Search
Close this search box.

Dari Taipan Terhormat ke Tersangka Kejahatan Global: Penangkapan Chen Zhi Membuka Tabir Gelap Industri Scam Asia

Petugas keamanan Kamboja mengawal Chen Zhi usai penangkapannya dalam operasi pemberantasan kejahatan transnasional di Phnom Penh, Kamboja, Selasa (6/1/2026)./visi.news/ist.

Bagikan :

VISI.NEWS | BANDUNG – Penangkapan Chen Zhi di Kamboja menjadi titik balik penting dalam upaya global membongkar jaringan penipuan daring lintas negara yang selama bertahun-tahun beroperasi di Asia Tenggara. Kasus ini tidak hanya menyeret nama seorang taipan muda, tetapi juga menyingkap keterkaitan antara kekuatan modal, politik, dan kejahatan transnasional.

Chen Zhi, buronan paling dicari di Asia yang didakwa oleh Amerika Serikat atas penipuan dan pencucian uang bernilai miliaran dolar AS, ditangkap pada Selasa (6/1/2026) dan diekstradisi ke China sehari kemudian. Ia sebelumnya dikenal luas sebagai pengusaha sukses yang berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Kamboja melalui konglomerasi Prince Holding Group.

Namun, penyelidikan internasional menunjukkan sisi lain dari bisnis tersebut. Chen diduga mengendalikan jaringan pusat penipuan daring yang tersebar di Kamboja, dengan memanfaatkan sistem kerja paksa. Para pekerja dilaporkan ditahan di kompleks tertutup dengan pengamanan ketat, menyerupai fasilitas penjara, dan dipaksa melakukan penipuan digital terhadap korban dari berbagai negara.

Selain Chen, dua warga negara China lainnya, Xu Ji Liang dan Shao Ji Hui, turut diamankan dalam operasi yang dilakukan aparat Kamboja atas dasar kerja sama pemberantasan kejahatan transnasional dan permintaan resmi dari otoritas China. Pemerintah Kamboja juga telah mencabut kewarganegaraan Chen melalui dekrit kerajaan pada Desember 2025.

Amerika Serikat menuding Chen mendirikan Prince Group sebagai kedok bagi salah satu organisasi kriminal transnasional terbesar di Asia. Sejak dakwaan dibuka pada Oktober 2025, aparat penegak hukum di Eropa, Amerika Serikat, dan Asia melakukan serangkaian penyitaan aset yang terkait dengan perusahaan tersebut.

Dalam dakwaan AS, Chen disebut memimpin skema penipuan yang dikenal sebagai pig butchering, yaitu penipuan investasi kripto dengan membangun kepercayaan korban secara bertahap sebelum menguras dana mereka. Skema ini disebut telah menimbulkan kerugian miliaran dolar AS di tingkat global. Otoritas AS juga menyita sekitar 127.271 bitcoin dengan nilai lebih dari 11 miliar dolar AS atau setara Rp184 triliun. Jika terbukti bersalah, Chen terancam hukuman hingga 40 tahun penjara di Amerika Serikat. Sementara itu, Prince Group membantah seluruh tuduhan yang dialamatkan kepada pendirinya.

Baca Juga :  5 Menu Sarapan Pagi yang Cocok untuk Program Diet

Kasus ini memperkuat sorotan terhadap Kamboja, Myanmar, dan kawasan sekitarnya sebagai pusat industri scam dunia. Puluhan ribu orang dilaporkan terlibat dalam penipuan daring, sebagian direkrut melalui iklan lowongan kerja palsu, sementara lainnya menjadi korban perdagangan manusia dalam industri ilegal bernilai miliaran dolar AS.

Penangkapan Chen Zhi juga memicu perhatian internasional karena rekam jejaknya yang pernah menjabat sebagai penasihat Perdana Menteri Kamboja Hun Manet serta ayahnya, mantan Perdana Menteri Hun Sen. Kedekatan tersebut menimbulkan pertanyaan serius mengenai perlindungan politik terhadap operasi bisnis ilegal yang berlangsung bertahun-tahun.

Dengan tertangkapnya Chen, komunitas internasional kini menunggu langkah lanjutan untuk mengungkap aktor lain yang diduga terlibat dalam jaringan penipuan global tersebut, sekaligus nasib ribuan korban yang selama ini terjebak dalam industri gelap lintas negara. @kanaya

Baca Berita Menarik Lainnya :