VISI.NEWS – Bencana banjir di enam kecamatan di Kabupaten Subang Jawa Barat masih menggenangi kawasan tersebut hingga Rabu 9 Februari 2021 ini, setelah mulai terendam banjir sejak Selasa 8 Februari 2021 pagi.
Bencana banjir dengan ketinggian air antara 1 sampai 3 meter itu, akibat luapan Sungai Citarum dan Sungai Cimanuk yang mengalir di kawasan tersebut. Di Kabupaten Subang itu, daerah yang terdampak paling parah akibat diterjang luapan air Sungai Citarum itu di antaranya Kecamatan Pamanukan dan Sukasari.
Barisan Pemuda Nusantara (Bapera) Kabupaten Subang menghadapi bencana banjir yang terhebat dalam 7 tahun terakhir ini langsung sigap dan turun ke lapangan membantu warga yang terdampak banjir tersebut.
Bapera Kabupaten Subang hadir di tengah-tengah korban banjir untuk memberikan makanan nasi bungkus yang bertahan di pengungsian.
“Kami dari Bapera terus terang saja sangat prihatin dengan bencana banjir yang terhebat saat ini yang sudah berlangsung dua hari ini di Kabupaten Subang. Banyak rumah warga yang terendam sampai atapnya, dengan ketinggian ada yang mencapai 3 meter di kawasan Cijengkol,” ungkap Ketua Bapera Kabupaten Subang H. Arif saat diwawancara wartawan VISI NEWS di Kantor DPD Partai Golkar Jabar, Jalan Maskumambang Kota Bandung, Rabu (10/2/2021).
Ia mengatakan, bencana banjir ini merupakan yang terparah setelah kejadian pada 2014 lalu.
“Namun kejadian banjir saat ini lebih parah dari 2014. Banjir sekarang ini paling hebat,” katanya.
Ia mengatakan, banjir yang terjadi dua hari terakhir ini, belum surut dan masih menggenangi ribuan rumah warga. Bahkan genangan air berpotensi masih meninggi karena air Sungai Citarum terus meluap.
“Dampak banjir terparah itu, banyak kawasan terisolasi dan kegiatan ekonomi masyarakat banyak yang lumpuh. Sejumlah ruas jalan macet dan ada di antara ruas jalan yang ditutup,” katanya.
Menghadapi bencana banjir tersebut, ia mengatakan, Bapera berusaha untuk membantu evakuasi warga yang terdampak banjir untuk diselamatkan ke tempat pengungsian yang aman dari genangan banjir. Mereka mengungsi di masjid, balai desa, dan tempat-tempat lainnya.
“Kita memperkirakan mencapai 2 juta warga yang terdampak banjir di Kabupaten Subang tersebut,” ungkapnya.
Ia berharap Pemkab Subang bekerja sama atau sinergi dengan Balai Besar Wilayah Sungai Citarum (BBWSC) untuk melakukan normalisasi Sungai Citarum.
“Normalisasi Sungai Citarum harus menjadi prioritas karena kondisinya sangat dangkal. Inilah pentingnya pemerintah harus segera turun ke lapangan melakukan normalisasi Sungai Citarum. Pemerintah juga harus membangun kerja sama dengan masyarakat dalam upaya penanggulangan bencana banjir tersebut” ungkapnya.
Ia menuturkan, sejak terjadi banjir pada 2014 lalu, hingga saat ini belum ada pengerukan sehingga menyebabkan aliran Sungai Citarum meluap dan menggenangi kawasan Pantura tersebut.
Ia pun turut mengapresiasi pemerintahan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang turun langsung ke lapangan untuk membantu masyarakat yang terdampak banjir. Pemerintah setempat pun membuat posko penanggulangan bencana banjir tersebut.
“Mendengar aspirasi dari masyarakat, di masa tanggap darurat bencana banjir ini, mereka membutuhkan makanan siap saji maupun makanan siap santap supaya para korban banjir tidak ke laparan. Termasuk kebutuhan untuk bayi sehari-hari,” tuturnya. @bud