VISI.NEWS | JAKARTA – Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, menegaskan bahwa kesiapan mental, spiritual, dan orientasi pelayanan menjadi kunci utama keberhasilan penyelenggaraan ibadah haji 1447 H/2026 M. Penegasan tersebut disampaikan dalam arahannya menjelang keberangkatan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH), Jumat (17/4/2026), di Asrama Haji Pondok Gede.
Dalam sambutannya, Wamenhaj menekankan bahwa tugas sebagai PPIH bukan sekadar menjalankan pekerjaan administratif atau teknis, melainkan bagian dari ibadah yang sarat nilai spiritual. Ia menyebut peran petugas haji sebagai misi suci yang menuntut kesadaran penuh, tanggung jawab, serta dedikasi tinggi dalam melayani jemaah.
“Kita siap menyukseskan Haji 2026. Kesiapan mental menjadi penting, termasuk kemampuan mengelola emosi, agar kekuatan fisik yang kita miliki benar-benar ditopang oleh kekuatan rohani yang siap,” ujar Dahnil.
Ia juga mengajak seluruh petugas untuk meluruskan niat keberangkatan sebagai bagian dari ibadah melalui pengabdian. Menurutnya, melayani jemaah haji adalah bentuk amal yang memiliki nilai besar, tidak hanya bagi diri sendiri tetapi juga bagi keluarga, agama, dan bangsa.
“Niatkan pelepasan ini sebagai ibadah. Kita hadir untuk memastikan jemaah dapat menjalankan rukun Islam kelima dengan baik. Ini bukan sekadar tugas negara, tetapi amanah besar yang harus dijaga,” tegasnya.
Sebanyak 363 petugas PPIH yang tergabung dalam Daerah Kerja (Daker) Madinah dan Bandara dijadwalkan berangkat menuju Bandara Internasional King Abdul Aziz. Mereka akan menjadi garda terdepan dalam menyambut, melayani, dan mendampingi jemaah haji Indonesia selama berada di Tanah Suci.
Wamenhaj menegaskan bahwa PPIH merupakan ujung tombak keberhasilan penyelenggaraan haji. Oleh karena itu, kepercayaan dan harapan masyarakat Indonesia harus dijaga dengan sebaik mungkin melalui pelayanan yang profesional dan penuh empati.
“Jemaah kita adalah mereka yang telah memenuhi istithaah dan berjuang keras untuk bisa berhaji. Semangat spiritual mereka luar biasa, dan itu menjadi amanah besar bagi kita untuk memberikan pelayanan terbaik,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti pentingnya pendekatan pelayanan yang adaptif, mengingat latar belakang jemaah haji Indonesia yang sangat beragam. Mulai dari sisi pekerjaan, pendidikan, hingga usia, seluruhnya membutuhkan pendekatan yang berbeda dan sensitif.
Berdasarkan data Pusat Data dan Informasi Kementerian Haji per 15 April 2026, profil jemaah haji Indonesia menunjukkan keragaman signifikan. Dari sisi pekerjaan, jemaah didominasi oleh ibu rumah tangga sebanyak 52.717 orang, diikuti pegawai swasta 46.462 orang, aparatur sipil negara 40.143 orang, serta petani 24.126 orang.
Sementara itu, dari sisi pendidikan, mayoritas jemaah merupakan lulusan sekolah dasar sebanyak 55.217 orang, disusul lulusan SMA/SMK 52.796 orang, dan sarjana atau S1 sebanyak 51.968 orang. Data ini menunjukkan perlunya pendekatan komunikasi dan pelayanan yang inklusif serta mudah dipahami oleh seluruh kalangan.
Dari segi usia, jemaah haji Indonesia didominasi kelompok usia 41–64 tahun dengan jumlah laki-laki 58.461 orang dan perempuan 78.955 orang. Selain itu, terdapat lebih dari 40 ribu jemaah lanjut usia di atas 65 tahun yang membutuhkan perhatian khusus dalam aspek kesehatan, mobilitas, dan kenyamanan.
Kondisi tersebut menegaskan pentingnya kesiapan PPIH dalam memberikan layanan yang responsif, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia. Pelayanan yang ramah, sabar, dan sigap menjadi faktor penting dalam mendukung kelancaran ibadah jemaah.
Menutup arahannya, Dahnil menyampaikan apresiasi atas dedikasi seluruh petugas haji yang telah bersedia mengemban tugas mulia ini. Ia berharap setiap langkah pengabdian para petugas mendapatkan ridha dari Allah SWT.
“Terima kasih atas dharma bhakti saudara-saudara semua. Semoga Allah meridhai setiap langkah pengabdian kita,” pungkasnya.
@uli