USWAH: Pelajaran Etika dari Perjalanan Hidup Umar bin Khaththab (2)

Ilustrasi./pixabay/via dakwatuna.com.
Jangan Lupa Bagikan

VISI.NEWS – Ketika Rasulullah saw. diutus, Umar termasuk salah seorang di antara musuh-musuh kaum muslim yang keras sekali.

Berkenaan istri dan anak-anak beliau, Ibnu Katsir berkata, “Jumlah anak Umar ada tiga belas orang, yakni Zaid (sulung), Zaid (bungsu), Ashim, Abdullah, Abdurrahman (sulung), Abdurrahman (pertengahan), az-Zubair bin Bakkar atau Abu Syahmah, Abdurrahman (bungsu), Ubaidullah, Iyadh, Hafshah, Ruqayyah, Zainab, Fathimah. Sedangkan, jumlah perempuan yang pernah Umar nikahi pada masa jahiliah dan Islam baik yang diceraikan maupun ditinggal wafat sebanyak tujuh orang.”

Setelah keislamannya, Umar ibnu al-Khaththab memiliki gelar al-Faruq (pembeda antara kebenaran dan kebatilan) sebab kepribadiannya menjadi lebih terasah dan lebih bersinar daripada masa sebelum keislamannya.

Dalam Islam, beliau bisa menemukan kecerdasan dan pedomannya. Bidangnya bukan lagi patung-patung bisu di sekeliling Kakbah atau urusan-urusan tidak bernilai di kota Mekah. Tetapi berubah, aktivitasnya berkaitan dengan “langit dan bumi” atau “abdullah dan khalifatullah”.

Titik sentral perjuangan beliau ialah agama yang dipahaminya dengan kecerdasan yang cemerlang bahwa beliau tidak akan berhenti di daerah gurun dan unta, melainkan agama ini akan terus menyebar ke wilayah Timur dan Barat hingga dunia ternaungi di dalamnya.

Terbukti, di bawah komandonya, perluasan daerah Islam mengalami kesuksesan yang gemilang. Pada masanya kekuatan-kekuatan yang bercokol lama di belantika peradaban dunia, seperti Persia dan Romawi, tunduk di hadapan umat Islam.

Banyak hal yang menjadikan Umar memiliki keistimewaan dalam luasnya cakrawala ilmu pengetahuan dan keberanian dalam memperluas medan kerja akal.

Misalnya saat beliau berijtihad dalam masalah-masalah yang tidak ada ketetapan nas-nya, pasti beliau berusaha untuk mengidentifikasi kemaslahatan yang menjadi motivasi ketetapan nas dalam Alquran dan As-Sunnah, kemudian menjadikan kemaslahatan yang teridentifikasi tersebut sebagai petunjuk dalam menetapkan hukum.

Dan masih banyak kisah tindakan-tindakan bijaksana beliau yang bisa ditemukan dalam berbagai literatur biografi Umar ibnu al-Khaththab.

Mengkaji Sebagian Perjalanan Hidup Umar ibnu al-Khaththab

1. Bukan Pembunuh Bayi Vs. Aborsi

Ada pertanyaan, apakah Umar ibnu al-Khaththab r.a. pernah mengubur bayi perempuannya hidup-hidup sebagaimana adat orang Arab jahiliah? Syaikh Utsman al-Khamis mengatakan, “Riwayat kisah Umar ibnu al-Khaththab mengubur bayi perempuannya hidup-hidup itu dari Jabir al-Ju’fi, seorang Syiah Rafidhah dan pendusta. Riwayatnya tidak diterima sebab kebid’ahannya sebagai seorang Rafidhah, dan sebab cacat dalam ucapannya sebagai pendusta.”

Salah satu dari istri Umar ibnu al-Khaththab yang dinikahinya di masa jahiliah ialah Zainab binti Maz’un, saudara perempuan Utsman bin Maz’un. Dari Zainab ini lahirlah bayi perempuan beliau yang bernama Hafshah sebagai anak yang paling besar dan dilahirkan lima tahun sebelum masa kenabian.

Mengapa Hafshah, anak perempuan tertua, dibiarkan hidup jika beliau dikatakan benci kepada anak perempuan? Dengan demikian, Umar ibnu al-Khaththab r.a. memang tidak pernah membunuh bayi perempuannya.

Hal ini juga dikuatkan oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr. Shalih al-Ushaimy (Dosen Aqidah di Arab Saudi) yang menyatakan bahwa riwayat dan tuduhan Umar ibnu al-Khaththab membunuh dan mengubur hidup-hidup bayi perempuannya di masa jahiliah adalah tidak benar atau kabar bohong.

Berangkat dari peristiwa itu, ada permasalahan yang bentuknya hampir sama dengan kejahiliahan ini, yakni aborsi. Secara definitif, aborsi ialah berhentinya (mati) dan dikeluarkannya kehamilan sebelum 20 minggu (dihitung dari hari terakhir) atau berat janin kurang dari 500 gr, panjang kurang dari 25 cm.

Dalam medis, aborsi diartikan sebagai berakhirnya suatu kehamilan sebelum viability, sebelum janin mampu hidup sendiri di luar kandungan, yang diperkirakan usia kehamilannya di bawah usia 20 minggu (WHO).

Berdasarkan laporan WHO tahun 2006, aborsi meningkat menjadi 2,3 juta kasus per tahun atau 6.301 kasus per hari setara 4 kejadian per detiknya. Penelitian Yayasan Kesehatan Perempuan pada tahun 2006 melaporkan bahwa 87% aborsi dilakukan oleh istri atau ibu dan 15-20% dilakukan oleh perempuan muda yang belum menikah.(bersambung)/@fen/sumber: dakwatuna.com

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Satu-satunya di Jabar, KPBS Pangalengan Bangun Rumah Sakit

Ming Okt 18 , 2020
Jangan Lupa BagikanKetua Dekopin Jabar, “Koperasi pertama yang memiliki rumah sakit di Jabar” VISI.NEWS – Koperasi Peternakan Bandung Selatan (KPBS) Pangalengan, merupakan koperasi pertama yang memiliki rumah sakit di Jawa Barat (Jabar). Hal tersebut diungkapkan Ketua Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) Wilayah Jabar Mustopa Djamaludin pada acara soft launching Rumah Sakit […]