Warga Banjar di Solo Gelar Tradisi Ramadan Bagi-bagi “Bubur Samin”

Editor Di bulan Ramadan 1443 H ini, Masjid Darussalam di Kampung Banjar membagikan Bubur Samin yang merupakan tradisi tahunan warga Banjar perantauan di Kota Solo, kepada warga yang mengantre dengan tertib. /visi.news/tok suwarto
Silahkan bagikan

VISI.NEWS | SOLO – Bulan Ramadan yang merupakan bulan suci bagi umat Islam setiap tahun, merupakan bulan istimewa bagi warga Banjar perantauan, khususnya jamaah Masjid Darussalam yang secara turun-temurun hampir satu seperempat abad bermukim di Kampung Banjar atau juga dikenal sebagai “Kampung Permata”, Kelurahan Jayengan, Kota Solo.

Warga Banjar tersebut, di permukiman baru yang tidak jauh dari Keraton Surakarta arah barat daya, menciptakan tradisi yang tidak dilakukan warga Banjar di Kalimantan Selatan, yaitu memasak “Bubur Samin” untuk berbuka puasa bersama.

Tradisi “Bubur Samin” yang awalnya hanya dibagikan kepada jamaah Masjid Darussalam seusai sholat magrib, setelah tradisi itu berlangsung lebih dua dekade pembagiannya meluas kepada orang-orang warga Kampung Banjar dan sekitarnya.

Salah seorang pengurus Masjid Darussalam, Kahmali, mengungkapkan kepada VISI.NEWS, Selasa (5/4/2022), tradisi “Bubur Samin” sendiri baru muncul pada tahun 1985. Awalnya, warga Banjar di Kampung Permata yang merupakan jamaah Masjid Darussalam, membuat kegiatan untuk mengisi bulan Ramadan.
Awalnya, dalam kegiatan tersebut sejumlah warga Banjar membawa beragam makanan, di antaranya berupa Bubur Samin, yang kemudian dibagikan kepada jamaah Masjid Darussalam untuk berbuka puasa seusai sholat magrib.
Dalam perkembangannya, berdasarkan kesepakatan antara pengurus masjid dengan warga pada tahun 1985, menu makanan untuk buka puasa hanya satu macam, yaitu Bubur Samin.

“Setelah semua warga menyetujui, maka sejak tahun 1985 Bubur Samin Banjar menjadi menu buka saat buka puasa. Jadi, awalnya kegiatan itu dari buka bersama para warga Banjar. Setelah itu banyak warga sekitar dan dari daerah lain ikut menikmati Bubur Samin untuk buka puasa,” kata Kahmali.

Pada tahun-tahun awal pembuatan Bubur Samin selama bulan Ramadan, pengurus Masjid Darussalam rata-rata per hari hanya membuat sekitar 15 kilogram untuk dibagikan kepada sekitar 150 jamaah masjid. Kalau kebetulan ada sisa, bubur dibagikan kepada warga sekitar.

Baca Juga :  Tim WANI Laporkan KPU Kab Tasik ke DKPP

Menurut Ketua Takmir Masjid Darussalam, Rosyidi Muhdhor, di saat masih dalam suasana pandemi yang mulai dilonggarkan ini panitia Bubur Samin selain menyediakan 150 porsi untuk jamaah masjid juga membagikan antara 400 sampai 450 porsi untuk warga lain.
“Sebelum pandemi kami membuat bubur bisa mencapai 45 kilogram per hari, bisa dibagi sampai 1.300 porsi. Sekarang untuk yang dari luar kami batasi antara 400 sampai 450 porsi,” ujarnya.

Pembuatan Bubur Samin menggunakan wadah setinggi sekitar 1,5 meter dengan diameter satu meter dan dikerjakan secara gotong royong, menjelang sholat azar sudah selesai. Seperti tahun-tahun sebelum pandemi, puluhan warga dari sekitar Masjid Darussalam sudah berdatangan membawa rantang dan mengantre di halaman masjid yang sempit.
Seusai sholat azar berjamaah, pembagian bubur pun dimulai. Warga dari anak-anak sampai orang tua yang mengantre dengan tertib, membawa pulang bagian Bubur Samin untuk buka puasa di rumah masing-masing.@tok

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

SKETSA | Will Smith

Rab Apr 6 , 2022
Silahkan bagikanOleh Syakieb Sungkar “JADA I love you, ‘G.I. Jane 2,’ tidak sabar untuk melihatnya,” kata Chris Rock saat menyerahkan penghargaan untuk film dokumenter terbaik. Will Smith kemudian berjalan ke atas panggung, menampar Chris Rock, berjalan kembali ke tempat duduknya dan berteriak pada Chris, “Jangan sebut-sebut nama istriku dari mulut […]