USWAH: Kisah Kiai Desa yang Sangat Dihormati Anggota PKI

Editor Sejumlah jemaah melaksanakan zikir di Masjid Raya Medan, Sumatra Utara, Minggu (15/8). Berzikir merupakan salah satu aktivitas ibadah yang dilakukan umat muslim di bulan Ramadan./antara
Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Pergolakan politik memanas usai 1955. Politik identitas begitu kental, terlebih di Cilacap, PKI memenangkan Pemilu pertama 1955.

Usai itu, Cilacap dipimpin oleh bupati dari kubu pemenang pemilu. Merasa di atas angin, anggota PKI dan underbouw-nya mulai semena-mena. Anggota PKI semakin jemawa.

Pertentangan antara kubu politik semakin kentara pada 1960-an. Tekanan kepada kiai-kiai kampung dan pondok pesantren juga terus terjadi. Itu makanya, banyak kiai yang akhirnya mengungsi ke daerah lebih aman.

Tekanan oleh PKI dan underbouw-nya itu juga turut dirasakan oleh KH Najmudin, kiai kharismatik pengasuh Pondok Pesantren Bendasari, Pesantren yang berada di Desa Cilopadang, Kecamatan Majenang, Cilacap. Namun, ia tak mengungsi dan memilih bertahan.

Geger masa revolusi juga bertambah dengan keberadaan milisi Darul Islam atau Negara Islam Indonesia (NII) yang mulai merangsek ke Jawa Tengah. Di tempat asalnya, di Jawa Barat, DI/TII semakin terdesak oleh pasukan Siliwangi dan Raiders.

Majenang adalah wilayah perbatasan Jawa Tengah-Jawa Barat sehingga kekerasan berlangsung massif. Keadaan semakin sulit. Di satu sisi, KH Najmudin jelas tidak mau bergabung dengan PKI. Tetapi, di sisi lain, ia pun tak setuju dengan pendirian negara Islam.

KH Najmudin tetap istikamah di partai NU atau dulu disebut sebagai NO (Nahdlatul Oelama-ejaan lama). Partai yang dibikin oleh anggota ormas yang didirikan gurunya, Hadratusyaikh KH Hasyim Asy’ari.

KH Najmudin memang pernah mengaji langsung kepada Syaikhona Hasyim Asy’ari, di Pondok Pesantren Tebuireng. Bahkan, ia sempat dipercaya sebagai lurah pondok, meski hanya delapan bulan di pesantren legendaris ini.

Penghormatan Masyarakat

NU adalah partai Islam yang tetap menginginkan Indonesia sebagai NKRI dan berideologi Pancasila, NU anti-komunis, sekaligus juga tak hendak mendirikan negara khilafah.

Baca Juga :  Tim Kuasa Hukum Meradang Saat Jaksa KPK Minta Hak Politik Bupati Nonaktif Ade Yasin Dicabut

Kebetulan, kediaman KH Najmudin dan pesantrennya berada di pinggir jalan dari desa ke kawasan pertanian dan pasar. Makanya, jalan selalu ramai. Tiap hari ratusan orang dari berbagai wilayah menggunakan jalan ini.

Kala itu, atribut politik digunakan oleh petani, pedagang, buruh, hingga pekerja. Petani dan pedagang misalnya, mengatribusi tudungnya dengan lambang partai.

Dan anehnya, tiap orang, yang lewat di depan rumah KH Najmudin akan selalu turun dari sepeda. Kalau pelintas itu berjalan maka akan membungkuk. Itu berlaku untuk semua orang dari golongan mana pun, termasuk PKI.

Mereka takut Mbah Najmudin sedang berada di depan rumah sehingga mereka sudah bersiap berlaku sopan. Sudah menjadi kebiasaan, Mbah Najmudin menyapa orang-orang yang lewat, baik itu dari golongan NU, PNI, PKI, dan partai lainnya.

“Yang PKI ya ada tulisannya PKI, warnanya merah. Kalau PNI ya begitu, ada tulisannya. Kalau NU ya di tudungnya ada tulisan Pertanu,” ucap Masngudin, cucu keponakan KH Najmudin, beberapa waktu lalu, seperti dilansir Liputan6.com.

Di balik konsistensinya di Partai NU, KH Najmudin dikenal sebagai sosok kharismatik, sekaligus terbuka. Itu sebab, ia diterima oleh golongan mana pun, termasuk komunis. Bahkan, berbeda dari pesantren lain yang kerap ‘diganggu oleh PKI’, pesantrennya jauh dari marabahaya itu.

“Tidak ada yang jaga, karena banyak santri di situ. Orang PKI juga menghormati Mbah Najmudin,” dia mengungkapkan.

Kesaktian Sang Kiai

Penghormatan masyarakat luas kepada KH Njamudin tentu saja tak muncul begitu saja. Keistimewaan KH Najmudin telah terkabar hingga pelosok desa. Bahkan, itu terjadi sejak KH Najmudin berusia muda dan nyantri.

Ia dikenal karena kecerdasannya saat muda. Bahkan, ia tak pernah mondok di satu pesantren dalam waktu lama. Saat sudah mengasuh pesantren, KH Najmudin adalah ulama khos dengan bidang keilmuan yang lengkap. Mulai Ilmu Tauhid, Fiqih, Ilmu Alat, hingga Ilmu Hikmah (kesaktian).

Baca Juga :  Seorang Ketum Parpol Bilang Gimik, Reynaldi : Hormati Proses Hukum Migor Yang Sedang Berjalan

Salah satunya, kisah ketika KH Najmudin muda menyelamatkan dua kerabatnya yang hendak dieksekusi Belanda pada masa agresi militer 1948. KH Najmudin menyelinap masuk ke tangsi Belanda di Wanareja, dan membuka gembok berukuran besar tanpa diketahui tentara Belanda yang berjaga ketat.

“Itu ghoib. Ada campur tangan Mbah Najmudin,” ujarnya.

Penghormatan masyarakat juga menilik nasab KH Najmudin yang jika dilacak sampai kepada salah satu tokoh besar Wali Songo, Sunan Giri.

Pengaruh politik KH Hasyim Asy’ari tampak dari keistikamahannya mempertahankan pandangan politiknya di tengah tekanan komunis dan DII TII yang hendak mendirikan negara Islam. Di sisi lain, KH Najmudin adalah sosok kiai yang terbuka kepada orang lain.

“Mbah Najmudin mampu menjadi orangtua untuk semua. Semuanya menuakan Mbah Najmudin,” ucapnya.

Karib KH Maimoen Zubair

Barangkali, ini juga ada kaitan dengan didikan Syekh Ihsan Jampes, di mana ulama kharismatik lainnya, Syaikhona KH Maimoen Zubair, Sarang, Rembang juga mengaji.

Kenapa bisa demikian? Kedua ulama besar itu pernah mengaji di tempat yang sama. Syekh Ihsan Jampes adalah guru pertama KH Maimoen Zubair.

Di kemudian hari, Mbah Najmudin dan Mbah Maimoen juga sama-sama aktif di Partai Persatuan Pembangunan (PPP), setelah partai berhalauan Islam dilebur atau fusi dalam partai ini.

Bahkan, KH Maimoen sering bertandang ke Bendasari, ke kediaman KH Najmudin. Namun, Masngudin tak bisa memastikan agenda yang dibicarakan oleh kedua kiai tersebut.

Kedatangan KH Maimoen pun tak diacarakan khusus. Bahkan, kerap kali tak ada yang tahu bahwa Mbah Maimoen berada di kediaman Mbah Najmudin.

“Saya pernah kaget saat membuka pintu. Ternyata ada Mbah Mun di situ. Apa ada kaitannya kenapa sama-sama di PPP, saya tidak tahu,” Masngudin mengaku tidak bisa memastikan.

Baca Juga :  Densus 88 Tangkap Terduga Teroris Anggota JI di Bogor

Pesantren Bendasari masih ada dan bahkan terus berkembang. Kini namanya adalah Pondok Pesantren Elbayan. Di bawah naungan Yayasan Elbayan, didirikan berbagai pendidikan formal, mulai sekolah dasar hingga perguruan tinggi. @fen

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Tayangan Film G30S/PKI, Putri Jenderal Nasution: Kejadian Asli Sangat Menakutkan!

Rab Sep 30 , 2020
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Putri Sulung Jendral Besar A.H Nasution, Yanti Nasution, menyatakan bahwa malam kejadian Gerakan 30 September 1965 atau G30S/PKI sangat menakutkan. Menurut Yanti, kejadian G30S/PKI dan kemudian difilmkan hampir sepenuhnya benar. Sebagai saksi mata ia pun masih terbayang kejadian yang dialaminya beberapa puluhan tahun silam. “Kalau saya katakan (Film G30S/PKI) 70 persen […]