Search
Close this search box.

Ferry Curtis Meliterasi dengan Hipnosis Musik Balada

FERRY CURTIS BALLADS saat tampil bersama putra bungsunya, SAKTI CURTIS dalam Konser Literasi Indonesia di Kampus UPI Bandung.

Bagikan :

VISI.NEWS|BANDUNG – “Lagu itu bisa menghipnosis!” ujar Ferry Curtis, seorang musisi dan penggerak literasi. Oleh karena itu, dia menambahkan, seorang penulis lagu harus bisa memilih dan menyusun kata yang baik untuk lirik lagunya. “Lagu itu harus memberi manfaat, jangan asal menghibur!” katanya menegaskan.

ferry curtis full
Musisi balada FERRY CURTIS

Ferry menjelaskan bahwa lagu dapat menggerakkan para pendengarnya sesuai dengan pesan yang dibawakan lagu itu. “Ada pendengar yang menangis karena lagunya bertema kesedihan. Ada juga yang sampai bergoyang atau berjingkrak-jingkrak karena lagunya bertema gembira. Bukankah ini hipnosis?” tutur musisi kelahiran Purwakarta, 20 Oktober 1969, itu.

Sangat baik bila lagu-lagu yang menghipnosis itu berlirik bagus sehingga pendengarnya bisa mengambil manfaat, selain merasa terhibur. Biasanya, lagu yang berlirik bagus pun tak akan lekang dimakan zaman. Ferry mencontohkan lagu “Ibu Pertiwi” yang bernuansa sedih dengan tema kecintaan terhadap tanahair. “Lagu itu sampai sekarang masih diperdengarkan untuk menumbuhkan rasa cinta pada tanahair. Pendengarnya bisa terhipnosis untuk mencintai tanahair.”

Bagi Ferry, lagu bukan sekadar hiburan. Ia adalah teks yang hidup. Setiap liriknya bisa mengandung cerita, pertanyaan, sekaligus ruang tafsir bagi pendengar.

Percaya bahwa lirik lagu bisa menghipnosis, Ferry memilih jalur musik yang tak berisik, balada. Bahkan, Ferry memilih lorong-lorong kehidupan yang jarang dijamah pemusik lain, lorong literasi.  Mungkin, Ferry ingin menghipnosis pendengar lagunya untuk menjadi pendengar yang literat.

“Ya, masyarakat kita harus literat. Gerakan literasi harus ditingkatkan, bukan sekadar kegiatan membaca dan menulis. Makanya, kami sekarang sedang membangun program ‘Literasi Bertumbuh’ agar kegiatan literasi bisa bertumbuh dan berkembang dalam setiap sendi kehidupan,” tuturnya.

Melalui lagu, diskusi, dan pertemuan komunitas, ia menggabungkan musik dan kegiatan membaca sebagai cara sederhana untuk menumbuhkan kesadaran dan kebiasaan berpikir di tengah masyarakat. Salah satu lagu yang banyak dinyanyikan di komunitas literasi adalah ‘Mari Membaca’.

Baca Juga :  Jadwal Sholat Kabupaten Bandung 9 April 2026: Waktu Lengkap & Tips Ibadah

Yo ayo ke pustaka

Yo ayo mari membaca

Guru yang hebat senang membaca

Murid yang pandai selalu membaca

Pemimpin besar pasti membaca

Bangsa yang maju bangsa pembaca

 

“Banyak orang yang salah mengira tentang lagu ini karena menganggap sebagai lagu ajakan, padahal bukan!” kata Ferry. Lebih jauh Ferry menjelaskan bahwa lirik lagu itu adalah bentuk protesnya terhadap kondisi masyarakat Indonesia yang tak suka membaca.

“Lagu ini menggambarkan tentang syarat dalam pencapaian. Misalnya, untuk menjadi guru yang hebat, seorang guru harus senang membaca. Ingin menjadi pemimpin yang besar, syaratnya pasti membaca. Untuk menjadi bangsa yang maju, harus menjadi bangsa pembaca. Itu kuncinya!” tutur Ferry menegaskan.

Lagu “Mari Membaca” pun dijadikan semacam anthem gerakan literasi, sering dinyanyikan di komunitas pecinta buku, sekolah, festival literasi, dan pustaka keliling. Lagu itu konon ikut mengangkat minat baca masyarakat Indonesia. Artinya, lagu itu telah berhasil menghipnosis masyarakat untuk membaca!

**

Kegiatan literasi sebenarnya bukan barang baru bagi Ferry. Jauh sebelum muncul program Gerakan Literasi Nasional pada 2016, Ferry sudah menjalani kegiatan literasi ke berbagai pelosok Indonesia. Ferry berkegiatan di lembaga pengembangan unggulan lokal MHMMD (Mengelola Hidup dan Merencanakan Masa Depan) bersama Hj. Marwah Daud Ibrahim, Ph.D. pada awal 2000-an. Pada saat itulah, Ferry mulai menulis lagu-lagu literasi, khususnya literasi kebangsaan.

Lagu‑lagu literasi karya Ferry Curtis berperan penting sebagai “jembatan” budaya yang memopulerkan gagasan literasi di kalangan anak muda, pelajar, dan komunitas di daerah. Musiknya memang bukan sekadar hiburan, melainkan menjadi kemasan alat edukasi dan kampanye sosial yang menarik dan mudah diingat.

Berkat kiprahnya di dunia literasi, Ferry Curtis mendapat kepercayaan mencipta lagu “Mars Perpustakaan Nasional” (perpusnas 2026) yang kini diputar di seluruh perpustakaan di Indonesia. “Menggubah lagu mars ini tidak mudah. Pemilihan kata untuk liriknya merupakan hasil perenungan yang dalam karena harus diterima oleh semua orang dan bisa menggugah semangat,” tutur Ferry.

Baca Juga :  Jadwal SIM Keliling Kabupaten Bandung Hari Ini, Kamis 16 April 2026
ferrybudi2
Ferry Curtis bersama kakaknya, sastrawan Budi Sabarudin.

Adik dari Budi Sabarudin (alm.) – wartawan, sastrawan, dan pendongeng – ini kemudian menceritakan bahwa dalam pembuatan lirik mars tersebut dia juga mendapat masukan berharga dari Kaperpusnas, Prof. E. Aminudin Aziz, M.A., Ph.D. “Ada satu kata yang beliau koreksi dengan sangat santun. Satu kata yang menguatkan makna lagu itu,” ujar Ferry lagi.

Menggubah lagu mars memang agak berbeda dengan lagu-lagu yang biasa dibuat Ferry. Temanya tentu berbeda. Selain itu, biasanya Ferry sengaja menulis lirik lagu dengan pesan literasi – kebangsaan, lingkungan, kepemudaan, dan lain-lain – yang dibungkus dalam musik balada bernada optimistis sehingga pesan literasi terasa ringan. Cara ini membantu menjembatani kesenjangan antara gerakan literasi yang “formal” dengan keseharian masyarakat, termasuk anak sekolah dan komunitas di pedesaan.

Ya, itulah musik Ferry, jadi, jangan heran bila kita melihat dia aktif tampil di berbagai daerah, termasuk di sekolah‑sekolah nonformal dan desa-desa untuk memotivasi dan menumbuhkan literasi.  Belakangan ini, selain menyelenggarakan konser literasi di kota kelahirannya, Purwakarta, Ferry juga terlihat wira-wiri ke desa-desa.

“Literasi itu bukan hanya kegiatan membaca dan menulis. Dia pun harus tumbuh di mana-mana. Literasi itu harus mampu menggerakkan masyarakat untuk lebih maju, terutama di desa-desa,” tutur Ferry usai acara Ngabubulit di Desa Mekarjaya Kabupaten Bandung, 1 Maret 2026. Selain di Desa Mekarjaya, Ferry pun terlibat dalam pembangunan kampung wisata literasi di Wanayasa Purwakarta.@tks

 

Baca Berita Menarik Lainnya :