Oleh Aep S. Abdullah
JADI begini, ada ustaz bilang:
“Sesungguhnya Allah Maha Pemberi Rezeki…”
Tapi rezeki dia datangnya bukan dari jamaah…
Melainkan dari “Korupsi berjamaah”!
Dan kalau ditanya, dia santai jawabnya:
“Semua rezeki itu titipan Allah, tinggal kita pandai-pandai menjemputnya… walaupun pakai proposal fiktif.”
Jadi kalau ada ustaz yang ceramahnya tentang zuhud,
Tapi rumahnya nampak mirip hotel syariah bintang delapan,
Itu bukan ustaz… itu CEO Spiritual.
Lengkap dengan KPI: Korupsi Penuh Iman.
Di Indonesia, kita cinta ulama. Kita hormat sama ustaz, apalagi yang bisa ngelawak sambil bawa dalil. Tapi kalau lawakannya sudah masuk ke pengadaan fiktif dan markup kegiatan pelatihan, itu bukan lucu, itu musibah berjamaah. Ustaz bukan hanya penyampai ilmu, tapi juga panutan akhlak. Kalau ustaz korupsi, apa kabar muridnya?
Dalam Islam, korupsi bukan cuma dilarang, tapi diharamkan keras. QS. Al-Baqarah: 188 Alloh berfirman,
“Janganlah kamu memakan harta sesama kamu dengan jalan yang batil… “.
Dan jangan lupa, Rasulullah SAW bersabda,
“Barang siapa di antara kalian yang kami angkat menjadi pemimpin atas suatu urusan, lalu dia mengambil sesuatu dari itu secara tidak halal, maka itu adalah pengkhianatan.” (HR. Muslim)
Nah, kalau sudah khianat, terus ceramah tentang amanah, itu bukan taubat, itu plot twist.
MUI juga sudah mengeluarkan fatwa: Korupsi itu haram.
Kenapa? Karena merugikan umat, menghancurkan kepercayaan, dan membuat donatur kehilangan iman.
Jamaah jadi bingung: “Ini ustaz ngajarin sabar… atau ngajarin sabar nunggu dana cair?”
Korupsi bukan cuma soal milyaran di DPR.
Korupsi itu juga ketika dana hibah dipakai buat beli sepeda listrik.
Ketika uang kencleng malah nyasar ke rekening istri muda.
Ketika ustaz bilang “amanah,” tapi rekeningnya lebih aktif dari rekening TikTok Shop.
Jangan pikir “ah, ini cuma lima juta, cuma sedikit.”
Lah, dosa itu enggak ditimbang di ATM.
Di akhirat, bukan besarnya duit yang dihitung, tapi beratnya pengkhianatan.
Lucunya, ada juga yang bilang:
“Saya enggak korupsi, cuma mengambil hak saya yang disembunyikan negara.”
Kalau begitu, maling motor juga bisa bilang:
“Ini bukan mencuri, ini cuma redistribusi kendaraan pribadi.”
Terakhir, mari kita renungkan hadits Rasulullah SAW:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
Jadi, jangan main-main jadi pemimpin umat, kalau akhirnya malah mimpin jamaah ke LP kelas VIP.
Visi CEO Spiritual seharusnya bukan “Kaya dari dakwah,”
Tapi “Berkah karena dakwah.”
Ilmu itu cahaya, bukan celengan.
Amanah itu beban, bukan sumber penghasilan tambahan.
Semoga kita semua, baik ustaz, jamaah, pejabat, maupun rakyat biasa, bisa menjaga diri dari godaan korupsi, dan memilih jalan keberkahan. Karena sesungguhnya, amplop hasil korupsi itu ringan di tangan, tapi berat di hisab.***