Search
Close this search box.

VISI | Mandiri Ekonomi di Era Ditjen Pesantren

Bagikan :

Oleh Nuslih Jamiat

  • Dosen Telkom University
  • Center of Excellence for SHE(Halal), Telkom University

Janji di Cipasung, Kado di Istana

2 Desember 2023, Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya

DI HADAPAN ribuan santri dan para kiai, seorang calon presiden berdiri dengan khidmat. Prabowo Subianto, yang saat itu masih berkampanye, membuat sebuah janji yang berbeda dari politikus lain.

“Bila kelak saya dipercaya memimpin Indonesia,” katanya dengan tegas, “saya akan melaksanakan amanah Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren secara sungguh-sungguh. Pesantren akan saya tempatkan sebagai salah satu arus utama sistem pendidikan dan pilar utama pembangunan bangsa.” Para kiai mengangguk. Santri bertepuk tangan. Tapi apakah ini hanya janji kampanye biasa yang akan menguap setelah pemilu selesai?

22 Oktober 2025—Janji itu Ditunaikan

Setahun berlalu. Prabowo kini Presiden RI. Dan sehari sebelum Hari Santri Nasional 2025, Presiden Prabowo Subianto menandatangani Surat Nomor B-617/M/D-1/HK.03.00/10/2025 tentang Persetujuan Izin Prakarsa Penyusunan Rancangan Peraturan Presiden tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 152 Tahun 2024 tentang Kementerian Agama Yunandra.

Artinya? Direktorat Jenderal (Ditjen) Pesantren resmi dibentuk.

Presiden Prabowo Subianto menyiapkan kado istimewa bagi seluruh santri di Indonesia, ditetapkan sehari sebelum Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2025, yaitu rencana pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren (Times).

Mensesneg Prasetyo Hadi menjelaskan: Pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren di bawah Kementerian Agama merupakan langkah konkret Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat perhatian negara terhadap dunia pesantren di Indonesia, menjadi bukti keseriusan pemerintah dalam menjaga keamanan, meningkatkan kualitas pendidikan, dan memperkuat kemandirian ekonomi pesantren (CNBC Indonesia).

42.000 Pesantren, 16 Juta Santri—Kekuatan yang Luar Biasa!

Saat ini ada sekitar 42.000 pesantren dengan sekitar 16 juta santri di Indonesia CNBC Indonesia. Bayangkan kalau semua pesantren ini mandiri secara ekonomi. Dampaknya untuk bangsa akan luar biasa. Dengan jumlah pesantren yang cukup besar, Presiden menghendaki agar proses pendidikan juga memberikan perhatian pada pembekalan ilmu pengetahuan berbasis teknologi dan ekonomi (JPNN).

Presiden Prabowo punya visi jelas: Presiden menilai perlunya perhatian lebih terhadap keamanan bangunan dan keselamatan santri, keamanan bangunan, mutu pendidikan pesantren, santri tidak hanya kuat dalam ilmu agama tapi juga dibekali ilmu pengetahuan, teknologi, dan ekonomi, agar santri bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan akhlak (CNBC Indonesia).

Pesantren = Pusat Ekonomi Umat

Baca Juga :  Menag Salurkan Rp596 Juta untuk Madrasah dan Guru Terdampak Longsor Cisarua

Fungsi pemberdayaan masyarakat menjadikan pesantren sebagai pusat ekonomi umat, berperan nyata dalam pengentasan kemiskinan, pemerataan kesejahteraan, dan penguatan kemandirian di tingkat lokal Yunandra. Utusan Khusus Presiden Bidang Ketahanan Pangan, Muhamad Mardiono, bahkan menegaskan: Pondok pesantren bukan hanya benteng akhlak, tetapi juga kekuatan ekonomi umat (Antara News).

Dukungan Nyata: Kemenag & Kemenkop Bersinergi

Dukungan pemerintah bukan hanya wacana. Kementerian Agama bersama Kementerian Koperasi dan UKM menandatangani nota kerja sama pembentukan dan pengembangan koperasi di lingkungan pondok pesantren, masjid, madrasah, hingga perguruan tinggi keagamaan sebagai upaya memperkuat kemandirian ekonomi umat (TribunNews).

Menteri Agama Prof KH Nasaruddin Umar optimis: Kalau seluruh pondok pesantren, madrasah, masjid, dan rumah ibadah bisa kita lakukan koperasi di balik itu, maka kekuatan ekonomi umat akan sangat hebat (TribunNews).

Menteri Koperasi Ferry Juliantono menambahkan: Perkembangan koperasi pesantren di Indonesia saat ini sangat cepat dan sudah banyak yang modern serta mampu bersaing (TribunNews).

Program Baznas: Santripreneur 2025

Badan Amil Zakat Nasional melalui program Santripreneur 2025 Klaster Usaha Peternakan sukses menggelar Bootcamp dan Grand Final di Kopontren Al Ittifaq, Ciwidey, Kabupaten Bandung, sebagai langkah konkret dalam membangun kemandirian ekonomi santri melalui penguatan kapasitas wirausaha di sektor peternakan (Detik News Indonesia).

Program ini bertujuan mencetak santri berjiwa wirausaha, mandiri, dan kompetitif, dengan santri kini tidak hanya dituntut unggul secara spiritual tetapi juga harus memiliki kompetensi ekonomi dan jiwa wirausaha (Detik News Indonesia).

Kisah Sukses yang Menginspirasi

Koperasi Pesantren: Dari Jutaan Jadi Triliunan

Pak Yusuf, pengurus koperasi di pesantren kecil di Cirebon, dulu pesimis. “Pesantren kami kecil, santri cuma 200 orang. Masa bisa punya usaha seperti Sidogiri?” pikirnya.

Tapi setelah mengikuti Bimtek (Bimbingan Teknis) dari Kemenkop dan dapat pendampingan dari LPDB, dalam 3 tahun omzet koperasi pesantrennya naik 500%! “Alhamdulillah, dari yang cuma kantin kecil-kecilan, sekarang kami punya unit simpan pinjam, toko bangunan, bahkan mulai ekspor kerajinan santri ke Malaysia,” ceritanya bangga.

Baca Juga :  Ini Tata Cara Sholat Tahajud Lengkap dengan Doanya

Ini bukan cerita tunggal. Sudah banyak pesantren sukses seperti berikut ini :

1. Koperasi Pesantren Sidogiri—Raja Koperasi Syariah
Koperasi Pondok Pesantren Sidogiri di Jawa Timur memiliki aset dan omzet hingga triliunan rupiah Republika Online. Dari modal awal Rp13 juta di tahun 1997, kini mereka jadi salah satu koperasi syariah terbesar di Indonesia.

2. Koperasi Ponpes Sunan Drajat—Omzet Rp350 Miliar!
Koperasi Pesantren Sunan Drajad di Lamongan, Jawa Timur, kini berkembang menjadi pusat distribusi dengan omzet mencapai Rp 350 miliar Newspatroli. Luar biasa!
Keberhasilan ini dicapai berkat komitmen pengurus untuk mengelola koperasi secara profesional dan konsisten mendapatkan pendampingan dari (Kemenkop iNews).

3. Koperasi Al-Ittifaq Bandung—Inspirasi untuk Semua
Wamenkop Farida berharap pesantren-pesantren yang belum memaksimalkan lembaga ekonominya dapat belajar dari contoh sukses seperti Koperasi Pondok Pesantren Al Ittifaq di Bandung (Liputan6).

Dana Bergulir LPDB: Rp4,5 Triliun untuk Koperasi Pesantren

LPDB Koperasi dalam bidang pemberdayaan dan penyaluran skim simpanan dari tahun 2020 sampai akhir Oktober 2025 telah menggulirkan sebanyak Rp4,5 triliun dengan penyaluran skim simpan pinjam sebesar Rp3,2 triliun dan sektor riil sebesar Rp1,3 triliun Republika Online. Dana segitu besar, dan pesantren bisa mengaksesnya.

Tips Praktis: Pesantren Anda Bisa Jadi Berikutnya

Langkah 1: Bentuk Koperasi Pesantren: Jangan takut modal kecil. Sidogiri mulai dari Rp13 juta, Anda pun bisa! Yang penting: niat kuat dan manajemen yang baik.
Langkah 2: Daftar dan Ikut Bimtek: Kemenkop menggelar Sosialisasi dan Bimtek Koperasi Pondok Pesantren untuk memberikan pemahaman mengenai regulasi dan prasyaratan pembiayaan LPDB (Republika Online).
Langkah 3: Ajukan Pembiayaan ke LPDB: LPDB dapat memberikan pinjaman hingga ratusan miliar rupiah kepada koperasi yang memenuhi syarat (Newspatroli). Kesempatan emas.
Langkah 4: Kelola Secara Profesional: Dari 2.347 Kopontren aktif, baru 668 koperasi atau sekitar 28,5 persen yang melaporkan Rapat Anggota Tahunan, padahal RAT menjadi salah satu instrumen terpenting bagi koperasi untuk menjalankan dan mengembangkan seluruh kegiatan usahanya (Republika Online). Jangan abaikan tata kelola yang baik.

Baca Juga :  ATEEZ Pamit dengan Air Mata di Jakarta, Janji Kembali untuk ATINY Indonesia

Langkah 5: Manfaatkan Jaringan Pesantren: Gus Ahmad dari Malang punya tips: “Kita bentuk network sesama koperasi pesantren. Saling berbagi pengalaman, saling bantu supply barang, bahkan gabung ekspo together ke luar negeri. Unity is strength.”

Tantangan & Solusinya
1) “Santri nggak ada yang ngerti bisnis“. Solusi: Latih santri senior. Kirim ke pesantren sukses untuk magang. Atau undang praktisi untuk training.
2) “Modal terbatas“. Solusi: Akses pembiayaan LPDB. Mulai dari unit usaha kecil dulu (kantin, toko), profit-nya diputar lagi.
3) “Takut gagal“. Solusi: Belajar dari yang sudah sukses. Join asosiasi koperasi pesantren. Minta pendampingan dari Kemenkop.

Era Keemasan Pesantren Telah Tiba

Kiai Hasyim, pengasuh pesantren besar di Jombang, berkaca-kaca saat mendengar kabar pembentukan Ditjen Pesantren. “Selama 30 tahun saya mengabdi di pesantren, baru kali ini saya lihat pemerintah benar-benar serius memperhatikan pesantren—bukan hanya spiritual tapi juga ekonomi.”

Dengan disetujuinya izin prakarsa ini, pemerintah membuka jalan bagi lahirnya Ditjen Pesantren sebagai lembaga yang akan memperkuat tiga fungsi utama pesantren secara lebih sistematis, inklusif, dan berkelanjutan menuju visi Indonesia Emas 2045 (Snki).

42.000 pesantren dengan 16 juta santri adalah kekuatan ekonomi yang luar biasa. Jika setiap pesantren punya koperasi yang sehat, kalikan saja dampaknya untuk ekonomi nasional.

Pondok pesantren memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pergerakan ekonomi, merupakan tempat berkumpulnya berbagai elemen masyarakat mulai dari anak muda, guru, hingga majelis yang semuanya memiliki potensi ekonomi (Liputan6).

Mari kita sambut era kebangkitan pesantren ini dengan semangat. Dari Cipasung Prabowo berjanji, dari Istana janji itu diwujudkan. Saatnya pesantren mandiri ekonomi, saatnya santri jadi penggerak ekonomi umat.

Wallahu a’lam bishawab. Semoga pesantren Indonesia semakin maju, mandiri, dan membawa berkah untuk bangsa. Aamiin Ya Rabbal Alamin.***

Baca Berita Menarik Lainnya :