Oleh Aep S. Abdullah
SULIT membayangkan sebuah perusahaan yang menjual teknologi kesiapsiagaan justru kedodoran menghadapi keadaan darurat di rumahnya sendiri. Namun begitulah kabar yang datang dari kantor Terra Drone—perusahaan yang sehari-hari mempromosikan kecanggihan perangkat terbang untuk memetakan risiko, menjaga jaringan listrik, hingga membantu respons bencana—dan kini harus berkabung atas insiden yang merenggut karyawan mereka. Kebakaran yang terjadi pada 9 Desember 2025 itu menjadi pengingat bahwa kadang teknologi paling mutakhir pun tidak lebih cepat daripada api yang datang tiba-tiba.
Terra Drone dikenal luas lewat daftar panjang solusi teknologinya. Di laman resminya, Terra Topo ditawarkan untuk pemetaan presisi; Terra Explo untuk menembus apa yang tak terlihat dari permukaan; Terra Patro yang dielu-elukan mampu mengawasi tanpa tidur; hingga Terra Inspect yang menjanjikan inspeksi tanpa perlu menghentikan operasi. Jika deretan produk itu dibaca sekilas, orang bisa menduga perusahaan ini tak hanya modern, tetapi juga nyaris kebal dari risiko.
Karena itu, kabar bahwa kantor perusahaan yang menjual alat untuk mengantisipasi bencana justru dilanda bencana, terdengar seperti ironi yang terlalu rajin bekerja. Di banyak industri, kejadian seperti kebakaran merupakan hasil dari sederet kelengahan kecil yang saling bertemu pada satu waktu. Namun ketika ia terjadi pada perusahaan pemetaan risiko, publik sulit menahan alis mereka untuk tidak terangkat sedikit lebih tinggi dari biasanya.
Dalam pernyataan resminya, Terra Drone menyebut keselamatan karyawan selalu menjadi prioritas. Kalimat itu, seperti kalimat standar lain yang muncul pada situasi serupa, terdengar baik, meski mungkin datang terlambat. Di dunia nyata, keselamatan karyawan diuji bukan oleh brosur atau laman promosi, tetapi oleh tata kelola internal yang mampu mencegah hal-hal yang bahkan tidak terpikirkan.
Situs Terra Drone memperlihatkan ambisinya menguasai seluruh rantai teknologi drone—dari penyedia jasa, produsen perangkat keras, hingga pengembang perangkat lunak. Struktur yang lengkap itu menunjukkan keinginan perusahaan untuk menjadi pemain besar. Namun betapa pun kuat rantai teknologi dibangun, selalu ada tautan yang lemah ketika berbicara soal kesiapsiagaan manusia.
Yang menarik, serangkaian produk unggulan mereka terasa seperti daftar yang ironis bila dibaca setelah kejadian. Terra Patro, misalnya, konon dapat patroli 24 jam penuh. Namun pengawasan terbaik tetap membutuhkan manusia yang memastikan pintu darurat terbuka, alat pemadam berfungsi, dan prosedur dipatuhi. Teknologi hanya membantu—tak pernah menggantikan.
Terra Grid, yang menawarkan kemampuan memantau jaringan listrik hingga ke sudut terjauh, juga terasa seperti bab yang terbaca lain ketika dihubungkan dengan kabar kebakaran. Siapa pun tahu bahwa banyak insiden industri dimulai dari masalah kelistrikan. Namun alat yang tersedia tidak selalu menjamin deteksi dini, terlebih bila sistem keselamatan internal lebih mengandalkan kebiasaan daripada disiplin.
Di bidang geologi, Terra Explo menjanjikan kemampuan melihat yang tersembunyi dari permukaan. Tetapi di dunia manajemen risiko, yang paling sering tersembunyi justru adalah titik rawan prosedural—tempat di mana semua orang merasa aman, sehingga tak lagi memeriksa dua kali. Ruang itu jarang tersentuh sensor.
Perusahaan menyampaikan rasa duka dan kerja sama penuh dengan pihak berwenang dalam investigasi. Investigasi tentu akan mengurai apa yang semestinya tidak lagi tersembunyi: bagaimana prosedur berjalan, bagaimana kesiapsiagaan dilakukan, dan apakah tata kelola berada setara dengan teknologi yang dipasarkan. Transparansi menjadi langkah yang tak bisa ditawar.
Di saat yang sama, dukungan bagi keluarga korban menjadi satu-satunya hal yang dapat dilakukan dalam masa berkabung. Tragedi semacam ini mengingatkan bahwa kecanggihan alat tidak pernah berada di atas nilai nyawa manusia. Kejadian yang singkat bisa menghapus banyak hal yang dibangun bertahun-tahun, kecuali empati.
Indonesia kini menyaksikan sebuah perusahaan teknologi besar menerima pelajaran terpenting dalam dunia modern: bahwa kesiapsiagaan internal bukan sekadar pelengkap dari produk yang dipasarkan, tetapi pondasi yang harus diperkuat terlebih dahulu. Teknologi mungkin bisa memetakan bumi dengan akurat, tetapi manusia selalu membutuhkan tata kelola untuk memetakan risiko sehari-hari.
Jika tragedi ini memberi apa pun, maka itu adalah keharusan untuk meninjau ulang bagaimana perusahaan—bukan hanya Terra Drone—mengelola keselamatan. Di tengah ambisi menguasai pasar baru dan memperkenalkan solusi terbaru, pembelajaran pentingnya, keselamatan internal sering menjadi bab yang terlupakan. Padahal bab itu yang menentukan kelangsungan semua bab lainnya.
Tragedi ini menghadirkan ironi yang terlalu besar untuk dilewatkan. Perusahaan alat kebencanaan pun ternyata tidak kebal dari bencana. Bahkan bisa dibilang: semakin canggih teknologi, semakin besar harapan publik terhadap implementasinya secara konsisten. Ketika harapan itu runtuh, yang tersisa adalah pertanyaan-pertanyaan yang tak lagi bisa disapu oleh slogan-slogan inovasi.
Dan tentu saja, kabar ini menjadi pengingat bagi perusahaan lain yang kantornya jauh dari kata futuristik. Jika yang menjual teknologi mitigasi bencana saja bisa terkena musibah, betapa rapuhnya bangunan-bangunan yang tidak memiliki sensor apa pun, selain kecurigaan samar penjaga malam. Ironi yang pahit, tetapi mungkin perlu untuk membangunkan banyak pihak dari rasa aman yang terlalu panjang.
Dalam suasana berkabung, musibah ini menunjukkan ketidaksempurnaan di balik kilap teknologi. Musibah di Gedung Terra Drone Kemayoran, Jakarta Pusat (Jakpus) mengingatkan bahwa bahkan teknologi paling presisi pun tak mampu menggantikan nilai dasar—kesiapsiagaan manusia dan tata kelola keselamatan yang tidak boleh sekadar dipromosikan, tetapi dijalankan setiap hari.***