USWAH: Pesan Ali bin Abi Thalib Sebelum Wafat di Bulan Ramadan

Editor :
Kuil Imam Ali menjadi tempat pemakaman Ali bin Abi Thalib. Kuil Imam Ali terletak di Najaf, Irak./via republika.co.id/ist.

Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad saw., Ali bin Thalib wafat pada bulan Ramadan tahun 40 Hijriah di tangan Abdurrahman bin Muljam. Sebelum meninggal, Ali meninggalkan beberapa pesan.

Pendiri Pusat Studi Alquran (PSQ), Prof M. Quraish Shihab dalam bukunya berjudul Kematian Adalah Nikmat menjelaskan ada sekian banyak pesan Sayyidina Ali yang dia sampaikan.

Pertama ia sampaikan untuk keluarganya. “Hai keluargaku…keluarga Abdul Muththalib. Jangan sampai kalian mengucurkan darah kaum muslim dengan dalih bahwa Amirul Mukminin terbunuh! Jangan sekali-kali seorang pun terbunuh kecuali pembunuhku.”

Selanjutnya, dia berpesan kepada putra tertuanya, Sayyidina al-Hasan. “Jangan sekali-kali mencincang si pembunuh. Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, Hati-hatilah, jangan mencincang, walau yang kamu bunuh adalah anjing gila.”

Sementara dalam riwayat lain menyatakan Sayyidina Ali berpesan, “Wahai manusia, setiap orang pasti menemui (kematian) yang hendak dielakkannya dengan melarikan diri. Kematian adalah tempat di mana hidup menggiring kita ke sana. Melarikan diri darinya berarti menangkapnya (karena waktu yang digunakan berlari semakin memperpendek jarak pertemuan dengannya).

Wasiat saya menyangkut Allah, adalah jangan sekali-kali mempersekutukan-Nya dengan sesuatu dan sedikit apa pun. Sementara menyangkut Nabi Muhammad saw., jangan mengabaikan sunah dia. Peganglah pada kedua tiang itu dan nyalakan kedua lampu. Tiada keburukan akan menimpa kamu selama kalian tidak mengabaikannya. Hendaklah setiap orang memikul bebaannya, beban itu telah diperingan bagi orang-orang bodoh oleh Tuhan Maha Pengasih.

Agama (yang kita anut) lurus, sedang imam kita (yakni Rasulullah saw.) sangat arif. Kemarin saya bersama kalian, hari ini saya menjadi pelajaran buat kalian dan esok saya akan meninggalkan kalian. Apabila kaki tetap kukuh di tempat yang licin ini, maka itulah pucuk cita dan bila ia tergelincir, maka itu karena ulah kita.

Baca Juga :  Rumah Mewah Cristiano Ronaldo Disatroni Maling

Kita berada di bawah tudung awan yang lapis-lapisannya terserak di langit serta jejak-jejaknya lenyap di bumi sehingga wajar jika kita pun mengalami hal serupa (yakni meninggal dunia).

Saya adalah tetangga kalian, beberapa hari jasad saya menemani kalian, lalu kalian akan mendapatkan badan saya ditinggal oleh ruh, dia akan terdiam, tanpa gerak, membisu tak bersuara. Itu semua agar keterdiaman itu, ketiadaan kedip mata saya, kelumpuhan anggota tubuh saya, semua itu menasihati kalian.

Itulah nasihat dan peringatan yang lebih unggul dari kalimat yang fasih, yang lebih mampu daripada ucapan apa pun yang dapat terdengar.

Perpisahan saya dengan kalian adalah perpisahan seorang yang rindu menanti pertemuan (dengan kekasih). Besok kalian akan menilai hari-hari saya dan menyingkap tabir batin saya. Besok kalian akan mengenal saya setelaah kosongnya jabatan ini dan datangnya orang lain di tempat saya.” @fen/sumber: republika.co.id

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Arab Saudi Terapkan Layanan Berteknologi untuk Jemaah Umrah

Rab Apr 21 , 2021
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Presidensi Umum Urusan Masjidilharam dan Masjid Nabawi memanfaatkan teknologi modern untuk melayani jemaah umrah dan salat. Otoritas menyediakan aplikasi ‘Tanaqul’, sebagai tempat untuk memesan kendaraan listrik dan non-elektrik, untuk melakukan tawaf dan sai di dalam Masjidilharam. Departemen Layanan Mobilitas telah menyediakan lantai berbahan mezzanine di lantai pertama […]