Oleh Drajat
- Doktor Ilmu Pendidikan
- Wasekjen Komnasdik
- Hipnoterapis
- Mindshaper Nusantara
- Guru, serta APKS PGRI Prov. Jabar
DI TENGAH hiruk pikuk negeri yang kian gaduh, ada sesuatu yang mulai tumbuh dari rahim bangsa ini: anak muda yang kritis, berani, dan cerdas. Mereka bukan sekadar melek teknologi, melainkan melek realitas. Mereka membaca persoalan bangsa tanpa tedeng aling-aling, mengkritisi dengan data, mengoreksi dengan nalar, dan menantang kelaziman yang selama ini dibungkus kebijaksanaan palsu.
Generasi muda ini membawa harapan besar: harapan bahwa negeri ini suatu hari bukan hanya sejajar dengan bangsa lain, tetapi mampu melampaui mereka. Bukan karena kekayaan alam—yang kita keruk tanpa ampun—melainkan karena kecerdasan manusianya. Karena moralitas mereka. Karena keberanian mereka menegakkan kebenaran di hadapan kekuasaan yang kian kehilangan malu.
Namun harapan itu seperti layang-layang yang talinya ditarik keras oleh generasi tua yang enggan melepasnya. Mereka masih ingin terbang, meski sayapnya telah rapuh. Mereka masih ingin memimpin, meski waktunya telah lewat. Mereka masih ingin mengendalikan, meski negeri ini memerlukan pemikiran segar yang tak terikat kepentingan lama.
Generasi Tua yang Enggan Menepi
Ada yang aneh dengan republik ini: Di saat negara-negara maju berlomba menyiapkan tongkat estafet kepemimpinan kepada generasi baru, kita justru sibuk mempertahankan status quo yang usang. Kecerdasan, keberanian, dan kejernihan pikiran anak muda justru dianggap ancaman. Kritik dilabeli makar. Analisis dianggap subversif. Aspirasi dicurigai sebagai sabotase.
Generasi tua lupa. Kita semua lupa. Bahwa hidup ada batasnya, jabatan tidak abadi, kekuasaan tidak dibawa mati, dan kekayaan tidak pernah menjadi tiket keselamatan. Namun kerakusan hari ini justru dipamerkan setelanjang-telanjangnya. Kita menyaksikan bagaimana oligarki mengunci keputusan publik, bagaimana pemimpin politik lebih loyal kepada kolega bisnis ketimbang warga, bagaimana permainan uang menjadi “bahasa resmi” dalam urusan negara.
Dan ketika anak muda bersuara, mereka dibungkam. Ketika anak muda memprotes, mereka dicap pengganggu. Ketika anak muda mengingatkan, mereka dituduh tidak sopan kepada yang tua. Padahal sesungguhnya, generasi muda itulah yang sedang menjaga kewarasan bangsa ini dari kehancuran moral, ekologis, dan intelektual.
Kehilangan Kewarasan
Sulit menolak kesimpulan bahwa negeri ini sedang berada di tikungan berbahaya.
Tiap hari kita melihat tanda-tanda ketidakwarasan kebijakan publik: Sawit disebut sebagai tumbuhan hutan—dan hadirin bertepuk tangan. Ruang publik tersandera kepentingan keluarga dan kelompok. Hukum bekerja keras bukan untuk mencari kebenaran, tetapi mencari pembenaran. Bencana alam dianggap takdir, bukan akibat dari tangan-tangan serakah. Kebijakan pendidikan berubah sesering pergantian menteri. Kepala dinas pendidikan dipilih bukan berdasarkan kompetensi, tetapi kedekatan dan kesetiaan politik.
Dalam kondisi seperti ini, pertanyaan sederhana anak didik kita menjadi tamparan: “Pak, kok pemimpinnya bilang begitu? Bukannya salah?”
Bagaimana guru harus menjawab—ketika kebenaran ilmiah dibanting oleh kesombongan kuasa?
Jika negeri ini ingin tetap waras, maka satu-satunya pintu adalah pendidikan. Pendidikanlah yang mampu menumbuhkan nalar, melatih kebijaksanaan, menanamkan adab, dan menegakkan moralitas.
Namun, pendidikan kita justru kerap dijadikan percobaan tanpa henti—dari kurikulum, metode, sistem evaluasi, hingga model pelaporan. Seolah-olah pendidikan adalah laboratorium pribadi para pengambil kebijakan yang ingin meninggalkan jejak kepemimpinan.
Sementara itu, persoalan paling mendasar tak pernah disentuh: SDM pendidik, kualitas manajemen sekolah, ketepatan menempatkan pemimpin pendidikan, dan keberanian menindak mereka yang merusak integritas sekolah.
Kita lupa bahwa keberhasilan pendidikan tidak ditentukan oleh dokumen setebal kurikulum, tetapi oleh orang-orang yang menjalankannya. Dan ketika kepala dinas pendidikan dipilih bukan karena kompetensi, tetapi karena kedekatan politik, kita sedang menandatangani kontrak keterpurukan bersama.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang berani mempercayakan masa depannya pada generasi muda. Mereka bukan beban, mereka adalah aset. Mereka bukan murid yang harus diam, mereka adalah pemimpin masa depan yang sedang dipersiapkan.
Negeri ini tidak kekurangan anak muda yang visioner. Kita melihat: Anak muda yang berinovasi tanpa modal dari negara. Anak muda yang mampu membangun teknologi baru. Anak muda yang memimpin gerakan sosial berskala nasional, bahkan internasional. Anak muda yang berani bersuara ketika kebenaran dicederai.
Kita hanya kekurangan keberanian generasi tua untuk mundur. Sebab bangsa akan tumbuh jika yang tua mau merangkul, bukan menyingkirkan; mengarahkan, bukan membatasi; memberi ruang, bukan menguasai.
Saat pemimpin terus mempertahankan kekuasaan dengan segala cara, yang terjadi bukan keberlanjutan, melainkan stagnasi. Dan jika stagnasi terjadi terlalu lama, maka generasi muda akan diwarisi beban yang bukan mereka ciptakan.
Menjaga kewarasan bangsa bukan pekerjaan satu profesi. Ini pekerjaan bersama: Guru menjaga kewarasan nalar. Orang tua menjaga kewarasan moral. Pemimpin menjaga kewarasan kebijakan. Anak muda menjaga kewarasan masa depan.
Yang paling berbahaya bukanlah kebodohan, melainkan normalisasi kebodohan. Yang paling menghancurkan bukanlah kesalahan, melainkan pembiaran kesalahan. Yang paling memalukan bukanlah kritik anak muda, melainkan arogansi orang tua yang tak mampu menerima kritik.
Jika negeri ini ingin tetap berdiri tegak, maka kita harus melawan segala bentuk kebijakan yang tidak waras—kebijakan yang tidak berdasar ilmu, tidak berdasar nurani, dan tidak berdasar kepentingan rakyat.
Kewarasan sebuah bangsa tidak diukur dari banyaknya gedung tinggi atau jalan tol megah, tetapi dari bagaimana ia memperlakukan akal sehat warganya—terutama anak mudanya. Dan hari ini, kewarasan itu sedang terancam. Kita menyaksikan: bagaimana suara kritis diolok, bagaimana kebenaran ditawar-tawar, bagaimana kekuasaan dijadikan tameng, bagaimana pendidikan dijadikan ajang pencitraan, bagaimana kompetensi dikalahkan oleh kedekatan.
Karena itu, opini ini adalah panggilan: mari menjaga kewarasan—sebelum negeri ini benar-benar kehilangan akal sehat. Biarkan anak muda mengambil peran. Biarkan mereka memimpin dengan visi jernih, tanpa beban masa lalu. Biarkan mereka bekerja berdasarkan nalar, bukan dendam. Biarkan mereka berlari tanpa dirantai.
Sebab jika bangsa ini ingin maju, maka kita harus berani mengikhlaskan masa depan kepada mereka yang benar-benar masih memiliki masa depan.***












