Search
Close this search box.

VISI | Malaikat Pelindung (Refleksi Hari Ibu)

Bagikan :

Oleh Drajat

  • Guru
  • Doktor Ilmu Pendidikan
  • Wasekjen Komnasdik
  • Hipnoterapis
  • Mindshaper Nusantara
  • APKS PGRI Prov. Jabar

KONON, sebelum seorang bayi lahir ke dunia, terjadi sebuah dialog sunyi antara ia dan Sang Pencipta. Dialog yang tidak tercatat dalam kitab sejarah, tidak terdengar oleh telinga manusia, namun terasa kebenarannya dalam denyut kehidupan.

“Ya Tuhanku, Engkau akan mengirimku ke bumi. Aku takut. Aku masih kecil. Siapa yang akan melindungiku di sana?”

Dengan suara penuh ketenangan, Tuhan menjawab, “Aku telah memilihkan seseorang terbaik untuk selalu mendampingimu.”
Bayi itu kembali bertanya, suaranya gemetar oleh kecemasan, “Aku sudah bahagia di surga ini. Semua kebutuhanku terpenuhi. Aku takut nanti di bumi permintaanku tak terkabulkan.”

Tuhan kembali menenangkan, “Jangan takut. Aku telah memilihkan makhluk terbaik di antara yang baik.”

Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan sang bayi—tentang rasa takut, kesedihan, sakit, ketidakmampuan berbicara, ketidakberdayaan menghadapi dunia yang asing.

Dan setiap pertanyaan itu dijawab Tuhan dengan nada yang sama: damai, penuh cinta, dan keyakinan.

Hingga angin sepoi-sepoi pertanda waktu kelahiran semakin dekat. “Tuhan, aku akan meninggalkan keindahan surga. Siapakah malaikat pelindungku itu?”

Tuhan tersenyum dalam kebijaksanaan-Nya, “Namanya tidak penting. Kelak kau akan memanggilnya dengan satu sebutan: Ibu.”

Ibu: Malaikat yang Turun ke Bumi

Hari ini, Senin 22 Desember, negeri ini kembali memperingati Hari Ibu Nasional. Sebuah momentum yang sering kita rayakan dengan bunga, kartu ucapan, dan unggahan media sosial. Namun sesungguhnya, Hari Ibu bukan sekadar peringatan, melainkan pengakuan sejarah dan kemanusiaan atas kehadiran sosok paling kuat, paling sabar, dan paling mencintai tanpa syarat: Ibu.

Ibu adalah malaikat yang ditugaskan Tuhan bukan dengan sayap, melainkan dengan rahim, air mata, dan doa. Ia tidak bersinar seperti malaikat dalam kisah langit, tetapi cahayanya terasa dalam gelapnya malam ketika anaknya sakit. Ia tidak bersuara seperti sangkakala, tetapi bisikannya menenangkan jiwa yang gelisah.

Baca Juga :  Hodak Apresiasi Mentalitas Pemain Usai Persib Taklukkan Persija

Sejak detik pertama kehidupan, ibu telah menjadi benteng pertahanan paling kokoh. Ketika dunia belum ramah, ketika tubuh bayi rapuh, ketika bahasa belum terbentuk—ibu hadir dengan naluri ilahiah yang tak pernah diajarkan di sekolah mana pun.

Kasih sayang ibu bukanlah teori. Ia adalah praktik hidup sehari-hari yang sering luput kita sadari. Ibu terbangun di malam hari bukan karena kewajiban, melainkan karena cinta. Ibu mengorbankan waktu, tenaga, dan mimpinya tanpa pernah menuntut imbalan. Ibu sering lupa pada dirinya sendiri demi memastikan anaknya baik-baik saja.

Ia kuat bukan karena tidak lelah, melainkan karena tidak punya pilihan untuk menyerah. Ia sabar bukan karena tidak terluka, tetapi karena memilih menyembunyikan lukanya. Dalam diamnya, ibu berdoa. Dalam letihnya, ibu berharap. Dalam air matanya, ibu menggantungkan masa depan anaknya.

Kebohongan Mulia

Ada satu hal yang jarang kita sadari: ibu sering berbohong. Namun kebohongannya bukan dosa, melainkan kemuliaan.
“Ibu tidak capek.”
“Ibu masih kenyang.”
“Ibu baik-baik saja.”

Padahal tubuhnya ingin rebah, perutnya lapar, dan hatinya penuh beban. Ia berbohong agar anaknya tidak merasa bersalah. Ia berbohong agar anaknya tetap merasa aman. Inilah kebohongan yang tidak diajarkan, namun diwariskan dari generasi ke generasi. Kebohongan yang lahir dari cinta, bukan dari tipu daya.

Sayangnya, tidak semua kisah tentang ibu berakhir indah. Seiring waktu, banyak anak yang melupakan malaikat pelindungnya. Ada anak yang sibuk mengejar dunia, tapi lupa menanyakan kabar ibunya. Ada anak yang bangga pada pencapaian, namun malu menggandeng ibunya. Ada anak yang fasih bicara tentang kesuksesan, tetapi gagap saat diminta berbakti.

Lebih menyedihkan lagi, ada ibu yang ditinggalkan di usia senja—hidup sendiri, menunggu, berharap, dan berdoa dalam kesepian. Malaikat yang dulu melindungi, kini justru membutuhkan perlindungan.

Baca Juga :  Jadwal SIM Keliling Kota Bandung Hari Ini, Senin 19 Januari 2026

Kita lupa bahwa dulu, saat kita tak mampu berdiri, ibu menggendong. Saat kita jatuh, ibu menguatkan. Saat kita gagal, ibu tetap percaya. Kini, ketika ibu melemah, justru kita menjauh.

Islam memuliakan ibu bukan tanpa alasan. Rasulullah SAW menempatkan ibu tiga tingkat di atas ayah dalam hal bakti. Surga digambarkan berada di bawah telapak kakinya. Itu bukan simbol berlebihan, melainkan peringatan keras bahwa mengabaikan ibu berarti mempertaruhkan kebahagiaan hidup. Namun bakti kepada ibu bukan sekadar ritual. Ia adalah sikap hidup: menghormati, mendengarkan, menjaga perasaan, dan merawat dengan sepenuh hati.

Hari Ibu seharusnya menjadi hari bercermin, bukan sekadar hari perayaan. Hari untuk bertanya dengan jujur pada diri sendiri: Apakah aku masih menyempatkan waktu untuk ibu?

Apakah aku masih mendengarkan ceritanya yang berulang? Apakah aku hadir saat ia membutuhkan, bukan hanya saat aku membutuhkan? Jika belum, maka Hari Ibu belum benar-benar kita maknai.

Suatu hari, rumah akan terasa lebih sunyi. Tidak ada lagi suara lembut yang memanggil nama kita. Tidak ada lagi doa yang diam-diam dipanjatkan setiap malam. Dan saat malaikat itu kembali kepada Sang Pencipta, sering kali penyesalan datang terlambat.

Maka, selagi ibu masih ada, peluklah ia. Selagi ia masih mampu tersenyum, buatlah ia bahagia. Selagi doanya masih menyertai langkah kita, jangan pernah merasa sendiri. Karena Tuhan telah menitipkan malaikat terbaik-Nya di dunia, dan kita memanggilnya dengan satu kata sederhana namun penuh makna: Ibu. Selamat Hari Ibu. ***

Baca Berita Menarik Lainnya :