Search
Close this search box.

VISI | Sudah Baca Apa Hari ini ?

gemini.ai

Bagikan :

Oleh Drajat

  • Doktor Ilmu Pendidikan
  • Wasekjen Komnasdik
  • Hipnoterapis
  • Mindshaper Idonesia
  • Guru SMP N 1 Cangkuang, Kab. Bandung
  • APKS PGRI Prov. Jabar

ADA satu pertanyaan sederhana yang sebetulnya mampu mengguncang kesadaran kita:
“Sudah membaca apa hari ini?”

Pertanyaan itu terdengar sepele, tetapi sesungguhnya adalah indikator peradaban. Pertanyaan yang seharusnya menjadi bagian dari keseharian masyarakat berpendidikan, namun justru terasa asing di telinga kita—bangsa yang katanya ingin maju.

Ironisnya, budaya membaca di negeri ini justru menguat bukan karena kesadaran mendasar, tetapi karena rasa takut tertinggal saat hasil survei internasional seperti PISA dirilis. Ketika nilai literasi berada di urutan bawah dunia, barulah kita gaduh. Barulah seminar digelar, spanduk dipasang, slogan digaungkan: “Ayo Membaca!”

Namun, sesudah masa kejut itu berlalu, semuanya kembali seperti semula—sunyi, hambar, dan tanpa arah. Seolah-olah literasi hanya urusan lomba, proyek, dan anggaran yang habis masa berlakunya.

Inilah akar masalah kita: literasi di Indonesia masih dianggap sebagai kegiatan musiman. Ada program, ada laporan, ada foto kegiatan—selesai. Padahal, literasi bukan sekadar aktivitas administratif atau agenda sekolah. Literasi adalah kebiasaan bernalar, bukan seremonial.

Negara-negara maju tidak pernah mewajibkan membaca hanya karena ranking internasional mereka turun. Mereka membaca karena sadar: pengetahuan adalah modal masa depan. Kita masih menjadikan membaca sebagai pilihan, bukan kebutuhan.

Sudah banyak wacana bergulir, namun implementasi masih jauh panggang dari api. Indonesia membutuhkan langkah konkret: regulasi nasional yang menempatkan membaca sebagai kewajiban harian, bukan sekadar himbauan.

Bayangkan jika setiap sekolah, kantor pemerintah, dan ruang publik diwajibkan memulai hari dengan membaca minimal 15 menit. Bayangkan jika masyarakat punya kebiasaan membawa buku seperti halnya membawa ponsel. Bayangkan jika orang tua membaca sebelum tidur bersama anak-anak mereka, bukan sekadar menggulir layar gawai tanpa jeda.

Baca Juga :  Perkuat Otak Pertahanan, Menhan Lantik 12 Pakar DPN

Dalam waktu lima hingga sepuluh tahun, bangsa ini tidak hanya akan terlihat lebih cerdas, tetapi juga lebih kritis, lebih beradab, lebih mampu berdialog, dan tidak mudah diprovokasi.

Rata-rata masyarakat Indonesia menghabiskan waktu 3–5 jam, bahkan bisa lebih per hari di media sosial. Namun, untuk membaca satu halaman buku saja, banyak yang ragu-ragu atau bahkan enggan.

Ini menunjukkan satu hal: bangsa ini tidak kekurangan waktu—bangsa ini kehilangan fokus. Ketika membaca tidak lagi dianggap sebagai kebutuhan, maka kualitas berpikir perlahan memudar. Masyarakat yang tidak membaca akan mudah percaya hoaks, mudah dipecah belah, dan sulit membedakan pendapat dengan fakta.

Pada titik tertentu, rendahnya literasi bukan hanya masalah pendidikan—tetapi ancaman bagi kualitas demokrasi dan masa depan bangsa.

Sejarah tidak pernah berpihak pada mereka yang pasif. Bangsa yang membaca dan menulis akan memimpin. Bangsa yang hanya menonton dan mengikuti akan tertinggal. Kita ingin Indonesia maju, tetapi pertanyaan paling mendasar masih tertinggal:
adakah komitmen kolektif untuk menjadikan literasi sebagai fondasi bangsa?

Selama membaca hanya menjadi slogan, bukan kebiasaan—maka cita-cita besar tentang Indonesia Emas 2045 hanya akan menjadi jargon tanpa substansi. Perubahan tidak perlu menunggu undang-undang. Tidak perlu menunggu anggaran, seminar, atau peringatan hari besar. Perubahan bisa dimulai hari ini, dari diri kita sendiri, dari satu langkah kecil yang konsisten: Bertanya dan membiasakan: “Sudah membaca apa hari ini?”

Bukan untuk menuntut, bukan untuk menghakimi, melainkan untuk mengingatkan diri bahwa masa depan bangsa ini tidak ditentukan oleh seberapa sering kita berbicara—tetapi seberapa banyak kita belajar, memahami, dan membaca.

Bangsa besar bukan hanya bangsa yang merayakan sejarah, tetapi bangsa yang menuliskan masa depan. Membaca bukan hobi. Membaca adalah identitas bangsa beradab. Maka sekali lagi, dengan rendah hati kita bertanya pada diri: Sudah membaca apa hari ini? Yu, kita mulai.***

Baca Berita Menarik Lainnya :