VISI.NEWS|BANDUNG -Awal tahun 2026 menjadi periode krusial bagi layanan kesehatan di Kota Bandung. Unit Transfusi Darah Palang Merah Indonesia (UTD PMI) Kota Bandung mencatat persediaan labu darah berada jauh di bawah ambang ideal, sementara permintaan dari rumah sakit dan pasien terus meningkat. Kondisi ini dinilai berpotensi menghambat penanganan medis, baik yang bersifat terjadwal maupun darurat.
Juru Bicara UTD PMI Kota Bandung, Budi Widiana, menyebut lonjakan kebutuhan darah sudah terasa sejak awal Januari 2026. Rata-rata permintaan darah harian kini berada di atas 500 kantong per hari.
“Total permintaan darah pada Januari 2026 rerata di atas 500 kantong per hari,” kata Budi di Bandung, Senin, 12 Januari 2026.
Namun, ketersediaan darah justru berbanding terbalik dengan kebutuhan. Budi menjelaskan bahwa hingga Senin dini hari, stok darah masih jauh dari jumlah ideal untuk menjamin pelayanan kesehatan selama beberapa hari ke depan.
“Stok PRC dan trombosit total 100 dan 230 labu per 12 Januari 2026 pukul 00.01 WIB. Jumlah ini masih kurang dari ideal karena persediaan PRC seharusnya 1.200 sampai 1.500 labu untuk kebutuhan tiga hari ke depan,” ujarnya.
Kondisi tersebut sempat berada pada titik yang lebih mengkhawatirkan sehari sebelumnya. Menjelang tengah malam pada Minggu, 11 Januari 2026, stok darah untuk beberapa komponen nyaris habis.
“Per 11 Januari 2026 pukul 23.59 WIB, persediaan PRC hanya 318 labu dan trombosit 83 labu,” kata Budi.
Bahkan, untuk sejumlah jenis darah lain, UTD PMI Kota Bandung sama sekali tidak memiliki cadangan.
“Untuk Anti Haemophilic Factor, Whole Blood, Liquid Plasma, Buffy Coat, dan Pediatrik Leukodepleted, persediaannya nihil untuk seluruh golongan darah,” ujarnya.
Keterbatasan juga terjadi pada jenis darah tertentu yang hanya tersisa dalam jumlah sangat minim.
“Packed Red Cells Leukodepleted hanya tersedia satu labu dan Thrombocyte Apheresis tiga labu,” lanjut Budi.
Ia menilai kondisi ini sebagai tragedi kemanusiaan yang harus segera ditangani bersama. Menurut Budi, salah satu faktor yang memengaruhi minimnya stok darah adalah momentum libur panjang yang berdampak pada menurunnya jumlah pendonor.
“Kerap kali adanya libur panjang menjadi kendala dalam raihan persediaan darah yang hendak disimpan,” ucapnya.
Dengan situasi yang semakin kritis, UTD PMI Kota Bandung mengimbau masyarakat untuk segera mendonorkan darah. Seruan tersebut disampaikan melalui media sosial hingga grup aplikasi pesan kepada para pendonor tetap.
“Saat ini banyak saudara-saudara kita yang sedang membutuhkan darah dan kebetulan stok saat ini di PMI Kota Bandung sudah sangat menipis. Kami mengimbau warga Bandung dan sekitarnya untuk membantu dengan mendonorkan darah di PMI Kota Bandung,” kata Budi.
Ia menegaskan bahwa kekurangan stok darah dapat berdampak langsung pada keselamatan pasien, terutama dalam kondisi darurat seperti kecelakaan lalu lintas atau tindakan medis mendesak.
“Jumlah kritis persediaan labu darah ini dapat menghambat berbagai tindakan medis terjadwal dan tidak terjadwal,” ujarnya.
Budi juga mengajak para pendonor yang telah memenuhi jadwal donor untuk segera datang ke UTD PMI Kota Bandung.
“Untuk pendonor yang sudah saatnya donor darah, kami tunggu kehadirannya di PMI Kota Bandung,” kata Budi.
UTD PMI Kota Bandung turut mengingatkan masyarakat untuk mempersiapkan diri sebelum melakukan donor darah, mulai dari menjaga kondisi tubuh, mengonsumsi makanan bergizi, hingga memastikan waktu istirahat cukup. Langkah tersebut penting agar proses donor berjalan lancar dan aman bagi pendonor maupun penerima darah.@fajar