Oleh Drajat
- Guru
- Doktor Ilmu Pendidikan
- Wasekjen Komnasdik
- Hipnoterapis Transformasi Indonesia
- Mindshaper Nusantara
- APKS PGRI Prov. Jabar
ADA satu tanda paling jelas ketika sebuah bangsa mulai kehilangan arah: kebijakan dibuat bukan untuk menyelesaikan masalah, tetapi sekadar untuk terlihat bekerja. Dan hari ini, gejala itu semakin terasa nyata.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari, Rasulullah SAW telah memberikan peringatan keras: “Apabila suatu urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah terjadinya kiamat.” Peringatan ini bukan metafora kosong. Ia adalah hukum sosial. Ia akan terjadi—pelan atau cepat—ketika profesionalitas dikalahkan oleh kepentingan, dan kompetensi ditukar dengan kedekatan.
Apa yang kita saksikan hari ini di dunia pendidikan, sejatinya adalah cermin dari kegagalan itu. Pendidikan bukan proyek jangka pendek. Ia adalah kerja peradaban. Namun yang terjadi hari ini justru sebaliknya: pendidikan diperlakukan seperti proyek tahunan—penuh target, penuh seremonial, tetapi miskin substansi.
Kebijakan datang silih berganti tanpa arah yang konsisten. Kurikulum berubah sebelum sempat dipahami. Sistem asesmen berganti sebelum sempat dievaluasi. Program diluncurkan tanpa kesiapan. Dan yang paling mengkhawatirkan: semua itu dilakukan tanpa keberanian untuk mengakui kesalahan. Seolah-olah, yang penting bukan kualitas kebijakan, tetapi kecepatan mengumumkan kebijakan.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sering dikemas sebagai solusi besar untuk masa depan generasi. Secara konsep, tidak ada yang salah. Bahkan, dalam banyak negara maju, pemenuhan gizi memang menjadi bagian dari sistem pendidikan.
Namun persoalannya bukan pada konsep—melainkan pada cara negara menjalankannya. Di lapangan, realitas berbicara lain: Waktu belajar terganggu oleh distribusi makanan, fokus siswa bergeser dari belajar menjadi konsumsi, pengelolaan makanan tidak jarang jauh dari standar ideal, serta guru dipaksa menyesuaikan ritme belajar dengan logistik makan
Lebih ironis lagi, ketika aparat keamanan—yang seharusnya menjaga stabilitas negara—turun tangan dalam urusan distribusi makanan. Ini bukan bentuk sinergi, ini adalah sinyal darurat: bahwa sistem tidak berjalan sebagaimana mestinya. Ketika tentara dan polisi sibuk mengurus makan siang, pertanyaannya sederhana: siapa yang sedang mengurus masa depan bangsa?
Masalah utama kita hari ini bukan kekurangan program, tetapi kehilangan prioritas. Di satu sisi, negara berbicara tentang Generasi Emas 2045. Di sisi lain, fondasi dasar pendidikan justru rapuh: Kualitas guru belum merata, fasilitas pendidikan timpang, beban administratif menumpuk, serta arah kebijakan tidak konsisten
Alih-alih memperkuat kualitas pembelajaran, energi bangsa justru tersedot pada program-program populis yang efeknya jangka pendek. Ini bukan sekadar kesalahan teknis. Ini adalah kegagalan berpikir strategis.
Salah satu ciri paling berbahaya dari sistem yang melemah adalah ketika standar digantikan oleh improvisasi. Hari ini, banyak kebijakan pendidikan berjalan dengan pola: “Jalankan dulu, perbaiki nanti.”
Masalahnya, pendidikan bukan eksperimen tanpa risiko. Setiap kesalahan kebijakan berdampak langsung pada jutaan anak. Dan dampaknya tidak bisa diperbaiki dalam satu atau dua tahun. Ketika kebijakan tidak disusun oleh ahli, tidak diuji secara matang, dan tidak dievaluasi secara serius, maka yang terjadi bukan inovasi—melainkan spekulasi. Dan kita sedang mempertaruhkan masa depan generasi pada spekulasi itu.
Di tengah kekacauan sistem, ada satu kelompok yang terus dituntut untuk tetap sempurna: guru. Guru diminta adaptif terhadap perubahan. Guru diminta kreatif dalam keterbatasan. Guru diminta profesional dalam ketidakpastian. Namun jarang ada yang bertanya: siapa yang menjaga kewarasan guru di tengah sistem yang tidak waras?
Guru bukan mesin. Mereka manusia yang bekerja dalam sistem. Ketika sistemnya kacau, maka beban terbesar justru jatuh kepada mereka. Dan yang lebih menyedihkan, ketika hasil pendidikan tidak sesuai harapan, guru sering menjadi pihak pertama yang disalahkan.
Sementara itu, di luar ruang kelas, masyarakat menghadapi realitas yang tidak kalah keras: Lapangan pekerjaan semakin sempit, harga kebutuhan pokok terus meningkat, dan ketidakpastian ekonomi semakin terasa
Dalam kondisi seperti ini, pendidikan seharusnya menjadi jalan keluar—bukan justru menambah kebingungan. Namun ketika pendidikan tidak dikelola dengan baik, maka ia kehilangan fungsinya sebagai alat mobilitas sosial. Ia tidak lagi menjadi jembatan menuju masa depan, tetapi sekadar rutinitas tanpa arah.
Menuju “Kiamat Sistemik”
Hadis Nabi tentang “kiamat” tidak selalu berarti kehancuran fisik. Ia bisa berarti runtuhnya sistem nilai, rusaknya tatanan, dan hilangnya arah. Dan tanda-tanda itu mulai terlihat: Kebijakan tanpa arah, program tanpa kesiapan, pelaksana tanpa kompetensi, serta evaluasi tanpa kejujuran
Inilah yang bisa disebut sebagai kiamat sistemik—ketika semua berjalan, tetapi tidak ada yang benar-benar menuju tujuan. Solusinya sebenarnya sederhana, tetapi membutuhkan keberanian: kembalikan setiap urusan kepada ahlinya. Pendidikan harus dikelola oleh pendidik, bukan sekadar birokrat. Kebijakan harus berbasis data, bukan pencitraan. Program harus diuji, bukan sekadar diluncurkan. Evaluasi harus jujur, bukan defensif. Dan yang paling penting:
negara harus berani mengakui bahwa tidak semua yang terlihat baik, benar-benar baik.
Tulisan ini mungkin terasa keras. Namun terkadang, kejujuran memang harus terasa tidak nyaman. Kita tidak sedang kekurangan orang pintar. Kita tidak kekurangan sumber daya. Yang kita kekurangan adalah keberanian untuk menempatkan yang tepat pada tempatnya. Jika tidak, maka kita hanya akan terus mengulang siklus yang sama: program baru, masalah lama.
Dan pada akhirnya, peringatan Rasulullah SAW itu akan benar-benar menjadi kenyataan—bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai konsekuensi. “Apabila suatu urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah terjadinya kiamat.”
Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah itu akan terjadi. Tetapi: apakah kita akan membiarkannya terus berlangsung?. ***