Search
Close this search box.

Alumni SMAN Cimindi-13 Bandung dan Kisah Hidup di Jantung Rimba Kareumbi

Penanaman pohon di Gunung Kareumbi, Selasa (28/10/2025), sebagai pra event acara Reuni Akbar SMAN Cimindi-13 yang akan diselenggarakan di Pusdikjas, Kota Cimahi, pada Minggu (16/11/2025). /visi.news/essa

Bagikan :

VISI.NEWS | SUMEDANG – Di antara kabut tipis yang turun perlahan dari lereng pegunungan, sosok Dian Purnama—akrab disapa Apung—berdiri tenang. Tatapannya menembus rimbunnya pepohonan di Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi (TBMK), kawasan konservasi unik yang membentang di tiga wilayah: Bandung, Garut, dan Sumedang. Luasnya mencapai 12.420 hektar, satu-satunya kawasan di Jawa-Bali yang masih mengizinkan aktivitas berburu secara legal. Namun berburu di sini bukan perkara bebas. “Semua harus berizin, dan satwanya pun harus terdata. Tidak bisa sembarangan,” ucap Apung memulai pembicaraan saat menerima rombongan Panitia Reuni Akbar SMAN Cimindi-13 Bandung di persinggahan TBMK, Selasa (28/10/2025) pagi.

Rombongan panitia yang hadir bersama Taryan Setiawan, selalu ketum itu, antara lain Beta Pratista, Kusuma Rini, Nurhayati, Ika Kartika, Tendy K. Sumantri (Alumni’83), Ketua Keluarga Besar Alumni (KBA) Gagan Wirahma (’87), Kinanti Eva (’92), Vania Malinda (’09), Ramadhan (’88), Agus Ir (’91), Heri (’97), Essa (’97), dll.

Penanaman pohon di Gunung Kareumbi, Selasa (28/10/2025). /visi.news/foto-foto dokumen essa

TBMK bukan hanya hutan, tapi juga sejarah panjang antara manusia dan alam. “Tempat kita berdiri ini dulu wilayah Garut, dulu sempat ada PT yang mengelola, tahun 1998 sampai 2000,” kisah Apung.

Kala itu, kawasan ini sempat rusak parah. Ada illegal logging seluas 300 hektar, meninggalkan luka yang dalam di rimba Kareumbi. Di antara batang-batang rebah, masih tersisa kawasan yang rusak. Maka di kawasan yang rusak itu dibuka donasi untuk wali pohon – sebutan bagi pepohonan besar yang diyakini menjadi penjaga alam. “Pohon- pohon itu ditebang waktu ilegal logging, dan itu sejarah yang kami jaga,” katanya.

Apung tahu betul setiap jengkal hutan ini. Dari pagar betis peninggalan masa DI/TII hingga bangunan tua peninggalan zaman Ibrahim Adjie. Semua menjadi saksi betapa kawasan ini terus berjuang untuk bertahan. Bersama Wanadri, lembaga pencinta alam legendaris, TBMK menjalankan perjanjian kerja sama (PKS) Pemulihan Ekosistem. “Kami kerja sama setiap lima tahun. Sekarang sudah masuk kerja sama ketiga,” ujar Apung.

Baca Juga :  Harga Emas Antam Turun Rp25.000 Hari Ini

Bagi Apung, Kareumbi bukan sekadar tempat kerja, tapi rumah. Rumah bagi dirinya, bagi para relawan penjaga hutan, dan bagi ratusan satwa yang masih bertahan di dalamnya. Ada rusa endemik Jawa yang kini populasinya terus dijaga. “Tahun 2023 ada 49 ekor dari awalnya 20. Tapi tahun 2024 memang sempat menurun lagi,” tuturnya. Di antara rerumputan dan suara serangga, kamera trap merekam kehidupan liar yang sulit dijumpai di tempat lain: elang yang berputar di udara, kijang yang melintas cepat, dan kadang, sosok misterius tiga ekor macan kumbang hitam.

“Macan itu pemangsa alami, biasanya makan rusa yang tua atau sakit,” jelas Apung sambil menunjukkan hasil kamera trap. Ada sekitar 80 kamera yang dipasang di berbagai titik hutan, 45 di antaranya di area penangkaran rusa. Gambar-gambar itu bukan sekadar dokumentasi, tapi bukti bahwa hutan masih hidup, dan penjaganya masih setia.

Di tengah kisah konservasi itu, hadir pula semangat baru dari para alumni SMAN Cimindi. Mereka datang bukan hanya membawa nostalgia, tapi juga niat untuk meninggalkan jejak kebaikan. Beta Pratista, ketua panitia reuni akbar sekolah tersebut, menyebutnya sebagai “Wali Pohon Cimindi”. “Bagi kami, sekolah kami tinggal nama. Kami ingin punya monumen dan momentum—bentuknya ya pohon. Pohon yang tumbuh, hidup, dan terus memberi,” ujarnya.

Mereka menanam pohon bukan sekadar simbol. Ia menjadi ruang belajar tentang cinta lingkungan dan pelestarian. “Bukan cuma acara reuni, tapi juga pendidikan konservasi,” lanjut Beta. Dari rencana awal di Kareumbi, kegiatan menanam itu akan berlanjut ke Ciburial di Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, dengan fokus pada pohon-pohon berumur panjang. “Kami ingin sesuatu yang long life, yang bisa jadi kenangan sekaligus warisan,” ujarnya.

Baca Juga :  Jadwal SIM Keliling Kota Bandung Hari Ini, Sabtu 25 April 2026

Apung menyambut semangat itu dengan senyum. Baginya, kolaborasi seperti ini adalah napas baru bagi hutan. “Kalau hanya petugas, tak cukup. Tapi kalau ada masyarakat, alumni yang peduli, hutan ini bisa bertahan,” katanya. Sore itu, di sela-sela suara burung dan desir angin, ia tampak lega—seolah yakin hutan Kareumbi tak akan sendiri.

Siang menjelang sore, tawa para alumni Cimindi terdengar dari kejauhan. Mereka menutup hari dengan nasi liwet bersama di bawah rindangnya pepohonan. Di antara wangi nasi liwet dan cerita masa sekolah, tumbuh keyakinan bahwa pohon-pohon yang mereka tanam hari itu akan menjadi penanda abadi. Bahwa Cimindi masih hidup—melalui wali pohon di Kareumbi, di Ciburial, dan di hati mereka yang tak pernah lupa pada akar.

Dan di tengah semuanya, Dian Purnama, sang penjaga sunyi, berdiri tenang. Ia tahu, selama masih ada yang mau menanam dan menjaga, hutan Kareumbi akan selalu punya harapan. Sebab di setiap helai daun yang bergetar, ada doa manusia yang percaya bahwa alam dan kenangan bisa tumbuh bersama.

@aep s abdullah

Baca Berita Menarik Lainnya :