamaah bersiap mengikuti shalat tarawih yang menjadi salah satu daya tarik utama Ramadan di Tanah Suci. Di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, terdapat dua pilihan pelaksanaan tarawih, yakni 11 rakaat dan 23 rakaat. Jamaah bebas memilih mengikuti imam sesuai kemampuan dan niat masing-masing.
Tarawih 11 rakaat umumnya berlangsung lebih singkat dan menjadi pilihan jamaah lanjut usia atau mereka yang ingin menjaga stamina. Sementara tarawih 23 rakaat menawarkan bacaan Al-Qur’an yang lebih panjang, sering kali diikuti jamaah yang ingin merasakan ibadah malam secara lebih lengkap. “Keduanya sama-sama khusyuk, tinggal pilih sesuai kemampuan,” kata Ahmad.
Malam hari, Masjidil Haram semakin sesak oleh jamaah yang mengikuti tarawih, qiyamul lail, hingga tadarus Al-Qur’an. Meski harus berdiri lama dan berdesakan, banyak jamaah mengaku tidak merasa lelah. “Capek badan, tapi hati rasanya penuh,” ujar Rahman.
Pengalaman umrah Ramadan juga berlanjut di Madinah. Masjid Nabawi dipenuhi jamaah, terutama mereka yang ingin beribadah di Raudhah. Area yang dikenal sebagai taman surga ini hampir selalu sesak, dengan antrean panjang dan pengaturan ketat. “Raudhah penuh sekali, tapi saat bisa masuk dan berdoa di sana, rasanya luar biasa,” ujar Siti.
Kepadatan di Raudhah menjadi ujian kesabaran tersendiri. Jamaah hanya diberi waktu singkat untuk berdoa, namun momen itu dimanfaatkan sebaik mungkin. Banyak yang tak kuasa menahan air mata saat bersujud di tempat yang diyakini mustajab tersebut.
Di tengah sesaknya jamaah dan aktivitas ibadah, Ramadan di Tanah Suci juga menghadirkan suasana kebersamaan yang kuat. Jamaah saling berbagi tempat, membantu lansia, hingga saling menyapa meski berbeda bahasa. Suasana ini menumbuhkan rasa persaudaraan yang hangat di antara sesama Muslim.
Bagi banyak jamaah, umrah di bulan Ramadan bukan sekadar perjalanan ibadah, melainkan pengalaman spiritual yang membekas seumur hidup. Di tengah padatnya Masjidil Haram, sesaknya Raudhah, berlimpahnya makanan gratis, serta pilihan tarawih 11 dan 23 rakaat, Ramadan di Tanah Suci menghadirkan keasyikan dan ketenangan yang sulit ditemukan di tempat lain.
@uli












