Oleh Idat Mustari
AJARAN Islam bukanlah ajaran sekedar melakukan gerakan salat tanpa makna, sebab jika seperti itu,maka namanya “yoga bersyariah,” kata Husen Jafar Al-Hadar. Jika sekedar pergi ke Mekah di musim haji atau umrah, itu namanya “traveling bersyariah,” Begitupun jika sekedar puasa, itu namanya, “diet beryariah.” Yang terakhir ni mah kata saya.
Semua ibadah ritual targetnya adalah menjadikan pelakunya sebagai manusia yang bertakwa.
Manusia yang bertakwa adalah yang orang lain selamat oleh tangan dan lisannya.
Tangannya tak menyebabkan orang lain merasa kehilangan harta akibat ulahnya. Jika meminjam uang ia kembalikan, sebab siapapun yang meminjam uang tetapi diniatkan tidak mengembalikannya maka orang itu hakikatnya berdosa karena mencuri.
Lisannya terjaga dari menyakiti orang lain. “Seribu kali kau thawaf dengan kaki di Ka’bah pun. Tak akan diterima Al Haqq, bila ada hati yang kau sakiti,” ungkap Maulana Jalaluddin.
Salam dari akhir salatnya harus berwujud nyata dalam dirinya dengan membuat orang di sebelah kanan-kirinya merasa aman dan nyaman. Salamnya bukan saja menyelamatkan dirinya melainkan juga menyelamatkan orang lain.
Haji yang dilakoninya harus mabrur. Mabrur itu berarti baik atau kebaikan, jadi haji mabrur itu seseorang yang ucap, lakunya adalah berbuat kebaikan pada orang lain.
Namun manusia tak selamanya mampu menjaga dirinya berada dijalan kebaikan. Kadang harus berbelok beralih ke jalan kegelapan atau dosa. Maka itulah kemudian Allah sediakan satu bulan yakni bulan Ramadan bukan saja bulan suci tetapi juga sebagai bulan pensucian diri .
Pada bulan suci itu, kita berusaha membersihkan diri, kita lakukan berbagai amal saleh dengan harapan kalau kita menjadi bersih, maka tanggal 1 Syawal nanti, kita kembali kepada kesucian “Idul Fitri.”
Kesucian berarti kemenangan. Jadi manusia suci adalah manusia pemenang. Itulah makna kalimat yang sering kita ucapkan di hari lebaran “minal aidin wal faizin.” Manusia yang kembali pada kesucian dan yang menang.
Wallahu’alam
- Komisaris BPR Kerta Raharja Kab Bandung dan Penulis Buku ‘Bekerja Karena Allah’