Oleh M. Husni Fadillah
BANYAK kasus di luar sana yang ngeri dan memprihatinkan seperti pelecehan seksual, pembunuhan, judi online dan lain sebagainya.
Kasus seperti tadi memang marak terjadi dewasa ini terhadap remaja. Dan salah satu penyebabnya adalah “krisis moral”.
Remaja dengan segala keingintahuannya, dan rasa penasarannya terhadap hal-hal yang bersifat semu, tentu sangat rentan jika mereka tidak dibatasi dan tidak dibimbing penuh secara langsung.
Lembaga yang bisa dan memungkinkan memberikan pengawasan seperti itu adalah “Pesantren”.
Ya, di pesantren santri 24 jam hidup dibimbing dengan ketat, diberikan peraturan untuk belajar disiplin, dan diajarkan berbagai ilmu. Adab yang menjadi landasan utama sekaligus harus dipraktekkan guna menjadi pribadi yang madani.
Tutur kata dan etika orang-orang terdahulu terus diberikan agar bisa terpahami dan mendarah daging dalam diri.
Allah berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah SWT.” (QS Al-Ahzab:21)
Di pesantren santri diajarkan kerasnya kehidupan dari beragam pengalaman 24 jam 1 minggu, bahkan bertahun-tahun.
Ilmu yang dipelajari dan dibina dalam kurun waktu yang lama tentu akan sangat membentuk moral santri yang lebih kuat dan kokoh.
Dengan bekal ilmu dan adab yang kuat diharapkan santri bisa menjaga dirinya agar tidak keluar dari zona syari’at.
Jika demikian, betapa kasihannya menjadi santri masih muda sudah hidup susah dan sengsara dong?
Dalam hidup selalu ada pilihan, jalan mana yang akan ditempuh. Ke kiri atau ke kanan kah?.
Lebih baik sengsara di masih muda pas badan masih segar atau sengsara dimasa tua pas badan sudah renta, seperti Imam Syafi’i katakan:
“Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar sejenak, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan selama hidupnya”.
Lebih baik berlelah-lelah menuntut ilmu dari pada menikmati masa kebodohan.***
- Penulis Alumni MD Mubarokulhuda dan Pesantren Mathali’ul Falah.