Search
Close this search box.

Belanja Online 2026: Bangkitnya Shoppertainment

Penjualan melalui video atau yang dikenal sebagai video commerce juga diperkirakan tetap mendominasi lanskap belanja online. /visi.news/ist

Bagikan :

VISI.NEWS | BANDUNG – Konsep shoppertainment diprediksi akan terus berlanjut hingga 2026. Selain itu, penjualan melalui video atau yang dikenal sebagai video commerce juga diperkirakan tetap mendominasi lanskap belanja online.

“Konsumen kini mengharapkan perpaduan antara belanja dan hiburan (shoppertainment). Kehadiran video commerce—termasuk live shopping dan video berdurasi pendek—terus mendominasi ekosistem e-commerce,” ujar Head of Research Jakpat, Aska Primardi, dalam keterangan tertulis, Rabu (8/1/2026).

Data survei Jakpat menunjukkan bahwa live shopping bukan sekadar tren sesaat, melainkan metode belanja yang semakin menguat posisinya di pasar. Hal ini terlihat dari tingkat kesadaran publik yang sangat tinggi sejak akhir tahun lalu, mencapai 80 persen pada paruh kedua 2024, dan terus meningkat menjadi 85 persen pada paruh pertama 2025.

Kepercayaan konsumen untuk terlibat dalam ekosistem ini juga meningkat pesat. Pada paruh pertama 2024, sebanyak 74 persen konsumen menyatakan pernah mengikuti sesi live shopping, kemudian meningkat menjadi 79 persen pada paruh kedua 2025. Meski tingkat pembelian mengalami sedikit fluktuasi dari 46 persen pada paruh pertama 2024 menjadi 44 persen pada paruh kedua 2025, tingginya keterlibatan audiens yang konsisten sepanjang satu tahun terakhir menegaskan bahwa live shopping akan tetap menjadi kanal favorit konsumen untuk mengeksplorasi produk sekaligus membangun kedekatan dengan merek di masa depan.

“Kesadaran terhadap live shopping meningkat pada paruh pertama 2025, diikuti dengan kenaikan tingkat partisipasi dalam live shopping,” simpul Aska.

Ia menambahkan, fenomena ini erat kaitannya dengan fragmentasi kanal belanja yang didorong oleh pesatnya pertumbuhan social commerce, yang mengintegrasikan fitur belanja seperti live shopping dan video commerce ke dalam platform media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube. “Konsumen mencari hiburan saat berbelanja (shoppertainment),” ujar Aska.

Baca Juga :  Tarif Khusus Go Show Kereta Jogja-Solo Januari 2026, Ini Daftar Rute dan Harganya

**Menghadapi 2026**

Jakpat memprediksi fragmentasi pasar akan terus berlanjut, dengan konsumen yang semakin dinamis berpindah antara social commerce, marketplace, dan kanal Direct-to-Consumer (DTC). Kondisi ini menandakan tidak akan ada lagi satu platform yang benar-benar dominan.

“Perilaku shoppertainment telah menjadi kebiasaan yang terbentuk melalui social commerce. Konsumen menikmati interaksi dan konten yang berbeda di setiap kanal,” tambah Aska.

Situasi ini akan mendorong terjadinya konvergensi pengalaman belanja, di mana batas antara marketplace dan social commerce semakin kabur. Platform media sosial akan mengembangkan kemampuan pemenuhan logistik yang lebih canggih, sementara marketplace akan semakin terintegrasi dengan fitur pembuatan konten dan livestream.

“Seluruh platform kini berlomba menciptakan konsep super-app commerce, di mana konsumen dapat menemukan produk, berinteraksi, hingga menyelesaikan transaksi—termasuk urusan logistik—dalam satu aplikasi,” jelas Aska mengenai evolusi belanja online menuju 2026.

@uli

Baca Berita Menarik Lainnya :