VISI.NEWS | BANDUNG – Laporan terbaru dari Ericsson Mobility Report (EMR) mengungkapkan tren menarik terkait penerapan layanan konektivitas yang semakin terdiferensiasi oleh operator telekomunikasi global. Saat ini, 33 operator telekomunikasi menyediakan layanan konektivitas berbasis network slicing dengan total 65 penawaran komersial. Inovasi ini memungkinkan operator untuk menawarkan layanan yang disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan, menjadikan konektivitas lebih bernilai dan spesifik daripada sekadar paket data berbasis volume.
Salah satu teknologi utama yang mendorong tren ini adalah 5G Standalone (5G SA), yang memungkinkan pemotongan jaringan khusus bagi pelanggan tertentu. EMR memperkirakan bahwa 6,4 miliar langganan 5G akan tercatat pada akhir 2031, yang mewakili dua pertiga dari total langganan seluler di dunia. Konektivitas berbasis 5G SA menjadi landasan penting bagi layanan terdiferensiasi ini, yang terus berkembang pesat sejak diluncurkan.
Penerapan 5G SA diprediksi akan mengalami pertumbuhan signifikan pada tahun 2025, dengan lebih dari 90 operator telekomunikasi telah meluncurkan atau dalam tahap awal peluncuran jaringan 5G SA. Jumlah ini meningkat sekitar 30 operator dibandingkan tahun lalu, menunjukkan bahwa operator semakin siap untuk mengadopsi teknologi yang memungkinkan pemisahan layanan berdasarkan nilai, seperti layanan dengan kualitas tertentu yang dijamin oleh jaringan.
Dari total 118 kasus penggunaan yang ditemukan oleh peneliti EMR di 56 operator, sebanyak 65 kasus sudah memasuki tahap komersial setelah melalui tahap proof of concept. Layanan yang ditawarkan mencakup paket berlangganan atau paket add-on yang dapat digunakan oleh konsumen dan bisnis, memperlihatkan penerimaan pasar yang semakin luas terhadap layanan konektivitas yang disesuaikan ini.
“Penyedia layanan telekomunikasi di seluruh dunia semakin siap untuk mengadopsi 5G SA dan menghadirkan konektivitas yang lebih terdiferensiasi. Kami melihat peralihan dari proof-of-concept ke penerapan komersial hanya dalam waktu satu tahun, dan tren ini akan terus berlanjut,” kata Erik Ekudden, Chief Technology Officer Ericsson, dalam wawancara terkait laporan EMR tersebut.
Menurut Daniel Ode, President Director Ericsson Indonesia, Singapura, Filipina, dan Brunei, teknologi 5G SA memungkinkan pengalaman digital yang lebih bermakna bagi masyarakat dan industri. Ia menekankan pentingnya ketersediaan spektrum yang cukup dengan harga yang terjangkau untuk mempercepat transformasi digital di Indonesia, serta menghubungkan lebih banyak orang ke ekosistem digital yang lebih kuat.
Selain perkembangan 5G, laporan EMR juga menyoroti perkembangan Fixed Wireless Access (FWA) sebagai salah satu use case utama 5G. Diperkirakan 1,4 miliar orang akan mengakses layanan broadband FWA pada akhir 2031, dengan 90 persen di antaranya menggunakan 5G. Layanan ini akan membuka akses internet berkecepatan tinggi di area yang sulit dijangkau jaringan fiber optik, dan menjadi pendorong penting bagi pemerataan konektivitas digital.
Proyeksi EMR juga menunjukkan bahwa pada 2025, langganan 5G global akan melampaui 2,9 miliar, sekitar sepertiga dari total langganan seluler saat ini. Trafik data juga diperkirakan meningkat sekitar 20 persen dari kuartal ketiga 2024 hingga periode yang sama pada 2025, didorong oleh negara-negara besar seperti China dan India.
Laporan EMR kali ini juga mengidentifikasi tren signifikan terkait penerapan teknologi 5G di pasar-pasar global. Peluncuran komersial pertama 6G diperkirakan akan dimulai di pasar-pasar maju seperti AS, Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok, meskipun peluncuran di Eropa mungkin sedikit tertunda. Perkiraan ini menunjukkan arah masa depan bagi jaringan seluler, dengan 6G yang diperkirakan akan menjadi landasan bagi inovasi-inovasi baru dalam beberapa tahun mendatang.
Ericsson Mobility Report yang diterbitkan pada November 2025 mencakup berbagai artikel menarik, termasuk studi kasus penggunaan teknologi 5G SA oleh Singtel dan Softbank, serta bagaimana SailGP meningkatkan operasional dan pengalaman penonton dengan 5G. Laporan ini memberikan gambaran yang jelas tentang bagaimana teknologi ini membuka peluang baru di berbagai industri dan mengubah cara kita berinteraksi dengan dunia digital.
@uli