Search
Close this search box.

VISI | Satu Abad NU, Teladan Santri Mbah Hasyim

Ilustrasi. /visi.news/ai

Bagikan :

Oleh Bambang Melga

  • Dosen
  • Ketua LTN NU Kab. Bandung
  • Dewan Pakar ICMI Kab. Bandung

PERINGATAN Harlah 1 Abad Nahdlatul Ulama hari ini, bukan sekadar perayaan usia, melainkan momentum muhasabah, refleksi mendalam, untuk meneguhkan kembali jati diri NU sebagai jam’iyah diniyah ijtima’iyah, yang lahir dari nilai-nilai keikhlasan, keilmuan, dan perjuangan para ulama, khususnya Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari.

Menjadi santri Mbah Hasyim Asy’ari di usia satu abad NU bermakna lebih dari sekadar menjaga tradisi amaliyah. Ini adalah komitmen moral untuk memegang teguh nilai amanah, integritas, dan visi kepemimpinan dalam menjalankan roda organisasi.

Nilai-nilai inilah yang seharusnya menjadi karakter utama setiap pemimpin NU, baik di tingkat PBNU, PWNU, maupun PCNU, yang jauh dari koptasi

Kepemimpinan di tubuh Nahdlatul Ulama tidak cukup hanya kuat secara struktural, tetapi harus kokoh secara moral. Transparansi dan akuntabilitas dalam mengelola amanah jam’iyah merupakan keharusan, agar NU tetap menjadi organisasi yang dipercaya oleh warga nahdliyinnya sendiri, yang jauh dari gosip dan pergunjingan negatif.

Contoh adanya konflik internal di PBNU, antara Rais Aam, dan Ketua Tanfiziah, merupakan hal tak elok yang seharusnya tidak terjadi.

Ketika pemimpin mampu menunjukkan keteladanan, maka NU akan melahirkan figur-figur role model yang layak diikuti dan dijadikan panutan.

Tantangan NU ke depan semakin kompleks. Di tengah dinamika sosial, politik, dan globalisasi, Nahdlatul Ulama dituntut untuk tampil lebih optimis dan progresif dalam merawat kepercayaan warga nahdliyin. Namun harus disadari, ancaman terbesar bagi NU seringkali bukan datang dari luar, melainkan dari internal organisasi sendiri, ketika nilai amanah dan komitmen perjuangan mulai diabaikan.

Dalam konteks inilah, keberanian untuk bersuara secara jujur dan bertanggung jawab menjadi bagian dari ikhtiar menjaga marwah organisasi. Ketegasan dalam menyampaikan kebenaran bukanlah bentuk perpecahan, melainkan wujud cinta dan tanggung jawab terhadap jam’iyah, terutama ketika amanah tidak lagi dijalankan sebagaimana mestinya.

Baca Juga :  Jadwal SIM Keliling Kota Cimahi Hari Ini, Selasa 27 Januari 2026

KH. Hasyim Asy’ari telah mengajarkan bahwa kebenaran harus ditegakkan dengan adab, tetapi tidak boleh dikorbankan demi kepentingan sesaat. Prinsip inilah yang perlu terus dihidupkan agar NU tetap berada pada rel perjuangan yang benar.

Sebagaimana sebuah rangkaian kereta api, ketika lokomotif sebagai penggerak utama mengalami kerusakan atau kehilangan arah, maka gerbong-gerbong di belakangnya tidak akan mampu berjalan secara optimal. Analogi ini mengingatkan kita bahwa kualitas kepemimpinan di tubuh NU sangat menentukan kekuatan dan keberlangsungan jam’iyah secara keseluruhan.

Memasuki abad kedua, Nahdlatul Ulama membutuhkan pemimpin-pemimpin yang benar-benar menjadi santri Mbah Hasyim Asy’ari—amanah dalam jabatan, berintegritas dalam sikap, visioner dalam langkah, serta transparan dalam mengelola kepercayaan jam’iyah. Dengan demikian, NU akan tetap menjadi rumah besar yang menenteramkan, dipercaya, dan mampu memberi arah bagi umat dan bangsa.***

Baca Berita Menarik Lainnya :