Search
Close this search box.

USABC Dorong Penyelarasan Regional untuk Ekonomi Sirkular ASEAN

US-ASEAN Business Council. /visi.news/ist

Bagikan :

VISI.NEWS | JOHOR — Untuk mempercepat transisi Asia Tenggara menuju ekonomi sirkular, US-ASEAN Business Council (USABC) terus mendorong kolaborasi antara sektor swasta dan pemerintah. Tujuannya adalah mengembangkan sistem Extended Producer Responsibility (EPR) yang praktis dan ramah investasi, khususnya dirancang untuk mengoptimalkan pengelolaan siklus hidup produk kemasan di seluruh kawasan.

Penerapan sistem EPR yang efektif di Asia Tenggara menghadapi sejumlah tantangan, termasuk kompleksitas integrasi sektor informal pengelolaan sampah yang sangat besar, keterbatasan kapasitas serta dukungan institusional, dan kendala pembiayaan yang berkelanjutan. Selain itu, minimnya data sampah yang andal sangat menghambat penetapan target dan pengukuran kinerja, sehingga menyulitkan evaluasi dampak nyata dari upaya yang telah dijalankan.

“Kerangka EPR yang jelas, dapat diprediksi, diwajibkan pemerintah, dan dijalankan industri sangat penting untuk memperluas solusi ekonomi sirkular di ASEAN,” ujar Nugraheni Utami, Chief Country Representative untuk Indonesia, USABC. “Penyelarasan regional pada prinsip-prinsip inti, didukung pelaporan yang transparan, akan menciptakan kesetaraan bagi industri dan investasi dalam infrastruktur yang diperlukan guna membangun sistem EPR yang efektif dan inklusif serta mendorong hasil sirkular bagi kemasan.”

Seiring negara-negara anggota ASEAN meninggalkan model tradisional ‘ambil–buat–buang’, USABC menekankan pentingnya pendekatan terpadu. Standar yang selaras secara regional menumbuhkan kepercayaan bagi perusahaan untuk berinvestasi dalam infrastruktur daur ulang lokal, didukung aturan yang jelas dan konsisten sehingga memungkinkan pergerakan dan pertukaran material antar pasar dengan lebih lancar.

“Kerangka EPR Malaysia yang akan datang merupakan peluang untuk membangun sistem multi-material yang praktis, mampu mendorong dampak lingkungan, dan memberikan kepastian investasi,” tambah Tina Jamaluddin, Chief Country Representative untuk Malaysia, USABC. “Prinsip-prinsip yang saling diakui antarnegara ASEAN, yang dipadukan dengan fleksibilitas nasional, akan mengurangi fragmentasi dan mendukung implementasi yang efisien di seluruh kawasan.”

Baca Juga :  Jadwal Sholat DKI Jakarta Hari Ini, Jumat 6 Februari 2026

Para pemimpin industri juga telah menunjukkan komitmennya. “Mengatasi tantangan pengumpulan dan infrastruktur pengelolaan sampah sering kali kompleks, namun Coca-Cola tetap berkomitmen pada aksi kolektif untuk mempercepat kemajuan,” ujar Umesh Madhavan, Director Packaging Sustainability, Coca-Cola. “Di seluruh Asia Tenggara, bersama mitra pembotolan kami, kami bekerja sama dengan pemerintah, industri, pengelola daur ulang, dan LSM untuk memperkuat sistem dan infrastruktur pengumpulan serta daur ulang lokal. Upaya kami termasuk mendorong sistem EPR yang terstruktur dengan baik di Malaysia dan Indonesia, serta Deposit Return Systems (DRS) yang dirancang secara tepat di Singapura. Melalui investasi dan kemitraan berkelanjutan, kami berkomitmen membantu mengurangi sampah kemasan plastik.”

Sejumlah mitra kunci berperan penting dalam upaya ini, seperti Mahija Foundation (Mahija Parahita Nusantara) dan fasilitas daur ulang inovatif seperti Hiroyuki Industries di Malaysia serta Amandina Bumi Nusantara di Indonesia. Entitas-entitas ini menyediakan infrastruktur dasar dan kemampuan teknis yang vital bagi sistem EPR nasional yang kuat.

“Ekonomi sirkular harus bersifat inklusif dan etis. Di Mahija Foundation, kami menjalankan Responsible Sourcing Initiative untuk memastikan bahwa transisi dari pengelolaan sampah informal menuju formal tetap menempatkan manusia sebagai yang utama,” kata Ardhina Zaiza, Chairwoman Mahija Foundation. “Dengan menanamkan standar hak asasi manusia dan ketenagakerjaan yang adil langsung dalam rantai pasok, kami menyediakan transparansi yang dibutuhkan mitra seperti Coca-Cola Europacific Partners (CCEP) dan Amandina. Hal ini memastikan bahwa material berkualitas tinggi yang masuk ke rantai daur ulang tidak hanya berkelanjutan secara lingkungan, tetapi juga bertanggung jawab secara sosial, sekaligus mengangkat derajat para pemulung yang menjadi pahlawan dalam ekosistem ini.”

Meski perjalanan menuju ekonomi sirkular di Asia Tenggara memiliki tantangan tersendiri, momentum kolaboratif ini menunjukkan potensi besarnya. Dengan menyatukan para pemimpin industri, pembuat kebijakan, dan inovator daur ulang lokal, kawasan ini tengah membangun peta jalan yang praktis dan berfokus pada investasi. Aksi kolektif ini menjadi kunci untuk mengatasi hambatan serta mentransformasi siklus hidup kemasan demi Asia Tenggara yang lebih berkelanjutan dan inklusif, serta memelopori transformasi yang dipimpin industri menuju pengumpulan, daur ulang, dan penggunaan kembali material secara lebih efisien.

Baca Juga :  Ditembak dan Gading Hilang, Kematian Gajah Sumatera di Riau Jadi Ujian Serius Penegakan Hukum Lingkungan

@uli

Baca Berita Menarik Lainnya :