VISI.NEWS | BANJARAN – Seminar nasional dengan tema “Ekonomi Sirkuler Limbah, Sampah dan Biomasa” di Pusat Kegiatan Kencana Online Jalan Raya Banjaran No. 390, Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Bandung, Selasa (28/2/ 2024) menghasilkan sejumlah catatan penting. Diantaranya, pemerintah tidak perlu membantu cukup dengan tidak mengganggu atau menghalangi tumbuh kembangnya pengelolaan tempat-tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST).
Seminar yang diinisiasi Kencana Online, Askkindo dan Kadin ini diikuti oleh 300 peserta dari seluruh Indonesia, baik secara online maupun offline. Mereka kebanyakan dari kalangan pengusaha, BUMN, akademisi, bahkan ada NGO dari PBB.
Seminar ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang pentingnya pengelolaan limbah, sampah dan biomasa secara sirkuler, yang dapat memberikan manfaat ekonomi, sosial dan lingkungan. Seminar ini juga membahas tentang potensi pasar karbon kredit, yang merupakan salah satu insentif untuk mendorong praktik ekonomi sirkuler.
Seminar ini dibuka oleh Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sarman Simanjorang S.Si., yang menyampaikan bahwa Kadin mendukung penuh upaya-upaya untuk mewujudkan ekonomi sirkuler di Indonesia. Ia juga mengapresiasi kerjasama antara Kencana Online, Asosiasi Pengusaha Non Konstruksi Indonesia (Askkindo) dan para pemateri seminar.
Dalam kata pengantarnya, Ketua Askkindo Ir. Tri Bagus Santoso, menjelaskan bahwa Askkindo merupakan asosiasi yang bergerak di bidang pengelolaan limbah, sampah dan biomasa. Ia mengatakan bahwa Askkindo siap berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk mengembangkan ekonomi sirkuler di Indonesia.
Jalannya seminar menjadi menarik dan hidup karena dipandu oleh Hadiyan Nur Sofyan, ST, MT, CDMC, CNLPC, yang merupakan praktisi dan konsultan di bidang pengelolaan limbah, sampah dan biomasa. Ia memandu diskusi yang interaktif dan informatif antara para peserta dan pemateri seminar.
Pemateri pertama Ir. Sonson Garsoni, mantan Ketua Kadin Jabar yang merupakan pengelola Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Energi Mandiri. Ia membagikan pengalaman dan tantangan dalam mengelola TPST, yang merupakan salah satu contoh ekonomi sirkuler di Indonesia. Ia juga menunjukkan bagaimana TPST dapat menghasilkan energi listrik, pupuk organik, dan bahan baku industri dari sampah.
Pemateri kedua adalah Trimo Pamudji Al Djono, S.T., M.Si., yang merupakan ahli di bidang perubahan iklim, dekarbonisasi dan perdagangan karbon. Ia menjelaskan konsep dan mekanisme perdagangan karbon, yang merupakan salah satu cara untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan mendorong transisi energi bersih. Ia juga memberikan contoh-contoh proyek-proyek yang dapat menghasilkan karbon kredit, seperti TPST, pengolahan biomasa, dan penanaman pohon.
Pemateri ketiga Mochamad Sabdo Yusmintiarto, yang merupakan pakar di bidang pasar karbon kredit. Ia membahas tentang potensi dan peluang pasar karbon kredit di Indonesia, yang masih terbuka lebar. Ia juga memberikan tips dan trik untuk mengakses dan memanfaatkan pasar karbon kredit, baik bagi pemerintah, dunia usaha, maupun masyarakat. “Dan sertifikat karbon ini sekarang harganya lumayan bisa sampai 53 Euro. Jadi bagi pengelola TPST ada nilai tambah keekonomian,” ungkap Sabdo.
Seminar ditutup dengan closing statement dari Ir. Sonson Garsoni, yang menyimpulkan bahwa ekonomi sirkuler merupakan solusi yang menguntungkan bagi semua pihak, baik secara ekonomi, sosial, maupun lingkungan.
Sehingga, katanya, pembangunan TPST mulai muncul di mana-mana, di Bandung Summarecon sudah mentenderkan pengelolaan sampahnya secara mandiri, begitu juga di Bogor, Jakarta dan daerah-daerah lainnya.
Penciptaan ekosistem TPST ini mulai banyak menarik perhatian pengusaha juga pemerintah. Ia mengingatkan bahwa pengelolaan TPST mandiri ini bisa mengurangi beban pemerintah sebagai regulator. melepaskan sebagian beban pemerintah. “Jangan menganggap menarik retribusi itu menguntungkan, itu merugikan. Saya pastikan. Karena anggaran yang dikeluarkan pemerintah itu besar sementara retribusi yang diambil itu kecil. Itu hanya prestise”.
Sonson juga mengingatkan bahwa teknologi day by day terus berkembang sehingga sekarang ini bisa dilakukan oleh pengusaha di dalam negeri dibantu oleh asosiasi-asosiasi yang ada. Kepercayaan masyarakat terhadap tumbuhnya pengelolaan TPST-TPST ini juga sangat diperlukan.
Dibagian akhir pernyataanya Sonson mengatakan bahwa adanya insentif carbon credit yang terungkap di seminar tersebut akan meningkatkan nilai keekonomian dari TPST-TPST ini.
@mpa/asa