Oleh Drajat
- Doktor Ilmu Pendidikan,
- Wasekjen Komnasdik,
- Hipnoterapis,
- Mindshaper Idonesia,
- Guru SMP N 1 Cangkuang, Kab. Bandung.
“MENGAJAR adalah kewajiban, dan aku menikmatinya.”
Begitu tulis seorang rekan guru di status WhatsApp-nya pagi itu. Sebuah kalimat sederhana, tapi sarat makna. Ia seakan ingin menegaskan bahwa menjadi guru bukan sekadar profesi yang menunggu tanggal gajian, melainkan panggilan jiwa—sebuah ibadah yang dijalani dengan penuh cinta dan tanggung jawab.
Namun, di balik kalimat itu terselip kegelisahan yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang benar-benar hidup dalam ruang kelas, yang setiap hari berhadapan dengan wajah-wajah muda yang penuh potensi sekaligus penuh teka-teki. Ada kelelahan batin, ada pergulatan nurani. Antara kewajiban dan realitas yang makin rumit.
Dulu, guru dikenal sebagai sosok panutan. Kata-katanya dihormati, nasihatnya didengar, sikapnya menjadi teladan. Tapi hari ini, peran itu seringkali goyah. Entah karena perubahan zaman, atau karena nilai-nilai yang mulai kabur.
Bayangkan, seorang guru menegur muridnya karena merokok di lingkungan sekolah—sebuah tindakan yang sangat wajar. Namun, siapa sangka teguran itu berujung panjang? Orang tua si murid justru marah, menuduh guru bersikap keras, bahkan mengancam melapor ke pihak berwajib.
Dalam situasi seperti itu, guru seolah berdiri di persimpangan serba salah. Jika diam, dianggap lalai. Jika menegur, dituduh melanggar hak anak. Padahal, niatnya semata ingin mendidik. Tapi siapa peduli pada niat, ketika yang tampak di luar hanyalah salah paham?
Di sisi lain, ada beban administratif yang kian menumpuk, dan kini ditambah lagi dengan program baru: Makan Bergizi Gratis (MBG). Tujuan program ini mulia—memberi asupan bergizi agar anak belajar dengan baik. Tapi dalam praktiknya, banyak guru ikut melayani, mengatur logistik, hingga mendata peserta.
Mereka berlari-lari antara kelas dan dapur, antara papan tulis dan daftar menu. Sementara waktu mengajar tergerus, tenaga pun terkuras. Bukan berarti guru menolak program baik ini. Tidak. Guru hanya berharap kebijakan besar itu dijalankan dengan manajemen yang matang, agar tidak mengorbankan inti dari tugas mereka: mendidik dan mengajar.
Di sinilah nurani guru mulai diuji. Ia ingin tetap ikhlas, ingin tetap profesional, tapi di saat yang sama merasa terseret dalam arus sistem yang kerap tidak berpihak pada substansi pendidikan.
Guru adalah manusia. Ia juga punya rasa lelah, punya hati yang bisa luka, punya semangat yang bisa padam. Namun, dunia sering menuntut guru untuk selalu sabar, selalu kuat, selalu tersenyum meski hatinya runtuh.
Ketika murid tidak menghormati, orang tua tidak memahami, dan birokrasi menambah beban, di sanalah cahaya itu mulai meredup. Bukan padam, tapi berkelip lemah.
Guru kadang memandang papan tulis kosong dengan tatapan jauh—bukan karena tidak tahu apa yang akan diajarkan, tetapi karena pikirannya sedang berkecamuk. Tentang anak-anak yang kehilangan sopan santun. Tentang orang tua yang kehilangan kepercayaan. Tentang sistem yang terlalu sibuk menata formulir dan lupa menata hati.
Ia tetap berdiri di depan kelas, tetap menulis rumus, tetap tersenyum, tapi di dalam dirinya ada luka kecil yang perlahan meneteskan air bening ke dalam jiwa pengabdiannya.
Kini, sekolah tidak lagi sesederhana tempat belajar. Ia menjadi institusi yang diatur oleh ribuan aturan, ribuan laporan, dan ribuan program. Semuanya tampak megah di atas kertas, tapi kehilangan napas di lapangan.
Guru lebih sibuk dengan laporan daring, sinkronisasi data, unggah dokumen, dan evaluasi berlapis. Padahal, hakikat pendidikan adalah interaksi manusia—antara guru dan murid, antara ilmu dan nilai, antara akal dan hati.
Namun, hari ini yang tersisa sering kali hanyalah formalitas. Murid duduk rapi di kelas, guru menjelaskan sesuai rencana pelajaran, tetapi jiwa pembelajaran perlahan menguap.
Anak-anak tidak lagi bertanya “mengapa,” karena takut dianggap cerewet. Guru tidak lagi bercerita “bagaimana,” karena waktu dikejar oleh target kurikulum. Sekolah kehilangan getarannya. Ia berdiri megah, tapi sunyi.
Di tengah situasi seperti itu, makna “kewajiban” menjadi kabur. Apakah mengajar hanya sekadar hadir di kelas dan menyampaikan materi? Atau mengajar adalah tentang menanamkan nilai dan karakter, meski dunia tak lagi menghargai proses itu?
Guru yang sejati tahu bahwa mengajar bukan hanya memindahkan ilmu, tapi juga menyalakan cahaya. Namun, ketika cahaya itu redup—karena sistem yang menekan, masyarakat yang abai, dan anak-anak yang kehilangan respek—apa yang harus dilakukan? Menyerah bukan pilihan. Tapi terus berjalan pun terasa berat.
Menyalakan Kembali Cahaya
Mungkin, sudah saatnya kita berhenti sejenak dan bertanya: di mana letak nurani pendidikan kita? Apakah masih di tangan para guru, atau sudah berpindah ke meja-meja birokrasi?
Guru tidak butuh pujian, tidak butuh panggung. Mereka hanya butuh ruang untuk mendidik dengan tenang. Butuh dukungan moral, bukan sekadar administrasi. Butuh kepercayaan, bukan kecurigaan.
Menyalakan kembali cahaya itu bukan perkara besar. Ia bisa dimulai dari hal sederhana: Ketika kepala sekolah memberi kepercayaan penuh kepada guru untuk berinovasi. Ketika orang tua mendengarkan guru sebelum menilai. Ketika pejabat pendidikan turun langsung ke sekolah, bukan hanya memeriksa laporan. Ketika masyarakat kembali menaruh hormat kepada profesi yang melahirkan semua profesi.
Cahaya itu akan kembali terang jika kita bersama-sama meniup bara kecil yang tersisa. Di tengah semua kegelisahan, masih banyak guru yang tetap berdiri tegak. Mereka tidak menunggu keadaan ideal untuk bekerja. Mereka tahu, cahaya mungkin redup, tapi tugasnya bukan untuk mengeluh, melainkan untuk menjaga agar ia tidak padam.
Setiap pagi, mereka datang dengan senyum, menyapa murid-muridnya yang kadang tak membalas salam. Mereka menulis rencana pelajaran di tengah kesibukan mendata bantuan. Mereka menegur anak-anak yang salah meski tahu risikonya besar. Karena bagi mereka, mengajar adalah ibadah. Dan ibadah tidak membutuhkan tepuk tangan, hanya keikhlasan. Guru tahu, mungkin dunia tak selalu adil. Tapi mereka tetap percaya, bahwa setiap kebaikan yang dilakukan dengan hati tidak akan sia-sia.
Ketika cahaya itu redup, bukan berarti ia hilang. Ia hanya butuh disangga, dijaga, dan diberi ruang untuk bernafas. Guru bukan malaikat, tapi tanpa guru, mustahil lahir generasi yang tahu arah.
Mungkin kini kita hidup di masa di mana guru harus berjuang di dua front: antara idealisme dan kenyataan. Tapi justru di situlah letak keagungan profesi ini.
Guru tetap menjadi pelita di tengah gelap, meski kadang nyalanya tertiup angin kencang.
Maka, tugas kita semua—orang tua, pemerintah, masyarakat—adalah memastikan cahaya itu tidak padam. Karena ketika cahaya guru benar-benar redup, sesungguhnya yang padam adalah masa depan bangsa ini.***