VISI.NEWS | TASIKMALAYA – Kegiatan sosialisasi peternakan ayam broiler digelar oleh organisasi Prawita GENPPARI di Kelurahan Sukaasih, Rabu (15/4/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari program kewirausahaan masyarakat yang bertujuan meningkatkan pemahaman warga terkait peluang usaha di sektor peternakan.
Ketua Umum Prawita GENPPARI, Dede Farhan Aulawi, menyampaikan bahwa peternakan ayam broiler memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
“Peternakan ayam broiler merupakan salah satu sektor agribisnis yang memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Ayam broiler dikenal sebagai jenis ayam pedaging yang memiliki pertumbuhan cepat, efisiensi pakan tinggi, dan masa panen relatif singkat. Dalam waktu sekitar 30 hingga 40 hari, ayam broiler sudah dapat dipanen dengan bobot ideal untuk memenuhi kebutuhan pasar. Kondisi ini menjadikan usaha peternakan ayam broiler sebagai salah satu pilihan usaha yang menjanjikan bagi masyarakat “, ujar Dede dalam keterangannya yang diterima VISI.NEWS, Jumat (17/4/2026).
Kegiatan yang berlangsung di aula kelurahan tersebut turut menghadirkan praktisi peternakan ayam broiler asal Indramayu, Ahmad Syaifullah, yang memberikan pemaparan teknis terkait budidaya ayam broiler serta prospek bisnisnya.
Acara dibuka oleh perwakilan pemerintah setempat dan dihadiri aparat kelurahan, tokoh masyarakat, pengurus BUMDes atau koperasi desa, serta jajaran pengurus DPP Prawita GENPPARI.
Dalam pemaparannya, Ahmad menjelaskan berbagai aspek teknis peternakan ayam broiler, mulai dari jenis kandang hingga manajemen pemeliharaan. Ia menjelaskan perbedaan antara kandang open (konvensional) dan kandang full closed (modern) yang dilengkapi peralatan seperti exhaust blower, heater, serta pengatur suhu.
Selain itu, ia juga menguraikan pentingnya pemilihan lokasi, pola kemitraan, penggunaan DOC (day old chick), pengelolaan hasil panen, penggunaan sekam, hingga kebersihan kandang dan program vaksinasi ayam.
Menurut Ahmad, sektor peternakan ayam broiler memiliki kontribusi ekonomi yang signifikan bagi masyarakat. Usaha ini mampu menciptakan lapangan pekerjaan di berbagai lini, mulai dari penyediaan bibit, produksi pakan, tenaga kerja kandang, distribusi, hingga pengolahan hasil.
Ia juga menambahkan bahwa meningkatnya konsumsi protein hewani di masyarakat membuat permintaan daging ayam broiler cenderung stabil. Kondisi tersebut menjadikan usaha ini memiliki prospek jangka panjang yang cukup menjanjikan.
” Namun demikian, keberhasilan peternakan ayam broiler tidak terlepas dari manajemen pemeliharaan yang baik. Faktor seperti kualitas bibit, kebersihan kandang, pengaturan suhu, pemberian pakan, serta pencegahan penyakit menjadi unsur utama yang menentukan produktivitas. Ayam broiler sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan, sehingga peternak dituntut memiliki pengetahuan teknis yang memadai,” imbuhnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kesalahan dalam pengelolaan dapat berdampak besar terhadap kerugian, baik dari sisi kematian ayam maupun kualitas hasil panen.
Lebih lanjut, Ahmad menekankan pentingnya penerapan teknologi modern serta sistem peternakan berkelanjutan untuk menjaga keseimbangan antara keuntungan ekonomi dan kelestarian lingkungan.
Di akhir kegiatan, Dede Farhan Aulawi menegaskan bahwa peternakan ayam broiler tidak hanya berfungsi sebagai usaha ekonomi, tetapi juga bagian dari strategi pembangunan pedesaan dan pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat.
” Jika dikelola secara profesional, peternakan ayam broiler dapat menjadi sumber kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan,” pungkasnya. @desi