Viral!, Seorang Kades Perempuan Disekap Warga, Ini Penyebabnya

Editor Kades Elok Suciati dievakuasi dari kantor desa dengan kawalan ketat petugas kepolisian. /visi.news/redho fitriyadi
Silahkan bagikan

VISI.NEWS | SIDOARJO – Puluhan aparat kepolisian dari Polsek Buduran dan Polresta Sidoarjo mengevakuasi Kepala Desa Sidokepung, Elok Suciati pada Rabu (24/5/2023) malam. Peristiwa tersebut berlangsung di kantor balai Desa Sidokepung, Kecamatan Buduran, Sidoarjo.

Hal itu terjadi lantaran Kades Sidokepung, Elok Suciati sejak Selasa (23/5/2023) pukul 21.00 WIB hingga Rabu (24/5/2023) pukul 03.00 dinihari WIB tidak bisa keluar dari kantor balai desa. Akhirnya, setelah butuh perjuangan, pukul 03.15 dinihari WIB, Elok berhasil keluar kantor setelah dikawal oleh aparat kepolisian setempat.

Kepala Desa Sidokepung Elok Suciati menjelaskan bahwa beberapa warga yang mendatangi Balai Desa Sidokepung itu adalah mereka yang tanahnya masih berstatus sengketa, namun ingin tetap diloloskan dalam program PTSL.

“Kalau kaya gitu kan salah besar. Jadi kemarin itu, mereka memaksa panitia diganti semua dan disekap sebanyak lima orang termasuk saya,” kata Elok saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Kamis (24/5/2023).

Ketika balai desa digembok, Elok mengaku menelepon Kapolsek Buduran untuk membantu mengawal adanya keributan di Balai Desa Sidokepung.

“Nah pas digembok, saya telepon ke Kapolsek dan Kapolres akhirnya mereka mendatangkan pasukannya untuk mengawal supaya panitia bisa keluar dari balai desa,” ujar Elok.

Elok juga menjelaskan, pagar balai desa mulai digembok Selasa (22/5/2023) sekitar pukul 21.00 WIB.

Akibatnya, seluruh panitia PTSL serta perangkat desa tidak bisa keluar dari balai desa. Dirinya baru bisa keluar saat berhasil dievakuasi oleh polisi pada Rabu (24/5/2023) sekitar pukul 03.00 dini hari WIB.

Selain itu, kata Elok, beberapa orang yang mendatangi balai desa juga melakukan perusakan sepeda motor milik panitia PTSL.

“Hari ini (kemarin, red) akan dilaporkan ke Polresta Sidoarjo sama panitia supaya tidak begitu lagi, karena hampir setiap hari mereka mendatangi balai desa,” ujar dia.

Baca Juga :  Komisi III Minta Tragedi Kanjuruhan Harus Diusut Sampai Tuntas

Kapolsek Buduran Heri Setyo Susanto menyampaikan, pihaknya menyiagakan beberapa petugas kepolisian untuk berjaga di balai desa untuk mengantisipasi kejadian serupa.

“Untuk saat ini ada petugas yang berjaga. Dari kami sekitar empat orang petugas, penyanderan kemarin Alhamdulilah tidak sampai ricuh,” tutur dia.

Sebelumnya, beredar video aksi demo belasan oknum warga di Kantor Desa Sidokepung. Dalam video tersebut, massa sedang menyuarakan aksinya di depan kantor desa dan di dalam kantor desa.

Dengan pengawalan aparat kepolisian, akhirnya aparat desa dan Kades berhasil dikawal keluar kantor balai desa. Hal tersebut dipicu oleh aksi protes warga atas kinerja kepala desa yang dinilai gagal. Salah satunya soal pengurusan surat-surat sertifikat di program PTSL yang tak kunjung beres.

Samsul, Sekertaris Desa (Sekdes) Sidokepung saat dikonfirmasi terkait beredarnya video telah membenarkan hal tersebut. Ada belasan oknum warga mendatangi kantor desa, kemudian menggembok pintu pagar utama. Sehingga, kepala desa dan sejumlah staf tidak bisa keluar selama kurang lebih 6 jam.

“Awal mula panitia PTSL didatangi oleh warga ke kantor desa. Intinya, mereka menuntut panitia mundur karena ketua panitia tidak bisa dihubungi. Hal tersebut dianggap merugikan warga yang sedang mendaftar program PTSL. Alhasil, perangkat desa dan kepala desa tidak bisa meninggalkan tempat karena pagar digembok oleh warga,” ungkap Samsul, Kamis (25/5/2023).

Dalam proses keluar kantor desa, kades dan staf harus lompat pagar karena hingga menjelang subuh pagar masih digembok.

“Rencananya saya mau ke kantor Kecamatan Buduran, untuk melaporkan kejadian tersebut serta meminta petunjuk dari Camat Buduran bagaimana solusi yang terbaik atas insiden ini,” jelasnya.

Adapun Santoso, salah satu warga Sidokepung, merasa kecewa karena sebagai pemohon PTSL tidak mendapatkan pelayanan yang serius dari perangkat desa setempat.

Baca Juga :  Terkait PSBB, Pemkab Bandung Akan Patuh Pada Pusat

”Kami merasa kecewa atas kinerja dari kepala desa. Kami sepakat melakukan aksi demo hingga warga menutup balai desa dan menggembok pintu dan pagar balai desa, hingga bu kades tidak bisa pulang,” pungkasnya.@redho

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

NGOPI (NGOBROL PINTAR) | Ketika Hoaks Menyerang Bupati Dadang Supriatna

Jum Mei 26 , 2023
Silahkan bagikanOleh Deden Suwandi AKHIR-AKHIR ini Bupati Bandung Dadang Supriatna kerap diterpa isu kursif (miring). Banyaknya hoaks dan fitnah yang menerpa Bupati Dadang Supriatna menjadi cermin ketidakdewasaan dalam berpolitik. Baik pihak yang menyebar dan mempercayai serangan hoaks, membuktikan seberapa berkualitas tingkat kematangan intelektual dan emosional. Serangan yang ofensif dialamatkan kepada […]