Search
Close this search box.

VISI | Menjaga Kewarasan

Drajat

Bagikan :

Oleh Drajat

DUNIA pendidikan di negeri ini tengah menghadapi ujian berat. Kurikulum yang kerap berubah-ubah tanpa evaluasi mendalam membuat pendidikan kita seolah kehilangan arah. Belum selesai satu kurikulum dipahami oleh para guru, peserta didik, dan masyarakat, muncul kurikulum baru dengan wajah berbeda. Tidak jarang, perubahan itu lebih didorong oleh kepentingan politik sesaat ketimbang kebutuhan riil pendidikan.

Ironisnya, di tengah carut-marut sistem pendidikan, muncul narasi yang menyakitkan hati: dosen dan guru dianggap sebagai “beban negara”. Padahal, justru para guru dan dosen inilah yang setiap hari berhadapan langsung dengan anak-anak bangsa, membentuk karakter, membangun daya nalar, dan menanamkan nilai kebangsaan. Tanpa guru, negeri ini hanya akan menjadi tanah kosong yang dihuni generasi yang rapuh, mudah diombang-ambingkan arus globalisasi.

Lebih menyedihkan lagi, amanat Undang-Undang Dasar yang jelas-jelas menyatakan 20 persen APBN untuk pendidikan, kerap disunat dengan berbagai alasan. Program baru seperti Makan Bergizi Gratis boleh jadi populer secara politik, tetapi seringkali menggeser prioritas pendidikan yang substansial: peningkatan mutu guru, pemerataan sarana prasarana sekolah, dan akses pendidikan berkualitas bagi seluruh rakyat. Belum lagi jika kita bicara soal kebocoran anggaran dan budaya korupsi yang menggerogoti birokrasi.

Dalam situasi seperti ini, siapa yang masih bisa menjaga kewarasan negeri? Jawabannya: guru.

Guru adalah garda terdepan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana diamanatkan oleh konstitusi. Namun, dalam praktiknya, guru justru sering berada di posisi paling terjepit. Mereka dituntut untuk selalu menyesuaikan diri dengan kebijakan yang berubah-ubah, menghadapi beban administrasi yang menumpuk, tetapi tetap harus mengajar dengan penuh ketulusan.

Di sinilah letak kewarasan yang dijaga oleh guru. Di tengah kegaduhan politik dan birokrasi, guru tetap hadir di ruang kelas setiap pagi, menyapa anak-anak bangsa dengan senyum, menyemangati mereka untuk membaca, menulis, dan berpikir kritis. Guru menjaga agar ruang kelas tidak menjadi ruang kosong tanpa makna, melainkan ruang kehidupan tempat nilai-nilai luhur ditanamkan.

Baca Juga :  Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Kamis 5 Maret 2026

Kewarasan guru bukan hanya soal mengajar kurikulum formal, melainkan juga memberi teladan. Guru mengajarkan kejujuran di tengah budaya korupsi, menanamkan disiplin di tengah birokrasi yang penuh kelonggaran, menumbuhkan harapan di tengah narasi pesimisme.

Salah satu problem besar negeri ini adalah ketika pendidikan tidak lagi dipandang sebagai investasi jangka panjang, melainkan sebagai proyek politik jangka pendek. Program-program pendidikan sering menjadi alat pencitraan, bukan sarana peningkatan kualitas. Inilah yang membuat kurikulum kita tidak pernah ajeg, berganti seiring pergantian rezim.

Negara-negara maju justru berlomba-lomba membangun rakyat cerdas dengan konsistensi kebijakan pendidikan. Finlandia, misalnya, sejak tahun 1970-an menjalankan reformasi pendidikan yang konsisten, menempatkan guru sebagai profesi paling terhormat, dan tidak mudah mengubah kurikulum hanya demi kepentingan politik. Jepang menanamkan nilai disiplin, tanggung jawab, dan kerja keras sejak dini, dengan konsistensi kebijakan pendidikan lintas generasi.

Sementara di negeri ini, guru sering dipaksa menyesuaikan diri dengan “eksperimen” pendidikan yang tak berkesudahan. Bukankah ini bentuk pembodohan sistemik? Bukankah ini cara halus untuk melemahkan bangsa dari dalam?

Salah satu cara guru menjaga kewarasan adalah melalui literasi. Literasi bukan hanya kemampuan membaca dan menulis, melainkan juga kemampuan memahami informasi, memilah kebenaran, serta mengkritisi fenomena.

Di ruang kelas sederhana, guru bisa mengajarkan anak-anak untuk bertanya, mempertanyakan, dan mencari jawaban secara kritis. Di desa-desa terpencil, guru membuka perpustakaan kecil dari rak buku sumbangan, agar anak-anak tetap punya akses pada dunia luas. Dari kegiatan menulis jurnal sederhana, guru menanamkan kesadaran bahwa setiap manusia memiliki suara, dan suara itu layak dihargai.

Literasi inilah yang menjaga kewarasan bangsa. Di tengah arus informasi palsu, kabar bohong, dan manipulasi media sosial, literasi menjadi pagar agar generasi tidak mudah terseret arus kebodohan massal.

Baca Juga :  Langit Bandung Berawan, Siang Berpotensi Badai

Korupsi yang kian membudaya di kalangan pejabat negeri ini adalah ancaman nyata bagi masa depan. Jika anak-anak bangsa tumbuh dalam lingkungan yang melihat korupsi sebagai hal lumrah, maka runtuhlah masa depan moral kita.

Di sinilah guru memainkan peran vital sebagai benteng moral. Guru mengajarkan integritas, kejujuran, dan kesederhanaan bukan lewat ceramah panjang, tetapi lewat praktik nyata. Seorang guru yang hidup sederhana tetapi tetap penuh dedikasi, lebih ampuh sebagai teladan daripada seribu slogan antikorupsi.

Guru yang datang tepat waktu, menepati janji, dan menghargai usaha kecil muridnya, sedang menanamkan benih kejujuran dan disiplin. Inilah kewarasan yang sesungguhnya: membentuk karakter anak bangsa agar tidak ikut larut dalam arus pragmatisme dan materialisme.

Ketika pemerintah sibuk dengan retorika, guru sibuk menjaga harapan. Harapan bahwa anak-anak bangsa masih bisa bermimpi. Harapan bahwa pendidikan tetap bisa menjadi jalan mobilitas sosial. Harapan bahwa bangsa ini belum benar-benar kehilangan masa depan.

Guru yang terus mengajar meski dengan fasilitas minim, guru yang rela mendatangi rumah murid untuk memastikan mereka tidak putus sekolah, guru yang menyisihkan gaji kecilnya untuk membeli kapur tulis atau buku bacaan—mereka semua adalah penjaga kewarasan yang sesungguhnya.

Jika bangsa ini ingin selamat, maka negara harus belajar dari guru. Belajar tentang konsistensi, tentang ketulusan, tentang menjaga harapan. Pendidikan tidak bisa terus-menerus diperlakukan sebagai komoditas politik. Pendidikan harus dipandang sebagai investasi jangka panjang yang melampaui siklus lima tahunan.

Menjaga kewarasan negeri bukan tugas kecil. Tetapi selama masih ada guru yang berjuang dengan hati, selama masih ada ruang kelas yang menjadi tempat anak-anak bermimpi, maka kewarasan itu masih ada. Dan kewarasan itulah yang kelak menyelamatkan bangsa ini dari jurang kebodohan dan kehancuran moral.***

  • Doktor Ilmu Pendidikan, Wasekjen Komnasdik, dan Hipnoterapis

Baca Berita Menarik Lainnya :