USWAH: Abu Musa Al Asy’ari, Lambang Keikhlasan dan Kejujuran (1)

Editor :
Ilustrasi./minanews.net/ist.

Silahkan bagikan

KETIKA Amirul Mu’minin Umar bin Khatthab mengirimnya ke Bashrah untuk menjadi panglima dan gubernur, dikumpulkannyalah penduduk lalu berpidato di hadapan mereka.

Katanya, “Sesungguhnya Amirul Mu’minin Umar telah mengirimku kepada kamu sekalian, agar aku mengajarkan kepada kalian kitab Tuhan kalian dan sunnah Nabi kalian, serta membersihkan jalan hidup kalian … !”

Orang-orang sama heran dan bertanya-tanya. Mereka mengerti apa yang dimaksud dengan mendidik dan mengajari mereka tentang agama, yang memang menjadi kewajiban gubernur dan panglima. Tetapi bahwa tugas gubernur itu juga membersihkan jalan hidup mereka, hal ini memang amat mengherankan dan menjadi tanda tanya.

Maka, siapakah kiranya gubernur ini, yang mengenai dirinya Hasan Basri r.a. pernah berkata, “Tak seorang pengendara pun yang datang ke Basrah yang lebih berjasa kepada penduduknya selain dia!”

Ia adalah Abdullah bin Qeis dengan gelar Abu Musa al-Asy­’ari. Ia meninggalkan negeri dan kampung halamannya Yaman menuju Mekah, segera setelah mendengar munculnya seorang Rasul di sana yang menyerukan tauhid dan menyeru beribadah kepada Allah berdasarkan penalaran dan pengertian, serta menyuruh berakhlak mulia.

Di Mekah dihabiskan waktunya untuk duduk di hadapan Rasulullah saw. menerima petunjuk dan keimanan darinya. Lalu pulanglah ia ke negerinya membawa kalimat Allah, baru kembali lagi kepada Rasul saw. tidak lama setelah selesainya pembebasan Khaibar.

Kedatangannya ini bersamaan dengan tibanya Ja’far bin Abi Thalib bersama rombongannya dari Habsyi, hingga semua mereka mendapat bagian saham dari hasil pertempuran Khaibar.

Kali ini, Abu Musa tidaklah datang seorang diri, tetapi membawa lebih dari limapuluh orang laki-laki penduduk Yaman yang telah diajarinya tentang agama Islam, serta dua orang saudara kandungnya yang bernama Abu Ruhum dan Abu Burdah.

Rombongan ini, bahkan seluruh kaum mereka dinamakan Rasulullah golongan Asy’ari, serta dilukiskannya bahwa mereka adalah orang-orang yang paling lembut hatinya di antara sesamanya. Dan sering mereka diambilnya sebagai tamsil perbandingan bagi para shahabatnya, sabda beliau, 

“Orang-orang Asy’ari ini, bila mereka kekurangan makanan dalam peperangan atau ditimpa paceklik, maka mereka kumpulkan semua makanan yang mereka miliki pada selembar kain, lalu mereka bagi rata. Maka mereka termasuk golonganku, dan aku termasuk golongan mereka!”

Mulai saat itu, Abu Musa pun menempati kedudukannya yang tinggi dan tetap di kalangan kaum muslim dan mukmin yang ditakdirkan memperoleh nasib mujur menjadi shahabat Rasulullah dan muridnya, dan yang menjadi penyebar Islam ke seluruh dunia, pada setiap saat.

Inilah sifat mulianya

Abu Musa merupakan gabungan yang istimewa dari sifat-sifat utama. Ia adalah prajurit yang gagah berani dan pejuang yang tangguh bila berada di medan perang. Tetapi ia juga seorang pahlawan perdamaian, peramah dan tenang, keramahan dan ketenangannya mencapai batas maksimal. @fen/sumber: minanews.net/bahron ansori

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

TAUSIAH (2/Habis): Arti Gibah, Dosa, dan Bagaimana Cara Taubatnya

Rab Sep 2 , 2020
Silahkan bagikanSETIAP orang pasti tidak suka makan bangkai. Kata fakarihtumuuh (فكرهتموه) menggunakan fi’il madhi (kata kerja lampau), menunjukkan bahwa perasaan jijik itu adalah sesuatu yang pasti semua orang merasakannya. “Yakni sebagaimana kamu tidak menyukai hal itu secara naluri, maka bencilah perbuatan tersebut demi perintah syara” tulis Ibnu Katsir ketika menafsirkan […]