Yang Benci Tapi Rindu Kemacetan di Tanjakan Gentong saat Lebaran

Editor :
Suasana lengang terlihat jelas di Pos Penjagaan Tanjakan Gentong, Kadipaten, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Rabu (27/5)./visi.news/ema rohima.

Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Suasana jalur jalan Tanjakan Gentong, Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, di H +3 Lebaran 1441 H, Rabu (27/5), terlihat sepi.

Padahal, biasanya jalur yang memiliki tanjakan curam dan kelokan tajam itu ramai dilalui oleh antrean kendaraan pemudik dan pebalik saat Lebaran.

Alhasil, bagi para pengguna kendaraan, Tanjakan Gentong bukanlah jalur yang mudah dilalui dan merasa nyaman. Melintasi jalur jalan dengan volume kendaraan yang cukup tinggi, ditambah medan jalan yang menanjak serta berkelok -kelok, menyebabkan kemacetan luar biasa hingga berjam-jam.

Meski begitu, Tanjakan Gentong tetap menjadi magnet bagi para pengguna kendaraan yang hendak mudik atau balik Lebaran. Mereka tetap melakukan perjalanan dan bertahan dengan segala manis dan getirnya kemacetan Tanjakan Gentong.

Lantas apa yang membuat mereka tetap melakukan perjalanan? Jawabannya ternyata, benci tapi rindu Tanjakan Gentong.

Salah seorang pemudik, Gungun (43) asal Jakarta mengaku setiap tahun pulang kampung ke Cilacap untuk bersilaturahmi dengan keluarga saat Lebaran selalu melewati jalur Selatan Jawa Barat dan itu berarti melintasi Tanjakan Gentong.

Dirinya sadar, ketika pulang kampung atau balik kerap terjebak macet hingga berjam-jam bahkan ketika melakukan perjalanan, termasuk yang paling parah di Tanjakan Gentong.

Namun dirinya telanjur memiliki perasaan benci tapi rindu, melintas jalur Tanjakan Gentong. Selain itu niat kuat untuk bersilaturahmi dengan keluarga.

“Benci saat melewati Tanjakan Gentong, paling utama saat terjebak macet. Tanjakannya curam dan belokannya tajam-tajam, tak sedikit kendaraan yang mogok saat melintas jalur ini,” ucapnya.

Menurutnya, kemacetan itu pada Lebaran-Lebaran sebelumnya, karena saat ini Tanjakan Gentong tampak sepi, lalu lintas lancar.

Kondisi ini katanya, membuat rasa rindu kemacetan. Biasanya kalau terjadi macet meminggirkan kendaraan dan beristirahat di warung sambil ngopi dan melihat pemandangan di sekelilingnya.

Baca Juga :  USWAH: Sahabat yang Paling Mahir Bacaan Al Quran-nya

Belum lagi udaranya yang dingin terasa sejuk, begitu betah istirahat di warung Tanjakan Gentong.

Soal kemacetan Tanjakan Gentong saat arus balik Lebaran, Gungun mengaku hal itu kerap membuat kewarasannya hilang, namun mau tidak mau harus menerimanya.

Dia menyebut pernah menghabiskan waktu perjalanan Rajapolah hingga melintasi Tanjakan Gentong semalaman atau dari sore hingga pagi hari.

“Padahal, jaraknya kurang dari 20 kilometer atau normalnya bisa ditempuh 20 menit hingga 30 menit saja,” tuturnya.

Ia menuturkan, punya perasaan benci saat melintas Tanjakan Gentong. Namun rasa benci itu terobati, kala melihat pemandangan yang indah dan udara yang sejuk. Hingga tiap tahun saat pulang kampung pasti melintas jalur utama Selatan Jawa Barat ini.

“Saat ini di kala sepi mendadak jadi rindu dengan kemacetan di Tanjakan Gentong. Hal itu pula yang membuatnya ingin melintas Tanjakan Gentong,” katanya

Sementara itu Kapolsek Kadipaten, AKP Erustiana membenarkan Lebaran saat ini kondisi arus lalu lintas sepi. Padahal biasanya mulai H-7 hingga H+7 Lebaran Idulfitri kondisi arus lalu lintas padat.

Tak ayal, jalur ini tidak pernah lepas dari rentetan panjang kendaraan yang nyaris tidak bergerak.

“Saya bertugas sudah 20 tahun, dan baru Lebaran tahun ini arus mudik dan balik Lebaran di Gentong sangat sepi,” ucapnya.

Menurutnya, kalau puncak arus mudik dan balik Lebaran tahun-tahun sebelumnya bisa macet sampai puluhan kilometer. Bahkan kemacetan dari Gentong ke arah Tasikmalaya bisa sampai ke persimpangan Sindangkasih, Ciamis.

Tapi Lebaran ini, sudah di H+3 tidak terjadi antrean karena arus lalu lintas sepi. Jangankan macet, mobil yang melintas pun jarang terlihat sekarang, sepi.

Kondisi sepi di jalur Gentong terjadi sejak adanya pandemi Covid-19. Puncaknya, saat pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), kendaraan yang melintas semakin sedikit.

Baca Juga :  Nakes RSUD Al Ihsan Mulai Kewalahan, Jumlah Jenazah Naik 300 Persen

“Sejak pemberlakuan PSBB, arus kendaraan semakin sedikit,” ujarnya. @erm

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Facebook Ngotot Kembangkan Uang Digitalnya, Gandeng WhatsApp!

Rab Mei 27 , 2020
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Facebook tetap kembangkan uang digitalnya Libra meski dikritik berbagai pihak. Terbaru, Facebook melakukan rebranding dan mengganti nama dompet digitalnya dari Calibra menjadi Novi. Calibra merupakan dompet digital yang diluncurkan tahun lalu sebagai wadah penampungan dan penukaran uang digital Facebook Libra. Dompet digital ini dimiliki langsung oleh Facebook. […]