Search
Close this search box.

Belajar Daring di Masa Pandemi dan Pembentukan Karakter

ilustrasi daring./visi.news/ist.

Bagikan :

VISI.NEWS – Alkhalifi bocah yang duduk di kelas 4 SD itu sudah sangat bosan dengan belajar daring. Tiap pagi, ia dan ibunya harus duduk di depan laptop milik ayahnya untuk mengikuti pelajaran yang disampaikan gurunya di sekolah.

“Bosan, bosan….! Kapan Alkha bisa belajar lagi di sekolah, bisa ngumpul dan bertemu lagi dengan teman-teman di sekolah,” ungkapnya pada Ny. Nuraida (35), ibunya Alkha.

Tak jarang, siswa yang tinggal di Kelurahan Mulyoharjo, Kecamatan Pemalang itu saat belajar daring mondar mandir ke dapur, ke toilet, dan lari lagi ke depan laptop saat gurunya manggil. Suasana ini kadang kala membuat ibunya juga jengkel dan menyuruh anaknya itu untuk tetap berada di depan laptop. “Bosan Alkha juga kalau dengerin bu guru ngomong terus di laptop. Alkha kadang ngambil makanan dulu di dapur, minum dulu atau pipis dulu,” ungkap Alkha.

Belajar secara daring, kata Nuraida, tak jarang membuat ibu dan anak itu bertengkar. Terutama, katanya, apabila anaknya itu tidak bisa menjawab pertanyaan dari gurunya yang ia anggap mudah.”Terus terang saya juga jengkel kalau Alkha tak bisa menjawab pertanyaan yang gampang. Jadi, apa saja yang diajarkan guru selama ini yah,” ungkapnya.

Tidak hanya anaknya, Nuraida sendiri berharap pemerintah segera membuka kembali belajar secara tatap muka.”Belajar di sekolah itu bukan hanya tentang penerimaan ilmu dari guru, tapi ada interaksi sosial, ada rasa saling toleran sesama teman dan pelajaran hidup. lainnya yang tidak mungkin di dapat secara daring,” katanya.

Menurut pakar pendidikan karakter Prof. Dadi Permadi, pembelajaran sistem daring tetap harus bisa mendorong pembentukan karakter siswa yang baik.” Dengan strategi multiple intelligences peserta didik diharapkan mampu mengembangkan
delapan kecerdasannya seperti yang di utarakan oleh pencetusnya Dr. Howard Gardnerd,” katanya.

Baca Juga :  Umuh Muchtar Diganjar Penghargaan di Tengah Perjuangan Persib

Delapan kecerdasan yang dimaksud, kata Prof. Dadi meliputi kecerdasan bahasa (linguistic Intelligence) kecerdasan ini fokus pada
berpikir dalam kata-kata. Kedua, logika-matematika (logical-matematical intelligence) berfikir
dengan penalaran atau logika. Ketiga, visual-spasial (visual or spasial intelligence) berpikir
dalam cerita dan gambar. Keempat, musikal (musical iantelligence) berpikir dalam melodi.
Kelima, gerak-tubuh/kinestetik (body/kinesthetic intelligence) berpikir melalui sensasi dan
gambar gerak tubuh. Keenam, alam (natural intelligence) berpikir dalam alam, ketujuh, sosial
(interpersonal intelligence) berpikir melalui komunikasi dengan orang lain, kedelapan, cerdas
diri (intrapersonal in intelligence) berfikir secara reflektif.@as

Baca Berita Menarik Lainnya :