USWAH: Abu Musa Al Asy’ari, Lambang Keikhlasan dan Kejujuran (3/Habis)

Editor Ilustrasi./minanews.net/ist.
Silahkan bagikan

ABU Musa beserta pasukannya tidak membuang waktu lagi menyerbu memasuki kota, pertempuran dahsyat terjadi, tapi tak berapa lama seluruh kota diduduki dan panglima beserta seluruh pasukannya menyerah kalah. Panglima musuh beserta para komandan pasukan oleh Abu Musa dikirim ke Madinah, menyerahkan nasib mereka pada Amirul Mu’minin.

Rajin taubat dan bersuara merdu

Tetapi baru saja prajurit yang kaya dengan pengalaman dan dahsyat ini meninggalkan medan, ia pun telah beralih rupa menjadi seorang hamba yang rajin bertaubat, sering menangis, dan amat jinak bagaikan burung merpati.

Ia membaca Alquran dengan suara yang menggetarkan tali hati para pendengarnya, hingga mengenai ini Rasulullah pernah bersabda, “Sungguh, Abu Musa telah diberi Allah seruling dari seruling-seruling keluarga Daud.”

Dan setiap Umar r.a. melihatnya, dipanggilnya dan disuruhnya untuk membacakan Kitabullah, “Bangkitkanlah kerinduan kami kepada Tuhan kami, wahai Abu Musa.”

Begitu pula dalam peperangan, ia tidak ikut serta, kecuali jika melawan tentara musyrik, yakni tentara yang menentang agama dan bermaksud hendak memadamkan nur atau cahaya Ilahi.
Adapun peperangan antara sesama Muslim, maka ia menyingkirkan diri dan tak hendak terlibat di dalamnya.

Abu Musa r.a. adalah orang kepercayaan dan kesayangan Rasulullah saw. juga menjadi kepercayaan dan kesayangan para khalifah dan sahabat-sahabatnya.

Sewaktu Rasulullah saw. masih hidup, ia diangkatnya bersama Mu’adz bin Jabal sebagai pemimpin di Yaman. Setelah Rasul wafat, ia kembali ke Madinah untuk memikul tanggung jawabnya dalam jihad besar yang sedang diterjuni oleh tentara Islam terhadap Persi dan Romawi.

Di masa Umar, Amirul Mu’minin mengangkatnya sebagai gubernur di Bashrah, sedang khalifah Utsman mengangkatnya menjadi gubernur di Kufah. Abu Musa termasuk ahli Alquran, menghafalnya, mendalami dan mengamalkannya.

Baca Juga :  Kisah Para Perempuan Afganistan 'Melawan Tradisi' (2)

Di antara ucapan-ucapannya yang memberikan bimbingan mengenai Alquran itu ialah, “Ikutilah Alquran dan jangan kalian berharap akan diikuti oleh Alquran.”

Ia juga termasuk ahli ibadah yang tabah. Waktu-waktu siang di musim panas yang panasnya menyesak napas, amat dirindukan kedatangannya oleh Abu Musa, dengan tujuan akan saum padanya, katanya, “Semoga rasa hawa di panas terik ini akan menjadi pelepas dahaga bagi kita di hari kiamat nanti.”

Pada suatu hari yang lembut, ajal pun datang menyambut Abu Musa. Wajahnya menyinarkan cahaya cemerlang, wajah seorang yang mengharapkan rahmat serta pahala Allah ar-Rahman. Rahmat yang selalu diulang-ulang, dan menjadi buah bibirnya, sepanjang hayatnya yang diliputi keimanan itu, diulang dan menjadi buah bibirnya pula di saat ia hendak pergi berlalu.

Kalimat-kalimat akhir yang diucapkan oleh Abu Musa itu ialah,“Ya Allah, Engkaulah Maha Penyelamat, dan dari -Mulah kumohon heselamatan.” Selamat jalan duhai sahabat mulia…jasa dari pengorbananmu untuk Islam dan kaum muslim akan selalu kami teladani. @fen/sumber: minanews.net/bahron ansori

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

TAUSIAH (1): Misteri Kehidupan Setelah Kematian

Jum Sep 4 , 2020
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Salah satu rukun iman yang wajib diyakini oleh umat Islam adalah iman kepada hari akhir. Tiap-tiap hamba Allah wajib percaya akan adanya kehidupan setelah kematian. Ustaz Ahmad Zainuddin Al-Banjary, dalam salah satu kajiannya menyebut membicarakan misteri kehidupan setelah kemudian sama halnya dengan membicarakan akidah atau iman kepada […]