Oleh Drajat
“INNALILLAHI wainna ilaihi raji’un”. Tangisan kembali terdengar dari tanah air, bukan hanya dari keluarga yang kehilangan anaknya, tetapi juga dari Ibu Pertiwi yang seakan tak henti merintih melihat anak bangsa meregang nyawa akibat kebrutalan aparat. Affan (21), seorang anak muda sederhana yang bekerja sebagai pengojek online, tewas bukan karena kecelakaan atau sakit, tetapi karena kekerasan aparat yang seharusnya menjadi pelindung rakyat. Tragedi ini memicu gelombang kemarahan rakyat di berbagai daerah, bukan hanya karena kehilangan satu nyawa, tetapi karena akumulasi rasa kecewa yang sudah lama dipendam.
Kemarahan ini diperparah oleh perilaku para pejabat yang alih-alih meredam situasi justru menambah luka. Ucapan-ucapan kasar seperti “orang tolol sedunia”, “rakyat jelata”, hingga adegan berjoget dan melecehkan penderitaan rakyat, menjadi catatan gelap bagi wajah politik Indonesia. Negeri ini seakan berada di ujung tanduk: pemimpin kehilangan wibawa, lembaga negara tidak dipercaya, sarana-prasarana hancur, dan masyarakat semakin terpinggirkan.
Di tengah gelapnya situasi, masih ada cahaya yang bertahan: guru. Sosok guru, dengan segala keterbatasannya, terus memberikan pencerahan, semangat, dan motivasi bagi anak-anak bangsa. Guru menjadi simbol bahwa meski Ibu Pertiwi menangis, harapan itu belum mati.
Apa yang lebih menyedihkan dari negeri yang kehilangan arah? Bukan hanya sumber daya alamnya yang dijarah, bukan hanya infrastruktur yang hancur, melainkan hilangnya moralitas para pemimpin.
Rakyat menyaksikan langsung bagaimana wakilnya di parlemen bukan menjadi teladan, melainkan sumber luka baru. Alih-alih mengabdikan diri, mereka mempermainkan amanah rakyat. Kasus-kasus korupsi dana pendidikan, dana bansos, hingga proyek infrastruktur menjadi bukti betapa rapuhnya integritas elite politik.
Sebuah survei nasional menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan masyarakat terhadap DPR hanya sekitar 27%, jauh di bawah lembaga-lembaga sosial keagamaan yang dipercaya hingga lebih dari 80%. Ini bukan sekadar angka, tetapi cermin betapa dalam jurang yang memisahkan rakyat dengan penguasanya.
Ki Hajar Dewantara pernah menegaskan, “Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.” Seharusnya pemimpin memberi teladan, menggerakkan, lalu menguatkan. Sayangnya, yang terjadi justru sebaliknya: pemimpin lebih suka beretorika tanpa aksi, menyalahkan rakyat, bahkan merendahkan mereka.
Kematian Affan hanyalah satu contoh nyata dari sekian banyak kasus pelanggaran kemanusiaan. Aparat yang seharusnya mengayomi rakyat, berubah menjadi mesin represif. Kekerasan menjadi bahasa sehari-hari, seakan rakyat bukan subjek yang harus dilindungi, melainkan objek yang bisa ditindas.
Di sisi lain, kasus-kasus korupsi dana pendidikan memperparah ironi bangsa ini. Dana yang seharusnya dipakai untuk mencerdaskan anak bangsa justru dikorupsi oleh oknum pejabat. Data KPK menunjukkan bahwa dari tahun 2016–2022, ada lebih dari 100 kasus korupsi yang melibatkan dana pendidikan, termasuk pengadaan buku, infrastruktur sekolah, hingga bantuan operasional.
Bagaimana mungkin kita bisa berharap lahirnya generasi emas jika dana pendidikan dikorupsi dan nyawa pemuda diremehkan? Paulo Freire pernah mengingatkan, “Pendidikan adalah praktik kebebasan.” Tetapi dalam kondisi seperti ini, pendidikan justru menjadi korban dari praktik penindasan struktural: rakyat miskin sulit mengakses pendidikan bermutu, sementara elite politik memperkaya diri.
Selain korupsi, persoalan literasi menjadi cermin keterpurukan bangsa ini. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menempatkan Indonesia pada peringkat ke-66 dari 81 negara dalam literasi membaca. Fakta ini menohok, karena menunjukkan bahwa sebagian besar generasi muda Indonesia kesulitan memahami bacaan yang kompleks.
Nurcholish Madjid pernah berkata, “Pendidikan adalah usaha memanusiakan manusia.” Namun bagaimana manusia bisa dimanusiakan jika sistem pendidikannya dibiarkan lemah, jika buku-buku bagus mahal, perpustakaan terbengkalai, dan budaya membaca tergantikan oleh budaya hiburan instan?
Bangsa yang lemah literasi adalah bangsa yang mudah ditipu. Tidak heran, rakyat sering terjebak dalam retorika politik, termakan hoaks, dan akhirnya terpecah belah. Tangisan Ibu Pertiwi bukan hanya karena anak-anaknya tewas di jalan, tetapi juga karena akalnya dibelenggu oleh sistem yang gagal mencerdaskan.
Meski negeri ini dipenuhi kegelapan, guru tetap menjadi lentera. Dalam kondisi gaji minim, fasilitas terbatas, dan sering dipinggirkan, guru masih berdiri tegak di depan kelas. Mereka mengajar bukan sekadar untuk mencari nafkah, tetapi sebagai panggilan jiwa untuk menyelamatkan generasi.
Guru adalah benteng terakhir dari kehancuran moral bangsa. Di saat pemimpin kehilangan wibawa, guru tetap menunjukkan integritas. Di saat aparat mencederai rakyat, guru mengajarkan kasih sayang. Di saat politik menebar kebencian, guru menanamkan nilai persatuan.
Ki Hajar Dewantara tidak pernah bosan mengingatkan bahwa inti pendidikan adalah “menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.”
Guru hari ini sedang berjuang di medan sulit. Tetapi di tangan merekalah masih tersimpan harapan terakhir bangsa: menyelamatkan generasi agar tidak tenggelam dalam arus kebodohan dan kebrutalan.
Tangisan Ibu Pertiwi adalah tangisan kolektif. Tangisan karena rakyat yang kehilangan anak-anaknya akibat kebrutalan aparat. Tangisan karena elite politik yang lebih sibuk dengan kepentingannya sendiri. Tangisan karena dana pendidikan dikorupsi. Tangisan karena literasi merosot.
Namun, tangisan itu juga panggilan. Panggilan untuk kembali kepada nilai-nilai luhur, panggilan untuk membangun bangsa dengan integritas, dan panggilan untuk memberi ruang yang layak bagi pendidikan.
Kematian Affan adalah duka, tetapi jangan sampai sia-sia. Ia harus menjadi alarm bagi bangsa ini bahwa jalan yang ditempuh sekarang salah arah. Jika kita ingin mengeringkan air mata Ibu Pertiwi, maka kuncinya ada pada keberanian memperbaiki moralitas pemimpin dan kesungguhan memperkuat pendidikan.
Guru, dengan segala keterbatasannya, adalah cahaya kecil di tengah gelap. Jika bangsa ini sungguh-sungguh mendukung mereka, cahaya itu akan membesar, menjadi pelita, dan akhirnya menyalakan obor kebangkitan.
Ibu Pertiwi memang sedang menangis, tetapi masih ada harapan bahwa suatu saat tangisan itu berubah menjadi senyum. Namun, hanya jika kita mau belajar dari tragedi, jujur pada diri, dan berani melakukan perubahan.**
- Doktor Ilmu Pendidikan, Wasekjen Komnasdik, dan Hipnoterapis.