Search
Close this search box.

VISI | Era AI: Kepercayaan Jadi Modal Utama Berita

AI telah memberikan dampak besar terhadap organisasi media dan praktik jurnalisme. Sebuah artikel tunggal akan kehilangan nilainya ketika AI mengambil satu berita tersebut bersama ratusan berita sah lainnya untuk menciptakan konten yang disesuaikan bagi konsumen. /visi.news/gerd altmann/pixabay

Bagikan :

Oleh Sora Park (University of Canberra), TJ Thomson (RMIT University)

KECERDASAN buatan (AI) dengan cepat mengubah cara informasi disampaikan kepada masyarakat dan bagaimana mereka mengonsumsinya. Ringkasan AI—yang oleh Google disebut sebagai “AI overviews”—misalnya, kini semakin populer dan dinormalisasi sebagai cara menemukan informasi. Namun, hasil pencarian yang diringkas oleh AI kerap menyajikan fakta yang keliru atau tidak akurat.

Ringkasan AI tersebut juga mengurangi lalu lintas kunjungan ke situs web, yang dapat berdampak pada keberlanjutan finansial jurnalisme. Hal ini terjadi karena AI mengakses konten—bahkan terkadang konten berbayar—dan mengemas ulang informasi tersebut dalam format yang ringkas dan mudah dicerna oleh pembaca.

Dari sudut pandang konsumen, sering kali tidak ada kebutuhan (atau waktu) untuk mengklik konten asli, dan mereka juga jarang berupaya mencari sumber secara langsung. Akibatnya, nilai sebuah berita individual menjadi mendekati nol.

Organisasi berita kini menghadapi tantangan pendapatan baru: bagaimana menciptakan nilai di dunia zero-click.

Kepercayaan terhadap berita di era AI

Untuk beradaptasi dengan tantangan baru dalam menciptakan nilai, organisasi berita berusaha menekan biaya dan menyederhanakan alur kerja dengan memanfaatkan teknologi AI yang sama.

Ironisnya, langkah ini justru memicu penurunan kepercayaan dan meningkatnya sikap skeptis publik.

Dalam Digital News Report: Australia tahun ini, kami menanyakan kepada responden bagaimana pandangan mereka terhadap berita yang sebagian besar diproduksi oleh AI dibandingkan dengan berita yang sepenuhnya dibuat oleh jurnalis manusia. Secara keseluruhan, hampir setengah responden (47 persen) menilai berita berbasis AI lebih murah untuk diproduksi, dan sepertiga responden (33 persen) menganggapnya lebih mutakhir. Namun, banyak pula yang menilai berita AI kurang dapat dipercaya (43 persen), kurang akurat (38 persen), dan kurang transparan (37 persen) dibandingkan berita yang diproduksi oleh manusia.

Baca Juga :  Babak Pertama, Persib Tertinggal 0-1 dari Ratchaburi di 16 Besar ACL Two

Kami juga mewawancarai puluhan anggota audiens untuk memahami pengalaman dan reaksi mereka terhadap AI secara lebih mendalam. Selain kekhawatiran terhadap akurasi informasi AI, audiens berita juga mencemaskan persoalan bias algoritmik.

Salah satu partisipan mengatakan, “Sebagai manusia, setiap orang memiliki bias, dan kita berusaha sebaik mungkin untuk mengendalikannya. Namun, sesuatu seperti AI justru akan memperbesar bias tersebut, tergantung pada bagaimana pertanyaan diajukan.”

Gambar 1: Persepsi terhadap Berita AI (%)

image1
Sumber: Digital News Report: Australia 2025. /visi.news/ist

AI menambahkan lapisan ketidakpastian baru bagi audiens berita yang sebelumnya sudah merasa kewalahan oleh derasnya arus misinformasi dan keterbatasan kemampuan mereka untuk membedakan berita berkualitas.

Seorang partisipan menyampaikan, “Saya pikir di situlah sebagian masalahnya. Saya tidak tahu di mana AI digunakan. Saya juga tidak bisa memastikan apakah saya pernah melihat artikel yang dihasilkan AI, karena saya tidak bisa membedakan mana yang ditulis manusia dan mana yang ditulis oleh AI.”

Dalam ekosistem informasi yang dimediasi oleh AI, kecuali organisasi berita melakukan perubahan mendasar terhadap cara mereka menjalankan bisnis, mereka akan kehilangan nilai di mata audiens. Sebuah artikel tunggal tidak lagi bernilai ketika AI menggabungkannya dengan ratusan berita sah lainnya untuk menciptakan konten yang dipersonalisasi bagi konsumen.

Peran manusia dalam jurnalisme

Mempertahankan status sebagai merek tepercaya—tempat orang datang ketika mereka benar-benar membutuhkan kebenaran—adalah sesuatu yang tidak dapat diberikan oleh AI. Di sinilah peran jurnalis manusia menjadi penting. Riset menunjukkan bahwa publik masih menginginkan jurnalis manusia dalam proses produksi berita. Sebanyak 43 persen responden merasa nyaman jika berita diproduksi oleh jurnalis dengan bantuan AI. Angka ini turun menjadi 21 persen jika berita sebagian besar diproduksi oleh AI dengan sedikit pengawasan manusia.

Baca Juga :  Bacaan Qunut Arab Latin Terjemah Lengkap 1 Panduan

Kekhawatiran terhadap penggunaan AI dalam jurnalisme sebagian berkaitan dengan tingkat pengetahuan dan kepercayaan diri publik terhadap teknologi tersebut, termasuk persoalan konteks budaya dan penanganan isu-isu sensitif.

Mereka yang pernah menerima pendidikan literasi berita jauh lebih menerima berita yang diproduksi oleh AI. Sebanyak 40 persen responden yang memiliki pendidikan literasi berita menyatakan tidak masalah dengan berita yang sebagian besar diproduksi oleh AI dengan pengawasan manusia, dibandingkan hanya 15 persen di antara mereka yang tidak pernah menerima pendidikan literasi berita. Audiens yang lebih melek media cenderung lebih percaya diri dalam menavigasi lingkungan informasi yang kompleks dan mampu mengenali sumber berita tepercaya.

Meningkatkan kesadaran publik tentang bagaimana AI digunakan dalam produksi berita menjadi hal penting untuk menjaga kepercayaan terhadap jurnalisme dan organisasi media. Beberapa organisasi berita, seperti ABC atau The Guardian, telah memberikan pemberitahuan publik tentang penggunaan AI generatif oleh staf mereka.

Namun, banyak organisasi berita lain yang belum secara terbuka mengungkapkan bagaimana AI digunakan oleh staf mereka, dan banyak pula media kecil dan menengah yang bahkan belum memiliki kebijakan AI sama sekali. Situasi ini diperumit oleh temuan riset yang menunjukkan bahwa audiens tidak selalu mampu membedakan apakah dan bagaimana AI digunakan dalam jurnalisme yang mereka konsumsi.

Perubahan preferensi audiens

Terlepas dari tingkat kenyamanan terhadap penggunaan AI dalam produksi berita, AI generatif semakin populer—terutama di kalangan audiens muda—sebagai sarana memperoleh berita. Ketika ditanya tentang konten berita daring yang dipersonalisasi, sekitar sepertiga responden menunjukkan minat untuk menerima versi ringkasan berita, diikuti oleh rekomendasi berita atau notifikasi berdasarkan minat mereka.

Secara umum, kenyamanan dan relevansi menjadi pendorong utama ketertarikan terhadap personalisasi berita berbasis AI. Kelompok usia muda cenderung lebih tertarik menggunakan AI untuk mempersonalisasi berita. Mereka juga mengekspresikan keinginan yang lebih kuat agar AI membantu membuat berita lebih mudah dipahami. Responden berusia di bawah 35 tahun hampir tiga kali lebih mungkin menyatakan minat pada artikel berita dengan tingkat bahasa yang dapat disesuaikan (24 persen dibandingkan 9 persen).

Baca Juga :  Krusial 1 Laga Beckham Putra Siap Lawan Ratchaburi

Gambar 2: Minat terhadap Personalisasi Berita Berdasarkan Usia (%)

image3
Sumber: Digital News Report: Australia 2025. /visi.news/ist

Masa depan adopsi AI dalam jurnalisme kemungkinan besar ditentukan oleh kemampuan menyeimbangkan manfaat dan risiko dari kemajuan teknologi, sekaligus meningkatkan kenyamanan, kepercayaan, dan literasi berita di kalangan audiens.***

  • Profesor Sora Park adalah Direktur News and Media Research Centre di University of Canberra.
  • Dr TJ Thomson adalah dosen senior dan penerima hibah Australian Research Council DECRA Fellow di RMIT University, serta salah satu pimpinan News, Technology, and Society Network.
  • Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh 360info™ di bawah lisensi Creative Commons.

Baca Berita Menarik Lainnya :