VISI.NEWS | BANDUNG – Kekalahan Fluminense dari Internacional di kandang sendiri tidak sekadar soal hasil akhir, tetapi membuka sejumlah persoalan mendasar dalam struktur permainan tim. Laga ini menegaskan bahwa kelemahan utama berada pada organisasi pertahanan serta minimnya kreativitas di lini tengah yang berdampak langsung pada tumpulnya serangan.
Sejak awal pertandingan, Fluminense tampil tanpa kestabilan. Skema yang diterapkan pelatih Luis Zubeldía dengan tiga pemain bertahan justru membuat transisi permainan berjalan lambat. Alih alih memberikan keseimbangan, pendekatan ini membuat tim kesulitan merespons tekanan lawan, terutama saat menghadapi serangan balik cepat dari Internacional.
Sorotan terbesar tertuju pada lini belakang. Jemmes menjadi titik lemah paling mencolok setelah keputusan agresifnya meninggalkan posisi justru membuka ruang bagi lawan. Situasi ini diperparah oleh kesalahan Guilherme Arana pada gol kedua yang memperlihatkan kurangnya koordinasi dan disiplin dalam bertahan. Secara kolektif, lini belakang gagal menjaga struktur yang solid sepanjang pertandingan.
Di sektor tengah, Fluminense juga kehilangan kontrol. Bernal dan Alisson tidak mampu mengatur tempo maupun membangun alur serangan yang efektif. Kembalinya Nonato memang memberikan sedikit perbaikan dalam distribusi bola, tetapi belum cukup untuk mengangkat performa tim secara keseluruhan. Minimnya koneksi antara lini tengah dan depan membuat serangan Fluminense mudah dipatahkan.
Perubahan mulai terasa di babak kedua setelah masuknya Savarino. Ia menjadi satu satunya pemain yang mampu mengubah ritme permainan dengan menciptakan peluang berbahaya, termasuk upaya yang membentur mistar gawang. Namun, kontribusi individu ini tidak diimbangi oleh kolektivitas tim yang tetap tidak stabil.
Lini depan juga menunjukkan masalah serius. Canobbio dan Serna gagal memanfaatkan peluang emas, sementara John Kennedy lebih sering terisolasi tanpa dukungan yang memadai. Kondisi ini menegaskan bahwa persoalan Fluminense bukan hanya soal penyelesaian akhir, tetapi juga kurangnya suplai bola yang berkualitas dari lini tengah.
Keputusan Zubeldía melakukan penyesuaian memang memberi dampak, tetapi datang terlambat untuk mengubah hasil. Secara keseluruhan, pertandingan ini menjadi cerminan bahwa Fluminense masih memiliki pekerjaan besar dalam memperbaiki keseimbangan antar lini serta meningkatkan konsistensi permainan jika ingin bersaing di level yang lebih tinggi. @desi