Search
Close this search box.

VISI | Membangun Bangsa Dimulai dari Guru

Bagikan :

  • “Tuntutan literasi meningkat, tetapi keteladanan harus dimulai dari guru. Menulis adalah langkah pertama menuju bangsa yang kuat. Sudah siap?”

Oleh A. Rusdiana

  • Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung
  • Dewan Pembina PERMAPEDIS Jawa Barat
  • Dewan Pakar Perkumpulan Wagi Galuh Puseur.
  • Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al-Mishbah Cipadung Bandung
  • Yayasan Pengembangan Swadaya Mayarakat Tresna Bhakti Cinyasag Panawangan 

PERINGATAN Hari Guru Nasional (HGN) 2025 mengangkat tema “Guru Hebat, Indonesia Kuat.” Sebuah pesan kuat yang menempatkan guru sebagai pusat peradaban. Namun di balik semarak peringatan ini, ada satu pertanyaan yang seharusnya menggelitik kita semua: apakah guru sudah menjadi teladan dalam membaca dan menulis? Pertanyaan ini tidak muncul dari ruang kosong. Ia hadir karena dua momentum penting datang hampir bersamaan. Pertama, refleksi nasional pada Hari Guru. Kedua, pernyataan tajam Abdul Mu’ti dalam Munas IKAPI 2025, ketika ia mengingatkan bahwa bangsa ini tidak akan menjadi negara maju tanpa membangun budaya membaca dan menulis.

“Kalau kita tidak bangun budaya membaca dan menulis, kita tidak menjadi bangsa yang maju,” ujar Mu’ti. Pernyataan itu bukan sekadar kritik; ia adalah diagnosis paling jujur terhadap kelemahan literasi Indonesia. Dan di sinilah posisi strategis guru kembali diuji.

Guru Diminta Mendorong Literasi, Tapi Apakah Mereka Menulis?

Di kelas, siswa diminta membaca. Siswa diminta membuat resensi. Siswa diminta menulis refleksi. Tapi di balik semua itu, muncul satu pertanyaan yang sering terabaikan: apakah guru melakukan hal yang sama?

Literasi bukan tugas administratif. Literasi adalah budaya dan budaya hanya bisa tumbuh melalui keteladanan. Murid membaca karena mereka melihat gurunya membaca. Murid menulis karena mereka melihat gurunya menulis. Jika guru tidak menulis, bagaimana mungkin menulis dianggap penting oleh siswa? Jika guru tidak membaca, bagaimana mungkin murid merasa membaca itu bermakna? Semua kembali pada inti pendidikan: keteladanan adalah kurikulum yang tidak tertulis, namun justru paling diikuti.

Baca Juga :  Ketegangan Memuncak di Langit Pasifik: Jepang–China Saling Tuduh, Eskalasi Dipicu Dinamika Politik Baru

Mu’ti Mengingatkan: Kita Memiliki Luka Literasi yang Tak Kunjung Sembuh

Pernyataan Mu’ti dalam Munas IKAPI 2025 seharusnya menjadi alarm nasional. Ia menyinggung rendahnya minat membaca masyarakat Indonesia. Di sekolah, banyak siswa hanya mahir menonton, tetapi kesulitan memahami teks. Di ruang publik, diskusi dipenuhi komentar instan tanpa membaca isi, apalagi menuliskannya kembali dengan pemahaman. Ia juga menyinggung satu masalah klasik yang sering disembunyikan: guru terlalu dibebani administrasi. Energi terbaik guru sering habis untuk laporan rutin, bukan untuk membaca atau menulis. Padahal, hanya guru yang kuat literasinya yang mampu melahirkan generasi kuat.

Menulis: Identitas Profesional Guru yang Terlupakan

Menulis bukan sekadar aktivitas akademik ia adalah cermin profesionalisme. Guru yang menulis: lebih reflektif, lebih kreatif, lebih adaptif, lebih peka terhadap kebutuhan belajar murid, dan lebih berani memperbaiki praktik pendidikan.

Menulis membantu guru menemukan suara intelektualnya. Ia juga menjadi warisan pengetahuan untuk murid-muridnya. Bahkan satu tulisan pendek setiap minggu dapat menciptakan perubahan besar dalam cara guru mengajar dan berpikir. Bayangkan jika satu juta guru di Indonesia menulis minimal satu halaman refleksi setiap bulan. Dalam setahun, kita memiliki 12 juta gagasan yang memperkaya dunia pendidikan Indonesia. Itu bukan utopia, itu mungkin, jika budaya menulis dimulai dari guru.

Menutup Jurang Antara Seruan dan Keteladanan

Kita sering melihat kampanye literasi yang megah: gerakan membaca 15 menit, lomba resensi, kelas menulis, hingga program literasi berbasis sekolah. Namun kampanye tidak akan bertahan jika keteladanan tidak hadir. Guru bisa mengubah budaya literasi bangsa, tetapi hanya jika ia: (1) membaca secara rutin, (2) menulis secara konsisten, (3) menghidupkan kelas dengan gagasan, (4) dan menunjukkan bahwa literasi adalah gaya hidup, bukan tugas.

Baca Juga :  Jalan Penghubung Desa di Sukabumi Terdampak Longsor

Tema “Guru Hebat, Indonesia Kuat” hanya akan menjadi kenyataan jika guru kembali menyentuh pena, membuka buku, dan memulai kebiasaan sederhana yang membentuk generasi literat.

Bangsa Kuat Lahir dari Pena Guru

Indonesia tidak kekurangan orang cerdas. Yang kurang adalah budaya tekun dan budaya menulis. Maka benar apa yang disampaikan Mu’ti: bangsa tidak akan maju tanpa literasi yang kuat.

Dan literasi itu tidak dimulai dari murid.

Tidak dimulai dari kebijakan.

Tidak dimulai dari program.

Literasi dimulai dari guru.

Ketika guru menulis, murid pun menulis.

Ketika murid menulis, bangsa mendapat gagasan.

Dan dari gagasan itu, masa depan dibangun.

Bangsa kuat lahir dari guru yang menulis.

Kini tugas besar itu kembali ke meja guru. Di tengah derasnya tuntutan digital dan minimnya waktu luang, keteladanan tetap menjadi fondasi profesi pendidik. Menulis bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan untuk menjaga kewarasan intelektual bangsa. Guru yang menulis menghadirkan arah, bukan hanya instruksi. Ia memberi nyala, bukan sekadar ceramah. Jika setiap guru memulai dari satu paragraf sehari, maka kita sedang merawat harapan kolektif untuk masa depan. Hari Guru 2025 semestinya menjadi momentum kembali ke akar profesi: membaca, menulis, dan memberi teladan. Dari guru, bangsa ini menemukan pijakannya. Wallahu ‘alam.***

Baca Berita Menarik Lainnya :