Search
Close this search box.

AS Siapkan Operasi Militer Berkepanjangan terhadap Iran, Diplomasi di Ambang Krisis

Bendera AS yang terbalik berkibar di bekas Kedutaan Besar Amerika Serikat di Teheran, Iran, 5 Februari 2026./source: Reuters.

Bagikan :

VISI.NEWS | BANDUNG – Militer Amerika Serikat dilaporkan tengah mempersiapkan kemungkinan operasi militer yang dapat berlangsung selama berminggu-minggu terhadap Iran, apabila Presiden Donald Trump memberikan perintah serangan. Dua pejabat AS yang berbicara kepada Reuters secara anonim menyebutkan, skenario yang disiapkan kali ini jauh lebih luas dan kompleks dibanding operasi sebelumnya, sehingga berpotensi memicu konflik yang lebih serius di kawasan Timur Tengah.

Langkah tersebut terjadi di tengah upaya diplomasi antara Washington dan Teheran. Pekan lalu, diplomat kedua negara bertemu di Oman untuk membahas peluang menghidupkan kembali negosiasi terkait program nuklir Iran. Namun di saat bersamaan, AS juga meningkatkan kehadiran militernya di kawasan, memicu spekulasi bahwa jalur militer tetap menjadi opsi nyata.

Sejumlah pejabat menyatakan Pentagon akan mengirim satu kapal induk tambahan ke Timur Tengah, disertai ribuan personel militer, pesawat tempur, kapal perusak berpeluru kendali, dan berbagai sistem persenjataan lainnya yang mampu melakukan serangan maupun pertahanan.

Juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, menegaskan bahwa seluruh opsi masih terbuka.

“Presiden Trump memiliki semua opsi di atas meja terkait Iran,” ujarnya.

Ia menambahkan, “Beliau mendengarkan berbagai pandangan dalam setiap isu, tetapi keputusan akhir dibuat berdasarkan apa yang terbaik bagi negara dan keamanan nasional kami.”

Saat berbicara di hadapan pasukan AS di North Carolina, Trump mengakui sulitnya mencapai kesepakatan dengan Iran.

“Terkadang Anda harus menimbulkan rasa takut. Itu satu-satunya hal yang benar-benar bisa menyelesaikan situasi,” kata Trump.

Ia juga memperingatkan bahwa jika solusi diplomatik gagal, konsekuensinya bisa menjadi “sangat traumatis, sangat traumatis.”

Sebelumnya, Amerika Serikat pernah melancarkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran dalam operasi yang dikenal sebagai “Midnight Hammer,” dengan mengerahkan pesawat pengebom siluman langsung dari wilayah AS. Iran kemudian membalas dengan serangan terbatas terhadap pangkalan militer AS di Qatar.

Baca Juga :  Jadwal SIM Keliling Kota Cimahi Hari Ini, Senin 13 April 2026

Namun kali ini, menurut pejabat AS, perencanaannya lebih luas. Dalam skenario operasi berkelanjutan, target yang disasar tidak hanya fasilitas nuklir, tetapi juga fasilitas negara dan keamanan Iran. Washington disebut memperkirakan Iran akan melakukan serangan balasan, sehingga potensi aksi saling serang dalam jangka waktu tertentu sangat mungkin terjadi.

Risiko eskalasi semakin besar mengingat Iran memiliki persenjataan rudal yang kuat. Garda Revolusi Iran sebelumnya telah memperingatkan bahwa jika wilayahnya diserang, mereka akan membalas dengan menargetkan pangkalan militer AS di kawasan. Amerika Serikat memiliki pangkalan di sejumlah negara Timur Tengah, termasuk Yordania, Kuwait, Arab Saudi, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Turki.

Di tengah meningkatnya ketegangan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga bertemu Trump di Washington. Netanyahu menekankan bahwa jika tercapai kesepakatan dengan Iran, maka kesepakatan tersebut “harus mencakup unsur-unsur yang vital bagi Israel.”

Sementara itu, Iran menyatakan bersedia membahas pembatasan program nuklirnya sebagai imbalan pencabutan sanksi, tetapi menolak mengaitkan isu tersebut dengan program rudal balistiknya. Dengan pengerahan militer yang semakin besar dan retorika yang kian keras, hubungan AS dan Iran kini berada di titik genting yang dapat menentukan arah stabilitas kawasan dalam waktu dekat. @kanaya

Baca Berita Menarik Lainnya :