- Ambigu Sekaligus Anomali Pendidikan Indonesia
Oleh Drajat
- Guru
- Doktor Ilmu Pendidikan
- Wasekjen Komnasdik
- Hipnoterapis
- Mindshaper Nusantara
- APKS PGRI Prov. Jabar
SUATU hari, seorang anak berlari kecil menuju gerbang sekolah. Matanya berbinar. Mulutnya riang. Seolah hari itu bukan sekadar hari biasa, melainkan hari raya kecil yang ditunggu-tunggu.
“Asyik… ada MBG datang!”
Kalimat itu sederhana. Namun ia seperti mewakili suara banyak peserta didik lainnya. Bahwa ada satu hal yang benar-benar dinantikan di sekolah—bukan matematika, bukan IPA, bukan Bahasa Indonesia, apalagi ujian. Yang ditunggu: MBG, Makan Bergizi Gratis. Dan kita tentu paham mengapa. Gratis makan setiap hari.
Bagi banyak anak, itu bukan hanya soal menu. Itu soal rasa aman. Soal perut kenyang. Soal harapan. Soal kebahagiaan yang mungkin tidak selalu hadir di rumah. Di titik ini, MBG adalah program yang mulia. Tidak ada yang ingin anak belajar dengan perut kosong. Tidak ada yang ingin anak menahan lapar sambil menyimak guru menjelaskan rumus atau membaca teks panjang. Nutrisi itu penting. Bahkan sangat penting.
Namun pendidikan, seperti kehidupan, jarang sesederhana niat baik. Di balik sorak-sorai anak-anak itu, ada sisi lain yang diam-diam tumbuh: ambigu. Bahkan, bisa menyebutnya: anomali.
Ketika MBG datang, yang kenyang bukan hanya perut anak-anak—tapi juga jadwal sekolah yang “penuh sesak”. Penuh gangguan. Penuh interupsi. Penuh penyesuaian yang tak jarang membuat pembelajaran… tersingkir.
Kita perlu jujur. Dalam praktik di lapangan, MBG sering menyita waktu yang tidak sedikit. Bukan 10 menit. Bukan 20 menit. Tapi bisa mencapai 2 jam pelajaran. Bahkan ada yang lebih. Bayangkan: sekolah punya jam belajar terbatas. Materi banyak. Target kurikulum ketat. Asesmen menunggu. Guru berpacu dengan kalender akademik. Lalu datang MBG. Anak-anak berhenti belajar. Guru berhenti mengajar. Semua sibuk. Bukan salah anak. Bukan salah guru. Ini konsekuensi sistem.
Dan di sinilah problemnya: kita sedang mengorbankan nutrisi kecerdasan demi nutrisi perut, seolah keduanya tidak bisa berjalan bersama. Padahal harusnya bisa. Bahkan wajib bisa. Yang terjadi kemudian mudah ditebak. Anak-anak mulai membangun “pola pikir baru”:
“Kapan MBG dibagi?”
“Setelah MBG, kapan pulang?”
“Pak, cepat dong… nanti keburu MBG.”
Akhirnya sekolah terasa seperti ruang tunggu: menunggu makan, menunggu pulang. Jika ini berlangsung terus-menerus, jangan kaget bila pembelajaran kehilangan wibawanya. Guru kehilangan momentumnya. Dan peserta didik kehilangan fokusnya.
Kita tidak menolak MBG. Tidak. Program ini baik. Bahkan sangat baik. Namun yang harus kita kritisi adalah eksekusinya. Karena pendidikan bukan hanya soal memberi. Tapi soal mengelola. Soal menimbang dampak. Soal mengatur prioritas.
Jika program MBG masuk sekolah tanpa desain yang matang, tanpa SOP yang disiplin, tanpa manajemen waktu yang presisi, maka yang terjadi bukan pemberdayaan, melainkan gangguan sistemik. Seolah sekolah ini punya dua kurikulum: Kurikulum resmi: literasi, numerasi, karakter, kompetensi. Kurikulum tidak tertulis: “jadwal MBG”.
Yang kedua sering lebih ditunggu. Ini lucu. Tapi sekaligus mengkhawatirkan. Di beberapa sekolah, guru bukan hanya mengajar. Guru juga ikut mengurus MBG. Mengatur antrean. Memastikan pembagian. Menertibkan siswa. Menghitung paket. Mengawasi. Kadang ikut membersihkan. Bahkan ada yang ikut jadi “koordinator lapangan”.
Lalu pertanyaannya sederhana: Apakah guru dilatih untuk itu? Guru adalah pendidik profesional. Ia harus fokus pada proses belajar, pendampingan emosi anak, pembentukan karakter, dan pencapaian kompetensi. Jika guru disibukkan dengan urusan teknis MBG, maka energi guru habis sebelum mengajar.
Yang lebih ironis, ada seloroh yang mulai terdengar: “Lebih baik jadi petugas MBG daripada jadi guru honorer atau guru P3K.” Seloroh memang seloroh. Tapi biasanya seloroh lahir dari rasa yang nyata: ketidakadilan, ketimpangan, dan luka profesionalisme.
Anomali: Dana Pendidikan, Tapi Pendidikan Terlewatkan
Inilah bagian yang paling menggelitik sekaligus menyakitkan. MBG dibiayai dari anggaran besar. Kita semua tahu itu. Dan sering kali dikaitkan dengan “dana pendidikan”.
Pertanyaannya: Jika uang besar digelontorkan atas nama pendidikan, mengapa proses pendidikannya justru terganggu? Bukankah dana pendidikan seharusnya memperkuat: kualitas guru, sarana belajar, laboratorium, perpustakaan, literasi, pelatihan pedagogik, kesejahteraan tenaga pendidik, dan ekosistem pembelajaran?
Namun yang terlihat di lapangan, kadang sekolah seperti “panggung distribusi”. Pendidikan menjadi latar belakang. Ini yang saya sebut sebagai anomali pendidikan: program baik yang justru berpotensi melemahkan inti pendidikan jika tidak ditata dengan benar. Kita sedang mengobati satu masalah (gizi), tetapi berpotensi menumbuhkan masalah baru (penurunan kualitas belajar).
Penulis sampaikan dengan jujur dan terang: Anak yang kenyang tapi tidak belajar, adalah risiko besar bangsa. Karena gizi tanpa pendidikan akan melahirkan generasi kuat secara fisik, tetapi rapuh secara berpikir. Dan bangsa yang rapuh secara berpikir akan mudah dikendalikan, mudah ditipu, mudah terpecah, dan sulit maju. Sekolah seharusnya bukan hanya tempat makan, tapi tempat tumbuh. MBG boleh jadi penguat. Tapi tidak boleh menjadi pusat.
Evaluasi: Sudah Sejauh Mana?
Pertanyaan yang sering tidak ditanyakan: Sudah sejauh mana evaluasi MBG dilakukan? Apa indikator keberhasilannya? Apakah benar berdampak pada konsentrasi belajar? Apakah benar meningkatkan kehadiran? Apakah benar meningkatkan capaian literasi dan numerasi? Apakah ada penurunan jam efektif pembelajaran? Bagaimana desain agar tidak mengganggu pembelajaran?
Evaluasi bukan untuk menyalahkan. Tapi untuk menyempurnakan. Jika pemerintah menutup mata pada dampak sampingnya, maka program ini bisa menjadi seperti obat yang dosisnya berlebihan: niatnya menyembuhkan, tapi efek sampingnya melemahkan organ lain.
MBG harus tetap berjalan, namun dengan penataan yang kuat. Beberapa solusi yang realistis: Waktu pembagian harus ketat dan singka, misalnya maksimal 20–30 menit, bukan 2 jam pelajaran. Petugas khusus MBG, guru tidak boleh menjadi operator utama. Guru harus mengajar. SOP distribusi yang efisien, antrean rapi, paket siap, pembagian cepat, bersih, dan disiplin. Integrasi edukatif, MBG bisa jadi media pendidikan: gizi, kebersihan, adab makan, budaya antre, tanggung jawab. Monitoring jam efektif belajar, pastikan tidak ada pelajaran yang “hilang” tanpa kompensasi. Transparansi anggaran dan evaluasi publik, agar program ini dipercaya dan tidak menimbulkan prasangka sosial.
Catatan akhir, jangan sampai sekolah berubah fungsi menjadi tempat menunggu makan, bukan tempat menumbuhkan ilmu. MBG itu asyik. Benar. Anak-anak bahagia. Itu kabar baik.
Namun jika MBG membuat pelajaran terganggu, membuat guru kehilangan fokus, membuat sekolah kehilangan marwah, maka “asyik” itu harus segera diperbaiki. Karena pendidikan bukan sekadar memberi makan. Pendidikan adalah memberi arah hidup. Dan bila bangsa ini ingin maju, maka program sebaik apa pun harus tunduk pada satu tujuan utama: mencerdaskan kehidupan bangsa.***












