VISI | Pemilu Selesai, Akankah RS Jiwa Membludak?

Editor Prima Trisna Aji. /visi.news/foto dan karikatur rihad humala
Silahkan bagikan

Oleh Prima Trisna Aji

DUNIA dengan segala dinamika selalu menjadi topik pembahasan setiap harinya. Dunia oh dunia, mungkin itu yang banyak dibahas oleh banyak guru dan ustadz ketika mengisi materi baik pembelajaran dikelas ataupun ketika di majelis. Dunia memang terkenal sangat hijau, kenapa dibilang sangat hijau? Dikarenakan dunia itu sangat nikmat dan sangat menggiurkan bagi para manusia yang mengejar kenikmatan dunia.

Kenikmatan dunia memanglah sangat menggiurkan, ketika sudah mendapatkan kenikmatan dunia maka apapun yang ingin dicapai manusia di   bisa diwujudkan dengan kekuasaannya yang telah dicapai. Kenikmatan dunia terdiri dari 3 kategori yaitu: harta, tahta dan wanita. Salah satu langkah untuk mendapatkan “tahta” adalah dengan menjadi pejabat publik, salah satunya adalah menjadi calon anggota legislatif (Caleg) DPRD, DPD, DPR, bupati, walikota, gubernur hingga presiden melalui pemilu.

Sebentar lagi pada tanggal 14 Februari 2024 di Indonesia akan menggelar pesta rakyat yang sangat besar yaitu pemilu. Pada momentum tersebut para wakil rakyat akan berlomba – lomba berkampanye mempromosikan dirinya sendiri supaya bisa terpilih menjadi anggota legislatif ataupun pemimpin negara dan pemimpin daerah.

Rakyat akan ditawarkan dengan janji – janji manis para caleg yang berkeinginan supaya dapat dipilih dalam pesta rakyat lima tahunan tersebut.

Variasi janji kampanye para caleg beraneka ragam, dari janji yang luar biasa mengiming – imingkan kesejahteraan, uang, hidup mapan hingga janji yang biasa saja. Tak ayal banyak para caleg yang mengobral janji mereka walaupun pada akhirnya mereka tidak dapat menepatinya. Di dalam pikiran mereka focus utama yang terpenting terpilih dahulu, masalah janji ditepati atau tidak adalah urusan belakangan.

Padahal, bagi para caleg akan mengalami celaka yang luar biasa apabila mereka menyepelekan janji, karena janji tersebut termasuk hutang yang akan ditagih dihari akhirat pembalasan nantinya. Terkadang mereka tidak sadar bahwa jabatan yang dikejar mereka hanyalah sementara dan bahkan sudah ditentukan dalam tenggat waktu hanya 5 tahun.

Baca Juga :  PPKM Level 4 Cukup Efektip Cegah Penyebaran Covid-19

Untuk bisa mendapatkan jabatan tersebut, mayoritas banyak yang menggunakan segala cara dari bujuk rayu, visi misi, uang hingga fasilitas hidup. Bahkan diantaranya akan dijanjikan untuk mendapatkan jabatan.

Bukan rahasia umum lagi, bahwa banyak caleg yang menggelontorkan dana besar untuk bisa menjadi anggota legislatif ataupun pemimpin daerah. Bahkan didalam tayangan podcast dari narasumber pelaku langsung yang wajahnya disamarkan menyampaikan bahwa untuk dapat menjadi Caleg DPR Pusat untuk bisa terpilih minimal harus menggelontorkan dana sebesar 40 Miliar.

Uang tersebut digunakan untuk kampanye, dana partai, logistik, acara panggung hiburan, kader dan untuk memberikan uang pelicin bagi warga pemilihnya. Bahkan uang 40 Miliar tersebut belum jaminan bisa otomatis terpilih apabila saingan mereka juga menggelontorkan uang yang lebih diatas 40 Miliar.

Jadi tidak heran apabila setelah Pemilu selesai, banyak ditemukan caleg yang stres hingga depresi bahkan banyak yang mengalami gangguan jiwa dikarenakan kalah dalam pemilihan umum. Ekspektasi mereka yang berlebihan membuat mereka tidak bisa mengendalikan koping sistem individu mereka dengan baik sehingga mereka menjadi stres, depresi, frustasi bahkan hingga menjurus ke perilaku bunuh diri.

Uang yang mereka gelontorkan bermiliar – miliar melayang begitu saja, bahkan setelah pemilu banyak caleg yang gagal yang stres karena banyak hutang dan mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.

Dari data Kemenkes di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dan Rumah Sakit Jiwa (RSJ) bahwa data caleg yang masuk di Rumah Sakit Jiwa pada Pemilu 2019 terjadi lonjakan peningkatan signifikan daripada Pemilu 2014 sebelumnya. Karena pada Pemilu 2024 saat ini jumlah caleg yang ikut bertarung adalah sebesar 245.106 caleg. Dimana caleg yang terpilih hanya sebesar 10%, otomatis 90% caleg harus menerima kenyataan untuk tidak bisa masuk dalam legislatif.

Apabila pemilu kita masih banyak yang memakai politik uang maka sistem demokrasi di Indonesia tidak akan berjalan dengan baik. Bahkan apabila caleg terpilih menggunakan politik uang, maka hal pertama yang mereka pikirkan adalah bagaimana caranya supaya bisa “balik modal” atas uang yang telah mereka keluarkan.

Baca Juga :  Haplah Satu Abad NU | Bupati Bandung Minta NU Lebih Solid dan Lebih Kompak

Solusinya adalah untuk mencegah politik curang yaitu perlu dilakukan perbaikan sistem pemilu dan sistem demokrasi dengan baik. Yang paling penting memperbaiki landasan utama sejak dini untuk menanamkan kesadaran kepada masyarakat dan warga supaya menolak politik uang serta memilih caleg yang amanah, jujur dan takut akhirat. Selain itu perlu dibentuk badan khusus dari KPU yang berperan untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat. Badan khusus tersebut juga bertugas memberikan pembekalan pada caleg yang akan maju dalam pemilihan umum baik dari segi psikologis maupun dari segi agama supaya menjadi pemimpin yang amanah, jujur dan takut akan akhirat.

Pemimpin yang amanah, jujur dan takut akan akhirat tidak akan pernah berani sedikitpun untuk berbuat curang ataupun bermain politik uang. Karena mereka sadar bahwa apa yang mereka kerjakan akan dihisab diakhirat kelak atas apa yang telah mereka perbuat. Bahwa apabila kezaliman terus dilakukan, maka akan bisa mengundang murka dari Allah SWT kepada pelakunya baik di dunia dan di akhirat.

Bahkan di dunia nyata banyak contoh para anggota DPR yang korupsi kemudian ketika meninggalnya banyak keganjilan. Tentunya hal ini harus membuat kita menjadi lebih waspada dan hati – hati dalam melangkah karena apa yang kita perbuat di dunia akan dihisab di akhirat serta dimintai pertanggungjawaban meskipun hanya sebesar biji zaroh.

Solusinya bagi yang mereka yang sudah terlanjur melakukan hal yang fasik dan curang, tentunya hal pertama yang harus dilakukan adalah segera melakukan taubatan nasuha kepada Allah SWT dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

Dengan taubatan nasuha yang benar maka akan membuat hidup kita menjadi lebih tenang serta berkah dalam melangkah hidup ke depan.

Bahwa penyebab utama terjadinya gangguan jiwa pada caleg yang gagal adalah mereka sudah terjangkit penyakit mental dimana psikis mereka terganggu dalam hal beradaptasi terhadap stimulus dari luar yang berlebihan.

Baca Juga :  Ketua KPU Karawang Nyatakan Mengundurkan Diri, Ada Apa?

Dimana penyebab dari penyakit mental ini akan muncul secara tiba – tiba seperti dalam teori Neo Freud dimana masalah ini memang tidak bisa diprediksi sebelumnya yang penyebab utamanya adalah daya tahan diri yang rapuh.

Bahwa masalah yang terjadi pada caleg yang gagal salah satunya adalah terjadinya konsep diri yang bermasalah. Masalah konsep diri terjadi dikarenakan terjadi gejolak antara cita-cita dan harapan pada manusia tersebut.

Masalah Konsep diri bisa terjadi dikarenakan terjadi gejolak antara cita – cita dan harapan manusia yang tidak sesuai dengan ekspektasi realita kenyataan yang terjadi. Terutama pada manusia yang memiliki daya tahan yang rapuh, manusia tersebut tidak akan mempunyai koping adaptasi yang baik ketika masalah yang besar muncul pada dirinya secara tiba – tiba.

Stres pasca pemilu tahunan terutama pada Pemilu 2024 besok tidak selalu bisa diprediksi kisaran jumlah penderitanya. Hal ini dikarenakan seperti fenomena gunung es, dimana dari luar permukaan atasnya nampak baik – baik saja, tetapi dibawahnya sudah siap untuk meledak.

Apabila dianalogikan pada sebuah penyakit maka seperti bencana alam yang yang bisa datang tiba – tiba serta dalam skala yang besar.

Dalam teorinya tentang Pemilu 2024 bahwa untuk mengantisipasi terjadinya fenomena kasus caleg stres dalam skala besar maka sebelum persiapan pemilu para caleg diwajibkan mengikuti pembekalan mental baik dari segi pembekalan psikologis juga pembekalan rohani dalam bidang agama.

Ketika seseorang mempunyai landasan agama yang kuat maka mereka akan menghindari praktek curang serta memiliki psikologis yang baik dalam menghadapi masalah. Sehingga dengan persiapan mental yang baik maka akan mengurangi resiko ledakan caleg stres yang masuk ke Rumah Sakit Jiwa ketika gagal dalam pemilu tahun 2024.

  • Dosen Spesialis Medikal Bedah
    Lincoln College University Malaysia

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Penilaian Tahap Akhir, Ning Sasha : Warisan Terbaik Adalah Lingkungan Yang Bersih

Jum Des 8 , 2023
Silahkan bagikanVISI.NEWS | SIDOARJO – Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Sidoarjo, Hj. Sa’adah Ahmad Muhdlor meminta kepada 10 nominasi peserta Sido Resik untuk terus menjaga dan merawat kali yang telah tumbuh menjadi desa wisata di Kabupaten Sidoarjo agar menjadi warisan terbaik untuk generasi berikutnya. Hal ini disampaikan saat melakukan penilaian […]