Search
Close this search box.

VISI | Sudah Duduk Lupa Berdiri

Bagikan :

Oleh Drajat

  • Guru
  • Doktor Ilmu Pendidikan
  • Wasekjen Komnasdik
  • Hipnoterapis Transformasi Indonesia
  • Mindshaper Nusantara
  • APKS PGRI Prov. Jabar

ASYIK benar menjadi pemimpin di negeri ini. Segala fasilitas tersedia. Pengawalan melekat. Kata-kata didengar. Keputusan diikuti. Telepon dijawab cepat. Kursi empuk, ruangan berpendingin, dan protokoler yang selalu sigap membuat hidup terasa nyaman. Pada titik tertentu, kekuasaan bisa menjadi candu.

Namun di situlah bahaya bermula. Banyak pemimpin lupa bahwa kursi yang ia duduki bukanlah miliknya. Ia hanya dititipi. Ia bukan pemilik, ia pengelola. Ia bukan raja, ia pelayan. Tetapi ketika duduk terlalu lama, ketika dipuji terlalu sering, ketika dikelilingi orang-orang yang hanya berkata “siap, laksanakan”, seseorang bisa mengalami satu penyakit yang tidak kasat mata: lupa berdiri.

Lupa berdiri untuk melihat rakyatnya. Lupa berdiri untuk mendengar suara yang berbeda. Lupa berdiri untuk mengingat janji. Inilah yang penulis sebut: Sudah Duduk Lupa Berdiri.

Kekuasaan sering membuat manusia merasa besar. Seolah ia pusat semesta. Seolah semua dapat diatur. Seolah kritik adalah ancaman, bukan masukan. Padahal sejarah sudah berkali-kali mengajarkan: tidak ada kekuasaan yang abadi. Yang pasti hanyalah satu: kematian.

Pertanyaan mendasarnya sederhana namun jarang direnungkan: apa yang akan dibawa ketika pulang menghadap Sang Pencipta? Jabatan? Tidak. Kekayaan? Tidak. Pujian? Tidak. Yang tersisa hanyalah amal, keputusan, dan jejak kebijakan yang berdampak pada hidup orang banyak.

Penulisngnya, kesadaran ini sering menghilang ketika seseorang terlalu menikmati kursinya. Ia lupa bahwa sebelum duduk, ia pernah berdiri di hadapan rakyat dan berjanji. Janji itu bukan sekadar retorika, melainkan amanah.

Fenomena lain yang tak kalah berbahaya adalah budaya ABS Asal Bapak Senang. Pemimpin dikelilingi orang-orang yang hanya menyampaikan kabar baik. Kritik disaring. Data dimanipulasi agar terlihat indah. Realitas dibungkus dengan presentasi yang meyakinkan.

Baca Juga :  Badai Petir Mengintai Bandung Siang Ini

Akibatnya, pemimpin hidup dalam gelembung. Ia mengira semuanya baik-baik saja, padahal di luar sana harga kebutuhan pokok melonjak, lapangan kerja menyempit, dan keresahan tumbuh diam-diam. Setiap suara kritis dianggap ancaman. Setiap perbedaan dipandang sebagai upaya menjatuhkan.

Padahal justru kritik adalah vitamin demokrasi. Tanpa kritik, kekuasaan menjadi liar. Tanpa masukan yang jujur, kebijakan kehilangan arah. Sebagai pendidik, penulis sering mengajarkan kepada peserta didik bahwa umpan balik adalah bagian dari proses belajar. Mengapa ketika sudah menjadi pemimpin, prinsip itu dilupakan?

Kita sering mendengar tentang mimpi besar 2045 Generasi Emas, Indonesia sejajar dengan negara maju, lompatan ekonomi, transformasi digital. Mimpi itu indah. Visi itu menggetarkan. Namun mimpi tidak cukup dibangun dengan slogan. Ia membutuhkan kepemimpinan yang amanah, kebijakan yang konsisten, dan keberanian mengoreksi diri.

Generasi emas tidak lahir dari arogansi. Ia lahir dari keteladanan. Anak-anak hari ini melihat. Mereka menyimak. Mereka belajar bukan hanya dari buku, tetapi dari perilaku pemimpin. Jika yang mereka saksikan adalah egoisme dan kepentingan kelompok, maka nilai yang tertanam adalah pragmatisme. Tetapi jika yang mereka lihat adalah kejujuran dan keberanian bertanggung jawab, maka itulah yang akan mereka tiru.

Pendidikan karakter tidak akan berhasil jika teladan di tingkat atas bertolak belakang dengan nilai yang diajarkan di sekolah.

Sudah Duduk, Mengapa Lupa Berdiri?

Duduk adalah simbol kekuasaan. Berdiri adalah simbol kesiapan melayani. Pemimpin yang baik tahu kapan harus duduk mengambil keputusan, dan kapan harus berdiri turun ke lapangan. Ia tidak alergi terhadap kritik. Ia tidak menutup telinga terhadap suara kecil.

Namun ketika seseorang terlalu menikmati duduknya, ia enggan berdiri. Ia lupa bagaimana rasanya berjalan di tengah rakyat. Ia lupa bagaimana dulu berjuang meminta kepercayaan. Duduk yang terlalu lama bisa membuat lupa bahwa kursi itu sementara. Sebagai guru, penulis sering mengatakan kepada murid-murid: jabatan bukanlah identitas. Ia hanya peran sementara. Identitas sejati adalah integritas.

Baca Juga :  Kebakaran Gudang Plastik di Margaasih, Empat Bangunan Hangus

Di sinilah letak ujian terbesar seorang pemimpin: apakah ia memandang kekuasaan sebagai amanah atau kesempatan? Jika sebagai amanah, maka ia akan berhati-hati. Ia sadar setiap kebijakan menyentuh hidup orang banyak. Ia mempertimbangkan dampak jangka panjang. Ia berani mengatakan tidak pada kepentingan sempit.

Namun jika kekuasaan dianggap kesempatan kesempatan memperkaya diri, keluarga, atau kolega maka arah bangsa perlahan menyimpang. Rakyat kecil menjadi penonton. Kepentingan umum tergeser oleh kepentingan kelompok. Negeri ini tidak kekurangan orang pintar. Yang kita butuhkan adalah pemimpin yang sadar bahwa ia akan dimintai pertanggungjawaban, bukan hanya oleh hukum manusia, tetapi juga oleh hukum Tuhan.

Sebagai praktisi pendidikan, penulis percaya bahwa perubahan selalu mungkin. Tidak ada manusia yang sepenuhnya kebal terhadap kesadaran. Bahkan pemimpin pun bisa berubah jika ia mau merenung. Langkah pertama adalah keberanian untuk berdiri kembali. Berdiri untuk: Mengingat janji, mendengar suara yang berbeda, membuka ruang dialog, serta mengakui kekeliruan jika ada.

Kepemimpinan yang kuat bukan yang antikritik, melainkan yang adaptif dan terbuka. Di sekolah, kami mengajarkan pentingnya refleksi. Setiap akhir pelajaran, siswa diminta mengevaluasi apa yang sudah dipelajari. Mengapa prinsip sederhana ini tidak diterapkan dalam kepemimpinan nasional?

Sudah duduk memang nyaman. Namun duduk tanpa kesadaran hanya akan membuat lupa berdiri. Lupa bahwa kursi itu amanah. Lupa bahwa rakyat adalah tujuan, bukan alat. Lupa bahwa waktu terus berjalan. Suatu hari, semua kursi akan ditinggalkan. Semua jabatan akan berakhir. Yang tersisa hanyalah cerita: apakah ia pemimpin yang amanah atau yang abai?

Negeri ini masih punya harapan. Tetapi harapan itu memerlukan pemimpin yang mau berdiri kembali—berdiri di atas nilai, berdiri bersama rakyat, berdiri di hadapan nuraninya sendiri. Karena pada akhirnya, sejarah tidak mencatat seberapa lama seseorang duduk di kursi kekuasaan. Sejarah mencatat bagaimana ia menggunakan kursi itu untuk kebaikan atau sebaliknya.

Baca Juga :  Survei Indikator: 85,3% Pemudik Puas Penyelenggaraan Mudik Lebaran 2026

Sebelum semuanya terlambat, sebelum generasi kehilangan teladan, sebelum mimpi besar hanya menjadi slogan—berdirilah. Sebab pemimpin sejati bukan yang lama duduknya, tetapi yang kuat berdirinya.***

Baca Berita Menarik Lainnya :