Oleh Drajat
- Guru
- Doktor Ilmu Pendidikan
- Wasekjen Komnasdik
- Hipnoterapis Transformasi Indonesia
- Mindshaper Nusantara
- APKS PGRI Prov. Jabar
SEMAKIN hari, negeri ini seperti tidak baik-baik saja. Ketidakadilan dipertontonkan tanpa rasa sungkan. Ketimpangan seolah menjadi tontonan rutin. Harga kebutuhan pokok melonjak, pemutusan hubungan kerja terjadi di berbagai sektor, dan masyarakat kecil semakin terjepit oleh biaya hidup yang tak ramah.
Di sisi lain, sebagian pemimpin dan elite tampak kebal kritik. Seolah ada jarak yang lebar antara kenyataan di lapangan dan keputusan di meja kekuasaan. Dalam situasi seperti ini, metafora menjadi cara yang aman sekaligus tajam untuk bercermin.
Penulis, sebagai guru matematika dan praktisi pendidikan, menggunakan sebuah perumpamaan: vampir. Bukan vampir dalam arti harfiah, tetapi simbol dari sifat rakus, tamak, dan tidak pernah merasa cukup. Sosok yang hanya bisa bertahan hidup jika terus “mengisap darah” mengambil yang bukan haknya, memanfaatkan jabatan, dan mengabaikan penderitaan orang lain. Pertanyaannya: bagaimana jika sifat vampir itu menular?
Logika Vampir dan Deret Geometri
Mari kita masuk ke ruang kelas matematika. Bayangkan ada satu vampir. Setiap Malam Jumat, ia mengisap satu manusia. Korban itu pun berubah menjadi vampir. Artinya, jumlah vampir selalu berlipat dua setiap pekan. Minggu pertama: 1 vampir. Minggu kedua: 2 vampir. Minggu ketiga: 4 vampir. Minggu keempat: 8 vampir. Dan seterusnya. Ini bukan sekadar cerita horor. Ini adalah deret geometri dengan rasio 2. Rumusnya sederhana:
Di minggu ke-10, jumlahnya menjadi 1.024 vampir. Di minggu ke-20, melonjak menjadi 33.554.432 vampir. Di minggu ke-33, mencapai 8.589.934.592 vampir melebihi jumlah manusia di bumi.
Secara matematis, ini disebut pertumbuhan eksponensial. Ia tampak kecil di awal, tetapi meledak tak terkendali dalam waktu relatif singkat. Sekarang, mari kita keluar dari angka dan kembali ke realitas sosial.
Jika satu orang yang memiliki kuasa melakukan praktik zalim atau koruptif, lalu perilaku itu ditoleransi, ditiru, atau bahkan dianggap wajar, maka ia akan menyebar seperti pola vampir tadi. Satu orang menyalahgunakan jabatan. Dua orang ikut. Empat orang menormalisasi. Delapan orang membela. Enam belas orang menikmati. Dalam waktu singkat, sistem yang seharusnya sehat berubah menjadi ekosistem vampir.
Bahaya terbesar bukan pada satu vampir, melainkan pada normalisasi vampirisme. Ketika ketamakan dianggap biasa. Ketika kejujuran dianggap lugu. Ketika integritas dianggap kelemahan. Maka kita tidak lagi sedang menghadapi individu bermasalah, tetapi budaya yang terinfeksi.
Di sekolah, kita mengajarkan nilai kejujuran, tanggung jawab, dan empati. Kita berbicara tentang malaikat kebaikan—simbol moralitas dan cahaya. Namun anak-anak bukan hanya belajar dari buku. Mereka belajar dari realitas. Bagaimana guru menjelaskan kejujuran jika ketidakjujuran terlihat tak tersentuh? Bagaimana menjelaskan kerja keras jika ketamakan tampak lebih cepat kaya?
Inilah kebingungan moral yang sedang kita hadapi. Pendidikan berdiri di antara dua dunia: dunia ideal yang diajarkan di kelas, dan dunia nyata yang sering bertolak belakang. Jika dibiarkan, peserta didik akan mengalami disonansi: antara nilai yang diajarkan dan kenyataan yang disaksikan.
Sekolah Vampir
Izinkan penulis berandai-andai: bagaimana jika ada “Sekolah Vampir”? Sekolah ini bukan untuk mengajarkan cara mengisap darah, tetapi tempat rehabilitasi moral. Tempat di mana para vampir para koruptor, para pemimpin yang lupa nurani dididik kembali menjadi manusia.
Apa kurikulumnya? Pertama, Matematika Pertumbuhan Dosa: Menghitung bagaimana satu kebohongan melahirkan seribu kebohongan lain. Kedua, Fisika Tanggung Jawab: Setiap aksi memiliki reaksi. Setiap keputusan publik memiliki konsekuensi sosial. Ketiga, Biologi Empati: Memahami bahwa di balik angka statistik ada manusia nyata yang terluka.
Keempat, Sejarah Kejatuhan Kekuasaan: Mempelajari bahwa setiap kekuasaan tanpa moral pada akhirnya runtuh. Dan kelima, Praktikum Kejujuran: Latihan hidup sederhana, transparan, dan akuntabel.
Sekolah Vampir ini bukan sekadar satire. Ia adalah simbol kebutuhan mendesak akan pendidikan karakter yang tidak hanya ditujukan kepada anak-anak, tetapi juga kepada orang dewasa yang memegang kekuasaan.
Dalam matematika, pertumbuhan eksponensial bisa dihentikan dengan mengubah rasionya. Jika rasionya kurang dari 1, maka grafiknya menurun. Artinya, untuk menghentikan penyebaran vampir sosial, kita harus: Memperkuat sistem pengawasan, menegakkan hukum tanpa tebang pilih, memberikan teladan nyata dari pimpinan tertinggi, serta menguatkan pendidikan karakter sejak dini. Jika tidak, kita hanya menonton grafik yang terus naik hingga akhirnya sistem itu sendiri kolaps.
Sebagai guru matematika, penulis percaya angka tidak pernah berbohong. Ia menunjukkan pola. Dan pola sosial kita hari ini mengingatkan pada bahaya eksponensial. Namun sebagai pendidik, saya juga percaya pada satu hal: manusia bisa berubah. Jika vampir adalah metafora ketamakan, maka malaikat adalah metafora kesadaran.
Pendidikan adalah jembatan antara keduanya. Sekolah tidak boleh menyerah pada gelapnya zaman. Justru dalam gelap, lilin kecil lebih terlihat cahayanya.
Jika satu vampir bisa melahirkan miliaran vampir dalam hitungan minggu, bayangkan jika satu manusia jujur melahirkan dua manusia jujur, lalu empat, lalu delapan. Matematika yang sama bisa berlaku untuk kebaikan. Pertanyaannya sederhana: kita ingin menjadi bagian dari deret mana? Deret vampir yang tumbuh karena ketamakan? Atau deret malaikat yang tumbuh karena integritas?
Negeri ini sedang tidak baik-baik saja. Tetapi selama masih ada sekolah, masih ada guru, masih ada ruang untuk mengajarkan kebenaran, harapan itu belum padam. Sekolah Vampir hanyalah metafora. Namun jika kita tidak hati-hati, ia bisa menjadi kenyataan sosial. Dan sebelum semua terlambat, mungkin sudah saatnya kita kembali ke ruang kelas bukan hanya untuk mengajar anak-anak, tetapi untuk mengingatkan orang dewasa: bahwa kekuasaan tanpa nurani hanyalah kegelapan yang menunggu fajar.