Hadir di “Jelekong Fest”, Kepala BPK IX Jawa Barat Ungkap Strategi Pelestarian Budaya

Editor Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) IX Jawa Barat, Dwi Ratna Nurhajarini. /visi.news/rizkyawan
Silahkan bagikan

VISI.NEWS | BALEENDAH – Hari Wayang Nasional menjadi sorotan Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) IX Jawa Barat, Dwi Ratna Nurhajarini. Dia mengungkapkan komitmen kuat untuk menjaga ekosistem wayang sebagai bagian dari warisan budaya dunia.

Dwi Ratna menyoroti peran BPK IX Jawa Barat dalam melibatkan berbagai agenda, termasuk dukungan untuk angklung dan gamelan. “Kami memiliki tugas fungsi untuk pelestarian barisan budaya, baik benda maupun pendamping. Hari Wayang menjadi salah satu agenda kami karena merupakan warisan budaya dunia,” ungkapnya, Senin, 13 November 2023.

Dalam upaya menjaga ekosistem wayang, Dwi Ratna menjelaskan perlunya komitmen bersama. “Ketika ini telah menjadi penetapan UNESCO, proses keberlanjutannya harus kita jaga. Kami menggandeng komunitas dan caleg sebagai tempat lahirnya inovasi untuk terus mengembangkan dan menjaga budaya ini,” tambahnya.

Dwi Ratna juga membahas strategi pemajuan kebudayaan, termasuk memaksimalkan ruang publik. “Harapannya, kegiatan yang kami gelar dapat mempersatukan banyak pihak yang komitmen terhadap pelestarian budaya,” ujarnya.

Beliau mengungkapkan kolaborasi dengan industri kreatif dan UMKM dalam acara pagelaran wayang yang digelar pada “Jelekong Fest”, Sabtu (11/11/2023). “Kami hadirkan industri kreatif sebagai dukungan ekonomi, dengan harapan tumbuhnya ekosistem yang penting untuk regenerasi budaya,” papar Dwi Ratna.

Dalam hal teknologi, Kepala BPK IX Jawa Barat berbagi kegembiraan terhadap integrasi warisan budaya dengan teknologi informasi. “Ketahanan kebudayaan juga perlu dihadapi dalam dunia digital. Kami masih eksplorasi, bahkan hingga artificial intelligence,” ujarnya optimis.

Dokumentasi

Selain itu, Dwi Ratna menyentuh pentingnya dokumentasi untuk pelestarian. “Kami bekerja sama dengan komunitas untuk mendekatkan warisan budaya dengan teknologi informasi, salah satunya melalui dongeng yang disampaikan dengan teatrikal dan animasi visualisasi,” kata Dwi Ratna.

Baca Juga :  KIPRAH: 2 Bulan Lagi Aurel Hermansyah Sudah Bisa Jalani Program Hamil

Dalam konteks pelestarian maestro wayang, Dwi Ratna mengungkapkan tantangan keberlanjutan. “Kami tengah meminta analisis dari teman-teman ahli kebudayaan untuk mengecek data karya budaya yang perlu dilestarikan,” tuturnya.

Dwi Ratna Nurhajarini mengakhiri wawancara dengan menekankan perlunya dukungan dari berbagai pihak. “Kami berharap agar pelestarian budaya ini tetap menjadi agenda bersama, karena itu adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya kita,” pungkasnya.

“Jelekong Fest”

Ketua Panitia “Jelekong Fest” Intan D Sunarya, mengatakan, kegiatan ini selain menampilkan pagelaran wayang golek juga digelar bazar produk UMKM yang ada di Kelurahan Jelekong. Sejumlah stand telah disiapkan di depan gedung padepokan yang dibanjiri penonton. Selain di area gedung, di pinggir jalan depan padepokan juga sudah ramai pedagang kaki lima.

Intan mengatakan, acara berlangsung sejak siang dan puncaknya malam ini. Pada pukul 19.00 – 19.30 WIB kata Intan diisi dengan talkshow tentang perkembangan wayang golek di Jawa Barat yang menampilkan narasumber Prof. Dr. Arthur S. Nalan dan Agus Muhram Sunarya

Kemudian pada pukul 19.30 – 20.00 WIB penyerahan piagam penghargaan kepada perwakilan para dalang dan rekan kerja yang terkait dalam acara Hari Wayang
Nasional “Jelekong Fest” oleh BPK IX Wilayah Prov. Jabar

Pada 20.00 – 21.00 WIB, kata Intan, pemutaran video profile pemutaran video profil Giri Harja dan
video profil dalang cilik dan para dalang tampil pada malam ini berupa parade dalang bihari, kiwari, baring supagi.

@uli

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Arthur S Nalan: Tahun 1934 Wayang Golek Sudah Tampil di Bengkulu dan Medan

Sen Nov 13 , 2023
Silahkan bagikanVISI.NEWS | BALEENDAH – Arthur S. Jalan mengungkapkan bahwa pada tahun 1934, pertunjukan Wayang Golek sudah hadir atau tampil di Bengkulu dan Medan. “Namun belum jelas siapa yang menjadi dalangnya. Pada dekade 1940-an, tradisi Wayang Golek pun sudah menjadi bagian pernikahan zaman dahulu yang melibatkan penggunaan raksukan wayang sebagai […]