Search
Close this search box.

VISI | Ketika Membaca Diabaikan

Bagikan :

Oleh Drajat

  • Guru
  • Doktor Ilmu Pendidikan
  • Wasekjen Komnasdik
  • Hipnoterapis
  • Mindshaper Nusantara
  • APKS PGRI Prov. Jabar

SEBAGAI GURU, praktisi pendidikan, sekaligus pegiat literasi, penulis nyaris kehabisan suara untuk terus mengingatkan bangsa ini: membacalah. Membaca bukan sekadar aktivitas akademik, bukan pula sekadar proyek musiman saat hasil asesmen internasional memalukan. Membaca adalah napas peradaban. Namun ironisnya, napas itu kini terasa tersengal, bahkan nyaris terhenti.

Entah sampai kapan energi untuk bersuara ini akan bertahan. Namun satu hal yang pasti, penulis memilih bertahan sampai titik darah penghabisan. Sebab terlalu menyakitkan jika negeri yang kaya raya ini akhirnya menjadi asing di negeri sendiri. Tanahnya subur, lautnya luas, hutannya pernah megah—namun kekayaannya justru dikuasai segelintir orang yang rakus, tamak, dan kehilangan adab. Alam pun merespons dengan caranya sendiri: banjir, longsor, bencana ekologis di mana-mana. Sumatera, Kalimantan, Sulawesi—nyaris tak ada wilayah yang benar-benar aman.

Pertanyaannya sederhana namun menggetarkan: di mana para pemimpin negeri ini?

Membaca sering dipersempit maknanya. Seolah membaca hanya soal buku pelajaran, teks ujian, atau laporan resmi. Padahal sejak dahulu para bijak bestari mengajarkan: membaca adalah kemampuan memahami tanda-tanda kehidupan. Membaca manusia, membaca alam, membaca sejarah, dan membaca masa depan.

Ketika membaca diabaikan, yang lahir bukan hanya kebodohan intelektual, tetapi juga kebutaan nurani. Hari ini, kita menyaksikan para pemimpin yang nyaris buta terhadap penderitaan rakyatnya. Jeritan masyarakat di daerah bencana seperti tak terdengar. Lingkaran kekuasaan—para pembantu, pejabat teknis, hingga pengusaha—membangun tembok sunyi. Informasi yang sampai ke telinga pemimpin kerap telah dipoles, dipelintir, bahkan dipalsukan. Fakta dikalahkan oleh laporan. Realitas dikubur oleh pencitraan.

Pemimpin akhirnya tidak hadir, bukan karena ia tidak ada, tetapi karena ia tidak membaca.

Baca Juga :  Ancaman Tarif Trump Gegerkan Eropa, Uni Eropa Siapkan Langkah Balasan

Membaca Alam Dikhianati

Alam sejatinya adalah kitab terbuka yang paling jujur. Ia tidak pernah berbohong. Jika hutan ditebang serampangan, ia akan berbicara lewat banjir. Jika gunung dikeruk tanpa kendali, ia akan menjawab dengan longsor. Jika sungai dijadikan tempat sampah industri, ia akan meluap membawa murka.

Namun sayangnya, negeri ini dipimpin oleh mereka yang tidak mau membaca alam. Lebih parah lagi, ada yang sengaja menutup mata. Sawit disamakan dengan hutan. Tambang dianggap berkah tanpa memikirkan dampak. Proyek-proyek raksasa dibungkus narasi pembangunan, sementara lingkungan dijadikan korban.

Ketika alam memberi peringatan, para pemimpin justru sibuk menyusun alasan. Ketika bencana datang, mereka menyebutnya musibah biasa. Tidak ada rasa bersalah, apalagi pertobatan kebijakan. Bukankah ini tanda nyata bahwa membaca telah diabaikan?

Ironi terbesar bangsa ini adalah gemar menjadikan literasi sebagai jargon, bukan kesadaran. Spanduk literasi terpasang di sekolah, kampanye membaca digaungkan di media, tetapi keputusan-keputusan publik justru mencerminkan ketidakmampuan membaca secara mendalam.

Membaca tanpa pemahaman melahirkan kebijakan setengah matang. Membaca tanpa empati melahirkan kekuasaan yang dingin. Membaca tanpa keberanian melahirkan pemimpin yang takut pada kebenaran.

Tak heran jika bangsa ini terus terjebak pada pola yang sama: bencana datang, ribut sesaat, lalu lupa. Persis seperti budaya membaca kita—heboh sebentar, lalu menghilang.

Yang paling menyakitkan adalah ketika rakyat merasa asing di tanahnya sendiri. Lahan adat dirampas. Hutan diwariskan leluhur diratakan. Sungai yang dahulu menjadi sumber kehidupan kini menjadi ancaman. Semua atas nama investasi, pertumbuhan, dan angka-angka yang tidak pernah benar-benar menetes ke dapur rakyat kecil.

Sementara itu, segelintir elite menikmati hasilnya. Mereka membaca laporan keuntungan, tetapi tidak membaca air mata warga. Mereka membaca grafik pertumbuhan, tetapi tidak membaca retakan sosial.

Baca Juga :  Aurelie Moeremans Pilih Bersuara Lewat Buku, Broken Strings Jadi Ruang Aman bagi Pembaca

Di sinilah membaca kehilangan maknanya yang paling hakiki: membaca penderitaan manusia.

Pendidikan yang Terluka

Sebagai guru, penulis sering mendapati pertanyaan polos dari peserta didik: “Pak, kenapa banjir terus terjadi?” “Bu, kenapa hutan boleh dirusak?” “Kenapa yang menolong malah dimarahi?”

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak mudah dijawab. Bukan karena jawabannya tidak ada, tetapi karena jawabannya terlalu pahit. Dunia pendidikan kembali menjadi korban. Guru diminta mengajarkan nilai, sementara praktik kehidupan justru mengingkarinya. Peserta didik diajarkan membaca, tetapi contoh nyata di hadapan mereka adalah para pemimpin yang tidak mau membaca. Bukankah ini luka yang dalam bagi pendidikan?

Membaca sejatinya adalah tindakan moral. Ia menuntut kejujuran untuk menerima fakta, keberanian untuk mengakui kesalahan, dan kerendahan hati untuk berubah. Bangsa yang enggan membaca adalah bangsa yang enggan bercermin.

Dan hari ini, negeri ini seperti takut bercermin. Takut melihat wajahnya sendiri yang penuh luka. Takut membaca sejarah yang berulang. Takut membaca masa depan yang kian suram jika kesalahan terus diulang.

Ketika membaca diabaikan, kehancuran bukanlah kemungkinan—ia adalah keniscayaan. Bukan hanya kehancuran ekologis, tetapi kehancuran moral dan kemanusiaan.

Penulis percaya, harapan itu masih ada. Selama masih ada guru yang mengajarkan membaca dengan hati. Selama masih ada anak muda yang membaca alam dan bergerak. Selama masih ada warga yang menolak diam.

Satu pesan harus ditegaskan: jika para pemimpin negeri ini terus mengabaikan membaca—membaca buku, membaca rakyat, membaca alam—maka negeri ini akan terus tersesat di jalan yang sama.

Membaca bukan pilihan. Ia adalah syarat untuk tetap waras sebagai bangsa. Dan ketika membaca diabaikan, sesungguhnya kita sedang menggali lubang kita sendiri.***

Baca Berita Menarik Lainnya :