- Menolak Jujur, Merayakan Kepalsuan
Oleh Drajat
DI SEBUAH negeri yang jauh di angan-angan, berdirilah sebuah institusi pendidikan megah yang dikenal dengan nama Sekolah Imajiner. Sekilas tak ada yang aneh dari luar: bangunan berdiri kokoh, cat tembok masih segar, baliho besar memajang kata-kata indah seperti “Integritas”, “Kompetensi”, dan “Berprestasi”. Namun, begitu kita menyelami kehidupan di dalamnya, maka terbukalah tabir kenyataan bahwa segala sesuatu di Sekolah Imajiner berdiri di atas fondasi yang terbalik dari nilai-nilai ideal pendidikan.
Di Sekolah Imajiner, kejujuran adalah musuh utama. Jujur adalah aib. Guru yang berusaha mendidik dengan jujur dianggap aneh, bahkan dijauhi. Murid yang tidak mencontek dalam ujian dianggap bodoh. Sistem nilai di sekolah ini memang dibangun sedemikian rupa, sehingga siapa pun yang berusaha menegakkan kejujuran justru dianggap penghambat kemajuan. Lebih jauh, mereka yang berjuang menjaga integritas seringkali dikorbankan demi stabilitas sistem yang penuh kepura-puraan.
Di sekolah ini, bukan kebenaran yang dicari, melainkan persepsi. Asal terlihat baik di laporan, maka semuanya dianggap beres. Laporan keuangan disulap demi kelulusan audit. Nilai siswa direkayasa demi akreditasi. Program kegiatan dibuat bukan untuk kebermanfaatan peserta didik, tapi sekadar formalitas untuk menyerap anggaran. Bahkan guru yang tidak pernah mengajar tetap dilaporkan aktif dan berprestasi.
Kepala sekolah ideal di Sekolah Imajiner bukanlah mereka yang punya kompetensi kepemimpinan atau keilmuan, melainkan mereka yang piawai menjaga harmoni semu dengan pihak-pihak berpengaruh. Untuk mendapat jabatan, yang dibutuhkan bukan visi pendidikan, tapi seberapa tebal mahar yang dibawa. Proses seleksi pun bukan soal kapasitas, tapi siapa yang paling dekat dengan pengambil keputusan.
Di negeri ini, meritokrasi adalah istilah asing yang tak pernah mendapat tempat. Mereka yang punya gagasan segar, integritas tinggi, dan rekam jejak cemerlang justru disingkirkan karena dianggap membahayakan status quo. Jabatan pengawas, kepala bidang, bahkan kepala dinas, bisa jatuh kepada siapa pun asal memenuhi tiga syarat: dekat secara politis, punya loyalitas tanpa logika, dan tidak banyak bertanya.
Di sinilah tragedi terbesar pendidikan terjadi. Guru-guru yang ingin berkembang justru merasa sendirian. Mereka yang ingin belajar dengan biaya sendiri, mencari pelatihan ke sana kemari, bahkan membeli buku referensi tanpa dukungan sekolah, dianggap berlebihan. Padahal, merekalah harapan sejati pendidikan. Namun, di Sekolah Imaginer, guru model seperti itu dianggap ‘tidak tahu diri’ karena tidak ikut arus kemapanan palsu.
Bayangkan, dalam dunia ideal, guru jujur dan berdedikasi seharusnya mendapat tempat terhormat. Tapi di Sekolah Imaginer, mereka hanya jadi penonton di pinggir lapangan. Justru yang tidak profesional, asal dekat dengan kekuasaan, akan terus dipromosikan. Yang aktif menulis, membaca, dan berbagi ilmu dicap sok pintar, sedangkan yang hanya hadir secara fisik tapi absen secara pemikiran malah jadi teladan.
Lebih menyedihkan lagi, murid pun dididik dalam iklim semacam ini. Mereka belajar dari sistem bahwa kepalsuan adalah jalan sukses. Mereka mengamati guru yang curang, kepala sekolah yang manipulatif, dan orang tua yang selalu menyuap demi kelulusan. Perlahan tapi pasti, anak-anak bangsa ini tumbuh dengan pemahaman bahwa integritas hanyalah mitos dan bahwa keberhasilan bisa dibeli, bukan diperjuangkan.
Sekolah yang seharusnya menjadi tempat suci menanamkan nilai-nilai luhur malah berubah menjadi arena kompromi moral. Di Sekolah Imajiner, pendidikan hanya sebatas formalitas administratif. Tidak ada refleksi mendalam tentang peran guru sebagai pembentuk karakter bangsa. Tidak ada evaluasi jujur tentang sejauh mana sekolah memberi dampak positif bagi siswa, yang ada hanyalah parade pencitraan dan seremonial belaka.
Namun, harapan belum sepenuhnya padam. Di sudut-sudut kecil yang sepi, masih ada guru yang setia menulis jurnalnya sendiri, masih ada kepala sekolah yang mencoba melawan sistem dengan cara-cara santun tapi teguh, masih ada pengawas yang memilih memotivasi ketimbang mengintimidasi. Mereka adalah cahaya kecil di tengah kelamnya Sekolah Imajiner.
Tulisan ini bukan untuk menyerah, melainkan untuk mengingatkan. Kita tidak boleh membiarkan Sekolah Imajiner menjadi cermin dari sekolah-sekolah kita yang nyata. Kita harus berani mengembalikan marwah kejujuran sebagai ruh utama pendidikan. Pemerintah, pemangku kebijakan, komunitas guru, orang tua, dan semua pihak harus bersama-sama menolak budaya manipulasi yang menindas nilai kejujuran.
Sudah waktunya sistem dikembalikan ke rel yang benar: berdasarkan kompetensi, dedikasi, dan integritas. Pendidikan adalah urusan masa depan bangsa. Maka, jangan biarkan ia dibajak oleh mereka yang menolak jujur dan lebih suka hidup dalam dunia imajiner. Mari bangun sekolah yang sebenar-benarnya, bukan hanya dalam laporan, tapi dalam nurani dan tindakan nyata.***
- Penulis, Doktor Ilmu Pendidikan, Guru, Praktisi Pendidikan dan Hipnoterapis