VISI.NEWS | TEL AVIV – Gelombang penolakan terhadap kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran mengguncang opini publik Israel. Sebuah survei terbaru menunjukkan mayoritas warga Negeri Zionis tidak puas dengan hasil diplomasi tersebut dan justru memperkirakan konflik bersenjata akan kembali pecah dalam waktu dekat.
Hasil jajak pendapat yang dirilis oleh Institute for National Security Studies (INSS) mengungkapkan, sebanyak 61 persen responden menolak gencatan senjata yang diumumkan hanya 90 menit sebelum tenggat ultimatum Presiden Donald Trump. Bahkan, 73 persen responden meyakini perang dengan Iran akan kembali terjadi dalam satu tahun ke depan.
Penolakan ini mencerminkan ekspektasi publik Israel yang sebelumnya dijanjikan kemenangan mutlak oleh pemerintah. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu selama ini menggambarkan Iran sebagai ancaman eksistensial yang harus dilumpuhkan sepenuhnya. Namun, realitas di lapangan justru menunjukkan Iran masih bertahan, meski mengalami tekanan militer dan ekonomi.
Alih-alih kemenangan telak, perang yang berlangsung sejak akhir Februari hanya menghasilkan gencatan senjata sementara selama dua pekan. Negara Iran tetap berdiri, arsenal misil balistiknya belum sepenuhnya hancur, dan pengaruh strategisnya—terutama di kawasan Selat Hormuz—masih kuat.
Kekecewaan publik juga diperkuat oleh pandangan para analis. Konsultan politik Dahlia Scheindlin menilai pemerintah Israel terlalu menjanjikan hasil yang tidak realistis. “Runtuhnya rezim Iran dan penghancuran total program nuklirnya bukanlah sesuatu yang bisa dicapai dalam waktu singkat,” ujarnya.
Di dalam negeri, kritik terhadap Netanyahu datang dari berbagai spektrum politik. Pemimpin oposisi Yair Lapid menuding pemerintah telah gagal mencapai tujuan perang dan bahkan menyebut Israel kini terlalu bergantung pada keputusan Washington. Kritik serupa juga dilontarkan Yair Golan yang menyebut hasil konflik ini sebagai “kegagalan strategis besar”.
Meski demikian, tidak ada satu pun tokoh politik utama Israel yang secara terbuka mempertanyakan alasan dasar perang melawan Iran. Konsensus nasional tetap menganggap Iran sebagai ancaman utama, hanya saja metode dan hasilnya kini diperdebatkan.
Sementara itu, Israel tetap menunjukkan keselarasan dengan kebijakan Amerika Serikat. Netanyahu secara terbuka mendukung langkah Washington, termasuk blokade laut terhadap Iran, dan menegaskan bahwa koordinasi antara kedua negara berjalan erat.
Namun di balik pernyataan resmi tersebut, realitas politik menunjukkan posisi Israel tidak sepenuhnya independen. Pengamat politik Mitchell Barak menyebut kecil kemungkinan Israel mengambil langkah militer besar tanpa restu Amerika Serikat. “Israel tidak akan bergerak tanpa lampu hijau dari Washington,” katanya.
Dengan ekspektasi publik yang tinggi namun hasil yang jauh dari harapan, tekanan terhadap Netanyahu diperkirakan akan terus meningkat. Jika konflik kembali pecah, itu bukan hanya soal strategi militer, tetapi juga pertaruhan politik bagi kepemimpinan Israel di tengah krisis kepercayaan yang kian menguat.
@uli