Search
Close this search box.

VISI | Ketika Tulisan Tak Lagi Bernyawa

Drajat

Bagikan :

Oleh Drajat

PENULIS tak pernah menghitung pasti berapa banyak tulisan telah penulis torehkan. Artikel, opini, esai pendidikan, refleksi kebangsaan, bahkan puisi dan kisah inspiratif. Media nasional, daerah, media komunitas, buletin sekolah, semua sudah dijejaki. Beberapa tulisan bahkan diminta langsung oleh redaksi, atau diminta pembaca untuk dilanjutkan karena dianggap mewakili kegelisahan publik. Bangga? Tentu. Tapi belakangan, justru dihantui pertanyaan: “Apakah tulisanku masih bernyawa?”

Di awal-awal menjadi penulis, setiap tulisan yang dimuat memberikan getaran luar biasa. Ada rasa lega karena bisa menyuarakan isi hati dan akal secara jernih. Ada harapan bahwa tulisan-tulisan itu akan menggugah nurani pembaca, mendorong perubahan kecil, atau setidaknya menjadi percikan diskusi sehat. Namun, kini penulis merasa seperti berbicara pada dinding. Tulisan penulis mungkin tampil di halaman utama, disebar di berbagai grup media sosial, namun resonansinya tak terasa. Seperti batu kecil yang dilempar ke danau luas—hanya menimbulkan riak sesaat, lalu hilang ditelan gelombang keheningan.

Penulis tidak sendiri. Banyak penulis lain yang mengaku merasakan kegersangan serupa. Apakah ini pertanda bahwa dunia kita sudah terlalu bising untuk mendengar suara jernih? Apakah tulisanku sudah tidak relevan, atau memang kita telah hidup dalam masyarakat yang hanya menghargai pujian, bukan kejujuran?

Penulis ingat, beberapa tulisan penulis cukup kritis terhadap kebijakan pendidikan, lingkungan, hingga ketidakadilan sosial. Bukan karena penulis benci pemerintah atau pesimis, justru karena mencintai negeri ini. Tulisan adalah bentuk kepedulian, bukan caci maki. Tapi tanggapannya? Sepi. Sunyi. Tak ada ruang diskusi, tak ada klarifikasi. Bahkan yang penulis tahu membaca tulisan itu pun memilih diam. Mungkin karena takut. Takut bersuara, takut diseret ke pusaran polemik digital, takut dicap pembangkang, takut rekam jejaknya mengganggu karier atau hubungannya dengan kekuasaan.

Baca Juga :  Pemerintah Bentuk Satgas, Puluhan Jemaah Ilegal Digagalkan Berangkat

Sebaliknya, tulisan penulis yang sekadar mengapresiasi keberhasilan seorang pejabat atau pemimpin daerah, ramai tanggapan dan dibagikan berulang-ulang. Diberi jempol, komentar manis, bahkan dipajang di akun resmi mereka. Ironisnya, bukan tulisan itu yang paling jujur, tapi yang paling aman dan menguntungkan citra. Penulis tahu benar bedanya: mana yang lahir dari kedalaman nurani, dan mana yang hanya sekadar menyenangkan penguasa.

Penulis lalu merenung, apakah ini saatnya berhenti menulis? Atau mengubah gaya menjadi lebih “mainstream”? Tapi hati kecil menolak. Penulis menulis bukan untuk menyenangkan, tapi untuk menyampaikan kebenaran, meskipun pahit. Maka penulis sadar, bukan tulisanku yang mati, tetapi ruang hidupnya yang kini kian menyempit. Tulisan bernyawa adalah yang jujur, berpihak kepada nurani, dan berani menggugah. Tapi kalau ruang pembaca hanya diisi dengan pujian, maka tulisan jujur seperti kehilangan oksigen.

Lalu bagaimana tulisan bisa berdampak jika pembacanya tak lagi mau merenung? Barangkali kita terlalu sibuk mencari kenyamanan, dan menyingkirkan kegelisahan sebagai gangguan. Kita tidak lagi membaca untuk mengerti, tapi untuk mengonfirmasi keyakinan sendiri. Akibatnya, tulisan yang jujur dianggap mengganggu. Tulisan yang menggugat dianggap menyerang. Padahal sesungguhnya, tulisan yang bernyawa bukanlah yang menyenangkan, melainkan yang menyadarkan.

Penulis mulai memahami bahwa tulisan yang bernyawa tidak harus viral. Ia tidak perlu mendapat ribuan pembaca atau komentar. Cukup jika satu dua hati tergugah, lalu mengubah cara pandangnya, atau mengambil langkah kecil yang baik. Itulah kehidupan sebuah tulisan.

Penulis ingat satu kisah dari seorang pembaca yang berkata: “Pak, tulisan Bapak tentang pentingnya menjaga kebersihan sekolah kami jadikan dasar membangun bank sampah di madrasah.” Kalimat itu lebih berharga dari ratusan likes tanpa makna. Itu adalah nyawa.

Baca Juga :  Hailuki: Pembangunan Infrastruktur dan Penanganan Parkir Liar Dilakukan Bertahap

Tulisan juga seperti benih. Kadang jatuh di tanah tandus, tak tumbuh. Tapi bisa jadi, suatu hari ketika hujan turun, ia akan bertunas. Maka menulislah terus, meski sekarang terlihat seperti sia-sia. Karena kita tak pernah tahu kapan dan di mana tulisan kita akan berakar dan membuahkan perubahan.

Namun demikian, kita juga harus jujur bahwa ruang publik kita memang sedang tidak sehat. Para pembaca cerdas lebih memilih diam. Yang ramai justru mereka yang hidup dari polarisasi, adu domba, dan gimik. Sementara media sosial lebih menyukai konten instan dan sensasional daripada tulisan reflektif dan kritis. Di sinilah tantangan terbesar penulis hari ini: berjuang menjaga nyawa tulisan di tengah dunia yang gemar mematikan nalar.

Tapi sekali lagi, tulisan adalah cermin jiwa. Jika ia lahir dari kejujuran dan kepedulian, maka ia tetap bernyawa—meski tak disambut sorak sorai. Sebab sejarah membuktikan, banyak perubahan besar justru dimulai dari tulisan-tulisan kecil yang dianggap remeh pada masanya.

Ketika tulisan tidak bernyawa, barangkali karena kita sendiri yang mematikannya. Dengan menulis asal-asalan, tanpa nurani, hanya demi eksistensi. Tapi ketika kita menulis dengan kejujuran, meski tak viral, tulisan itu tetap hidup. Ia mungkin tidak terdengar sekarang, tapi kelak bisa menjadi jejak sejarah.

Maka, wahai para penulis dan guru, jangan lelah menulis. Jangan takut jujur. Jangan kecewa saat sunyi menyambutmu. Karena di dunia yang penuh kepalsuan, tulisan jujur adalah nyawa terakhir akal sehat.**

  • Doktor Ilmu Pendidikan, Wasekjen Komnasdik, dan Hipnoterapis

 

 

Baca Berita Menarik Lainnya :