VISI.NEWS | JABAR – Sektor produksi garmen dan tekstil di Jawa Barat mengalami gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), dengan sekitar 3.500 anggota Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) terpengaruh. Ketua KSPSI Jabar, Roy Jinto, menyampaikan bahwa sejak awal tahun 2024, jumlah PHK di sektor ini telah mencapai angka tersebut.
Roy menjelaskan bahwa pesanan dari pembeli di sektor garmen dan tekstil telah mengalami penurunan dalam beberapa bulan terakhir. Dia juga menyoroti bahwa kondisi serupa terjadi di Jawa Tengah, di mana banyak buruh juga menghadapi PHK karena kurangnya order.
“Memang tahun ini (kasus PHK) agak banyak di Jateng. Ini persoalannya cuma gak ada order, dan di Jabar sama karena tidak ada order,” ujar dia.
Menanggapi situasi ini, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman, menekankan pentingnya perusahaan untuk mempertahankan karyawan dan mencari solusi daripada melakukan PHK secara sembarangan. Herman berharap perusahaan dapat menemukan solusi transisi yang lebih bijaksana, meskipun dia mengakui situasi saat ini memang sulit.
“Tentu idealnya sih ada solusi yang arif lah. Pihak perusahaan juga jangan serta-merta mem-PHK, harus ada solusi transisi, solusi jalan tengah. Walaupun kami juga paham memang saat ini tidak semudah yang dibayangkan, situasi sulit,” ucap Herman.
Lebih lanjut, Herman menegaskan bahwa pelaku industri perlu beradaptasi dengan teknologi digital dalam proses produksi. Dia menyatakan bahwa perusahaan yang menguasai teknologi dan berinovasi memiliki peluang untuk meraih keuntungan dan meningkatkan produksi di era yang kompetitif ini. Perusahaan yang masih bergantung pada metode manual atau teknologi lama akan kesulitan bersaing.
“Perusahaan-perusahaan yang menguasai teknologi, perusahaan-perusahaan yang inovatif justru sekarang saatnya profit, saatnya meningkatkan produksi,” ucapnya.
“Karena di era sekarang kan yang bisa bertahan adalah yang kompetitif, yang terlalu mengandalkan manual atau teknologi-teknologi yang jadul, ya pasti akan sangat berat bersaing,” kata dia. @ffr