Search
Close this search box.

VISI | Noel, From Zero to Zero

Bagikan :

 

Oleh Aep S Abdullah

KALAU ada tokoh politik yang bisa jadi bahan stand-up comedy politik, namanya Immanuel Ebenezer alias Noel. Dari dulu orang mengenalnya sebagai aktivis jalanan, dengan gaya orasi bakar-bakar semangat mahasiswa. Tapi siapa sangka, jalan hidupnya berputar seperti roda judi online: kadang naik, kadang turun, dan kini, jatuhnya benar-benar menyakitkan—dari nol, ke atas, lalu kembali ke nol.

Perjalanan Noel penuh paradoks. Ia pernah berdiri gagah di barisan relawan Jokowi, jadi “suara lantang” melawan oligarki, tapi begitu dekat kekuasaan, justru ikut menenggak manisnya. Dari relawan ia masuk lingkaran komisaris BUMN, lalu nyebrang jadi timses Prabowo, dan sukses duduk di kursi empuk Wakil Menteri Ketenagakerjaan. Sebuah lompatan karier yang tidak mungkin terjadi kalau semata-mata mengandalkan CV.

Namun, Kamis malam (21/8/2025), KPK menggelar OTT yang menyeret nama Noel. Penyidik menangkapnya bersama 14 orang lain dalam kasus dugaan pemerasan dalam pengurusan sertifikat Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Ironisnya, sertifikat yang harusnya menjaga nyawa pekerja, justru dijadikan mesin uang.

KPK menyebut ada puluhan miliar rupiah aliran dana dari perusahaan yang “dipaksa” mengurus sertifikat K3. Dalam operasi itu, penyidik bahkan menyita 19 kendaraan termasuk yang tergolong mewah—dari mobil sport hingga motor gede—yang disebut-sebut terkait dengan para tersangka. “Benar, kasus ini terkait sertifikasi K3. Ada dugaan pemerasan dan gratifikasi,” kata Wakil Ketua KPK Fitroh Rohcahyanto.

Sialnya, Noel tidak hanya berhadapan dengan jeratan pasal suap dan gratifikasi, tapi juga pasal pemerasan. Jika terbukti, ancaman maksimalnya 20 tahun penjara. Tak tanggung-tanggung, harta-harta yang sempat muncul di media sosial juga disita KPK. Dari nol, kaya raya, lalu kini kembali ke nol.

Baca Juga :  Dari Komitmen ke Aksi, NTB Perkuat Integrasi Pembangunan Rendah Karbon dalam RPJMD

Pengamat politik dari Universitas Indonesia, Bambang Heryanto, berkomentar tajam: “Kasus Noel ini adalah cermin banalitas kekuasaan. Aktivis yang dulu teriak moralitas, begitu dekat dengan kursi kekuasaan, lupa asal-usulnya. Relawan politik seringkali hanya menukar idealisme dengan akses rente.”

Timeline hukumnya makin menyesakkan. Setelah ditangkap Kamis malam, Jumat pagi Noel resmi diumumkan tersangka. Sabtu, aset-asetnya disita. Senin depan, ia dijadwalkan jalani pemeriksaan lanjutan. Lalu, paling cepat dua pekan lagi, KPK akan melimpahkan berkas ke Kejaksaan. Proses hukum cepat ini disebut-sebut karena bukti yang sudah terlalu terang benderang.

Masyarakat pun heran, bagaimana bisa orang yang mengaku berjuang untuk pekerja justru merampok di sektor yang sama? Bukankah sertifikat K3 itu syarat wajib demi keselamatan buruh di lapangan? Alih-alih memperjuangkan hak pekerja, Noel justru memperjualbelikan dokumen keselamatan. Satire sejarah bagi pekerja benar-benar menemukan tokoh barunya.

Kalangan DPR pun terhenyak. Beberapa legislator dari Komisi IX terang-terangan menyindir. “Kalau begini, wajar buruh demo terus. Bukan hanya soal upah, ternyata nyawa mereka pun dijadikan bisnis,” kata seorang anggota dewan. Komentar ini langsung viral karena menggambarkan betapa bobroknya tata kelola di kementerian.

Publik di medsos lebih kejam lagi. Meme Noel bertebaran: dari gambar “From Hero to Zero”, sampai editan foto dirinya sedang memegang borgol bertuliskan “K3: Korupsi, Kolusi, Konsesi.” Satire netizen ternyata lebih pedas daripada kolom opini koran nasional.

Di sisi lain, pemerintah harus bergerak cepat. Posisi Wakil Menaker yang kosong praktis akan diisi plt. Presiden Prabowo, yang dikenal tegas soal korupsi, belum mengeluarkan pernyataan resmi. Namun rumor politik beredar: posisi Noel akan diisi oleh kader partai lain yang lebih loyal. Politik memang tidak mengenal belas kasihan.

Baca Juga :  Menakjubkan! 5 Wisata Alam di Subang 2026 yang Wajib Dikunjungi

Pengamat hukum pidana dari UGM, Retno Mardiani, menegaskan: “KPK punya momentum untuk menunjukkan taringnya. Kasus ini tidak sekadar korupsi kecil, tapi menyangkut keselamatan pekerja. Harus dihukum maksimal agar ada efek jera.” Ucapannya mendapat banyak dukungan publik.

Ironinya, saat proses hukum mulai berjalan, Noel kabarnya justru dilarikan ke rumah sakit. Informasi yang beredar, konon katanya gula darahnya naik drastis setelah ditetapkan tersangka. Satire politik Indonesia memang selalu lengkap: begitu ditangkap, mendadak sakit. Publik pun menyindir, “Sehat saat merampok, sakit saat ditangkap.”

Kini, kisah Noel adalah pelajaran pahit tentang perjalanan aktivis yang lupa akar. Dari jalanan ke kursi wamen, dari zero ke hero, dan kini kembali ke zero. Sejarah mencatat, dari sekian banyak relawan yang pernah dielu-elukan, hanya segelintir yang bisa bertahan dengan integritas. Noel bukan salah satunya.

Dan di penghujung cerita ini, satire rakyat masih terus berlanjut: “Kalau ada pelatihan K3, artinya apa? Keselamatan, Kesehatan, dan… Korupsi.” Dari zero to zero, Noel pun tinggal menunggu vonis hakim.***


 

Baca Berita Menarik Lainnya :