Cerita di Balik Sidang Brenton Tarrant, Teroris Kulit Putih, Pembunuh 51 Jemaah di 2 Masjid Selandiabaru (1)

Editor :
Law Croust./bbcnews/ist.

Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Sidang kasus penembakan dua masjid di Christchurch, Selandiabaru, mendengarkan keterangan para keluarga korban.
Dalam sidang Selasa (25/08) lalu, Ambreem Naeem, yang kehilangan suami dan seorang anak dalam penembakan tersebut, mengatakan bahwa hukuman untuk pelaku harus berlaku selamanya.

Di kursi terdakwa, Brenton Tarrant, yang telah mengakui perbuatan membunuh 51 jemaah di dua masjid, tampak pasif dan tak menunjukkan ekspresi.

Pada sidang hari Senin (24/8), terungkap bahwa Tarrant memiliki rencana menjadikan masjid sebagai sasaran dan ingin membakar masjid-masjid ini “agar jatuh korban sebanyak mungkin”.

Insiden ini mengguncang Selandiabaru dan masyarakat internasional.

Penembakan membuat trauma dan perasaan sangat terasa. Namun, sekarang kehidupan telah kembali normal dan bahkan toleransi antarumat beragama semakin tinggi, kata dua warga Indonesia yang bekerja dan belajar di sana.

Mereka mengungkapkan bagaimana pemerintah dan masyarakat Selandiabaru mengembalikan rasa aman dan percaya khususnya bagi umat Islam. Apalagi, kejadian itu juga meningkatkan keinginan masyarakat Selandiabaru untuk lebih mengetahui dan mengenal tentang Islam.

Nurfadilah tiba di Christchurch, Selandiabaru pada awal tahun 2019. Beberapa bulan terlewati, ia yang tengah menyelesaikan master tak menyangka berada di dekat peristiwa penembakan yang menewaskan 51 orang.

Usai belajar di kampus, Dila, panggilannya, yang berjalan kaki pulang menunju tempat tinggalnya, melihat beberapa ambulans melintas di depannya.
Ia baru mengetahui penembakan beberapa saat kemudian melalui pemberitaan televisi.
Peristiwa itu membuat Dila menjadi takut untuk keluar rumah selama satu dan dua pekan pertama.

“Pertama kali keluar usai kejadian bersama dua teman saya dari Malaysia yang pakai hijab awalnya takut. Tapi saat ketemu warga mereka sangat baik, peduli. Lalu pihak kampus bahkan mengantarkan makanan hingga ke rumah. Kami merasakan ada support,” kata Dila kepada wartawan BBC News Indonesia Raja Eben Lumbanrau.

“Bahkan kami disediakan transportasi oleh kampus dan mahasiswa, mengantar kami ke rumah masing-masing. Mereka ingin menyampaikan pesan ‘peristiwa itu bukan kami, kami ingin kalian imigran, Muslim, pendatang merasa aman di sini,'” kata Dila.

Rasa takut pun hanya berlangsung kurang dari dua bulan saja. Selebihnya kondisi perlahan semakin pulih dan kembali normal pada enam bulan, kata Dila yang menganggumi toleransi masyarakat di sana.

Sekarang, lebih dari setahun terlewati, kata Dila, kondisi kembali menjadi normal, bahkan terjadi peningkatan keamanan di rumah ibadah.

“Sekarang mau ke masjid harus register, lebih ketat masuk tempat ibadah. Lalu musala di kampus yang hanya patroli menjadi berjaga setiap saat. Kami merasa aman,” kata perempuan kelahiran Makasar tersebut.

“Kami merasa disayang sama warga dan pemerintah di sini. Ini pelajaran untuk kita semua, bagaimana warga peduli satu sama lain, pemerintah baik dan peduli dengan warganya,” katanya.

Bahkan kata Dila, peristiwa tersebut meningkatkan rasa ingin tahu warga lokal dan warga lain untuk belajar tentang Islam.
Hal itu senada dengan yang diungkapkan Carissa Paramita, WNI yang tinggal di Auckland, Selandia Baru.

“Dulu open day masjid, pengunjungnya puluhan, hanya orang-orang tertentu saja yang datang. Sekarang hingga ratusan. Interest orang terhadap Islam meningkat. Keingintahuan dan simpati dengan Muslim lebih meluas,” kata Mita, panggilannya.

Mita yang telah tinggal di Selandia Baru selama enam tahun mengatakan apa yang dilakukan Brenton Tarrant tidak merepresentasikan kebebasan beragama di sana. Ia tidak pernah menemukan sekalipun tindakan diskriminasi terhadap umat Muslim.

“Sebelum kejadian, di sini jalan pakai gamis, peci, hijab itu biasa saja, tidak ada pandangan miring, lalu pengajian berjalan biasa, tidak ada yang melarang. Selandiabaru sangat terbuka dengan perbedaan, kebebasan beragama dan bertoleransi tinggi. Namun, kejadian ini mengungkap bahwa masih ada yang rasis dengan imigran dan juga Muslim jika ditelaah lebih dalam, dan mereka biasanya tinggal di daerah selatan,” kata Mita.

Koordinator fungsi penerangan dan sosial budaya KBRI Selandiabaru, Adek Triana Yudhaswari mengatakan secara umum masyarakat di Selandiabaru, termasuk WNI tetap tenang dan bersabar menunggu keputusan pengadilan terhadap Brenton Tarrant. (bersambung)/@fen/sumber: bbcnews

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Mayoritas Penduduk Muslim, Wapres Minta Ada Sertifikasi Halal Vaksin Covid-19

Jum Agu 28 , 2020
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Wakil Presiden Ma’ruf Amin meminta sertifikasi halal vaksin Covid-19 Sinovac yang kini tengah uji klinis fase tiga bisa keluar sebelum vaksin tersebut diedarkan. Ma’ruf Amin berpendapat setifikasi halal vaksin penting mengingat mayoritas masyarakat Indonesia beragama Islam. “Saya minta seperti yang diminta oleh Presiden, supaya lebih cepat (produksinya) […]